
Ting tong!
Bunyi bel menggema disebuah rumah yang cukup luas. Seorang wanita berlalu dari dapur untuk membukakan pintu. Ia yang sudah tau siapa yang bertamu, menolak saat asisten rumah tangga yang hendak membuka pintu dan memutuskan untuk dirinya sendiri yang membuka pintu besar tersebut.
Ceklek!
Pintu terbuka lebar hingga menampakan dua pria dan satu wanita didepan pintu tersebut. Wanita itu mengerenyit kala merasa familier melihat wajah pria paruh baya yang kini dihadapannya. Begitupun pria tersebut, yang seolah tengah menerka-nerka.
"De-van?" tanya wanita itu ragu.
"Rara?" tanyanya balik.
"Oh ya ampun! Kamu beneran Rara?" tanya Devan merasa tak percaya.
"Rara? Ini mbak Rara ...." Wanita disamping Devan pun tengah menebak siempunya rumah itu.
"Iya ini Rara. Anak mantan bossku dulu," jelas Devan.
"Ya ampun, mbak Rara. Apa kabar?" pekik wanita itu yang baru saja mengingat siapa wanita diahadapnnya.
Dengan cepat ia memeluk dan cipika-cipiki dengan wanita tersebut.
"Baik!" balas Rara seraya melepaskan pelukan mereka. "Kamu Ri ...." Ia ingin menyebut nama wanita dihadapnnya, namun terlihat ragu kala ia melupakan nama itu.
"Aku Rilla, mbak!" balasnya.
"Ya ampun, iya Rilla. Maaf aku lupa. Maklumlah udah tua. Udah lama juga kita gak ketemu," sesal Rara dan hanya dibalas kekehan Rilla.
"Kamu apa kabar?" tanya Devan mengulurkan tangan.
"Alhamdulillah baik," balasnya, lalu melepas jabatan tangan mereka.
"Tunggu dulu, ini?" tanyanya heran. "Nak Deril, putra kalian?" lanjutnya dengan wajah tak percaya. Dan dibalas senyum ketiga orang tersebut.
"Iya mbak. Deril putra kami," balas Rilla.
"Oh ya ampun, aku baru ngeuh. Deril, Devan Rilla, ya?" kekeh Rara hingga mereka tergelak bersama.
"Ya udah, yuk masuk-masuk!" ajak Rara mempersilahkan tamunya itu masuk.
Deril sedikit keheranan, ternyata orang tua mereka sudah saling mengenal. Namun itu terdengar sedikit melegakan. Setidaknya tak akan ada drama cinta terhalang restu, seperti yang terjadi pada Abi dan Sena dulu.
Rara menggiring ketiga tamunya menuju ruangan luas, hingga ketiganya mendaratkan bokong mereka disofa ruang tamu.
"Ya ampun aku masih gak nyangka mbak, ternyata kita dipertemukan kembali dengan cara tak terduga seperti ini," cerocos Rilla.
"Iya, aku juga," balas Rara tersenyum.
__ADS_1
"Oh iya, gimana kabarnya pak Darmawan?" tanya Devan yang mengingat mantan boss nya itu.
Rara tersenyum tipis, "Papa udah gak ada. Beliau sudah meninggal satu tahun yang lalu," balasnya.
"Inalilllahi!" pekik ketiganya serentak.
"Maaf ya, kita ikut berduka," sesal Devan yang merasa tak enak hati dan diiyakan Rara disertai anggukan.
"Oh iya, Papa nya Chika kemana? Apa belum pulang?" tanya Devan. Tak lengkap rasanya harus membahas hal penting tanpa wali dari gadis yang akan mereka pinang.
Rara kembali tersenyhm tipis. Lebih tepatnya, sebuah senyum miris yang ditampilkan wanita yang memasuki kepala empat itu.
"Ayah Chika gak disini," balasnya. Tentu saja hal itu membuat mereka mengerenyit heran.
"Kita sudah bercerai dua tahun yang lalu," sambungnya.
Sontak saja hal iu membuat ketiga orang itu kaget dan merasa tak enak hati. "Maaf," sesal Devan lagi.
"Gak apa-apa, lagian kita harus lebih terbuka 'kan?" tanya Rara dan diiyakan mereka.
"Apa Kevin udah nikah lagi?" tanya Devan.
Rara terkekeh mendengar pertanyaan itu. "Bukan, Ayahnya Chika bukan Kevin," selaknya yang membuat Devan melongo. Apa ia salah lagi? Pikirnya.
"Ayahnya Chika dokter. Beliau dokter spesialis juga," jelas Rara dan dibalas 'oh ria' oleh mereka. "Beliau juga sudah menikah lagi. Sudah memiliki putra," lanjutnya.
"Selamat malam semuanya,"
Sapaan seseorang mengalihkan atensi mereka, sorang gadis berbalutkan dress berwarna peach dengan rambut tergerai menghampiri mereka. Ia menyalimi takzim tangan Devan dan Rilla bergantian. Deril tersenyum melihat pujaannya yang tampak cantik malam ini.
Chika duduk disebelah sang bunda, dengan menundukan kepala. Penampilan Deril sungguh membuat gadis itu tersipu malu. Pria itu terlihat cool dan tampan dimataya.
"Ya ampun, calon mantu mama. Cantik sekali," celetuk Rilla memuji.
"Makasih tante," balas Chika tersenyum malu.
"Eh, jangan tante dong. Sekarang harus panggilnya mama!" titah ibu yang terlihat lebih muda itu. Chika hanya tersenyum malu mengiyakan.
"Jadi, kita langsung aja ke intinya ya!" Devan memulai pembicaraan dan disetujui mereka.
"Kedatangan kami kesini ingin meminang Chika untuk menjadi istrinya Deril. Bagaimana Ra. Eh kek kurang sopan ya?" kekeh Deril hingga mereka ikut tertawa kecil.
"Bunda Rara, kek nya lebih sopan ya?" kekehnya lagi. "Gimana Bun?"
"Aku sih terserah Chika nya saja. Hanya saja apa ini tdak terlalu cepat? Maksudnya Chika 'kan baru lulus." jelas Rara.
"Apa gak apa-apa mereka menikah, tapi sambil kuliah?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Kalo menurut aku sih ya. Ini lebih baik dari pada mereka pacaran nikahnya nanti. Mening pacarannya setelah nikah aja. Lebih aman 'kan?" saran Rilla.
Rara terkekeh mendengar itu. Tentu saja sebagai orang tua ia pun merasakan hal yang sama. Kekhawatiran akan putri satu-satunya terkadang membuat ia begitu posesif dan sedikit tegas pada sang putri.
"Baiklah gimana benarnya saja," final Rara.
"Gimana, Nak Chika? Apa kamu bersedia untuk menikah sama Deril?" tanya Devan memastikan.
"Emm ...." Chika terdiam sejenak. Membuat suasana mendadak hening dengan wajah harap-harap cemas.
"Iya, aku bersedia," balasnya mengangguk malu dengan wajah masih tertunduk.
"Syukurlah," akhirnya semua orang merasakan lega.
Kini mereka sudah menyepakati acara pernikahan yang akan diadakan dua minggu kemudian, sesuai keinginan Deril yang tak mau menunda-nunda lagi niat baik tersebut. Setelah perbincangan dirasa cukup, mereka pun memutuslan untuk makan malam bersama.
**
"Ya udah, kakak pulang dulu ya," pamit Deril ketika sejoli itu tengah duduk santai digazebo samping rumah.
Chika mengerenyit heran, kala tiba-tiba Deril yang selalu menyematkan kata 'aku' untuk dirinya berubah menjadi 'kakak'.
"Kakak?" tanyanya.
"Kenapa?" goda Deril dan hanya dibalas senyum oleh Chika.
Deril pun berdiri diikuti Chika pula. Ia mengusek rambut sang gadis dengan gemas. "Ya udah, pulang dulu ya!" pamitnya lagi dan diangguki Chika.
Ia menunduk mendekatkan wajahnya. "Selamat malam ... Calon istri,"
Blush!
Chika menggigit bibir bawahnya menahan pipinya yang merona. "Malam," balasnya.
Deril yang merasa gereget dengan bibir yang digigit itu, auto ingin menggigitnya juga. Satu tangannya menarik tengkuk gadis itu hingga tatapan Chika mengarah padanya. Deril meraup bibir basah yang sempat digigit itu.
Mereka hanyut dalam ciuman lembut itu, bahkan Chika sudah bisa menyeimbangi gerakan bibir yang diberikan Deril. Hingga mereka pun saling melepaskan dengan napas terengah-engah. Senyum terukir dari kedua insan yang dimabuk cinta itu.
"Rumah pak ustadz sebelah mana?" celetuk Deril.
"Pak ustadz? Mau ngapain?" tanya Chika heran.
"Mau nginep disini."
\*\*\*\*\*\*
Ada yang ingat siapa Rara? Yang lupa, yuk buka lagi novel bang Ar sama neng Ayra🙈 (Mak othor juga buka lagi, lupa oyy🤣) Dunia pernovelan memang sempit yaaa🤣 Yuk ramaikan kolom komentarnya. Jejaknya jangan lupa yaa😘
__ADS_1