
**
"Jadi siapa yang akan jaga malam ini, menemani pak Rahmat?" tanya Rizky melirik seluruh penghuni kafe yang sudah sepi pengunjung itu.
Semua karyawan terdiam tak ada yang menjawab. Sepertinya mereka sudah lelah untuk bisa berjaga malam ini.
"Kalian pulanglah!" titah Abi.
"Tapi boss-" Andi hendak berkomentar merasa tak tega jika sang boss yang harus berjaga.
"Udah gak apa-apa. Kalian pasti cape, biar kami aja yang jaga," selak Sena.
"Heleh, jaga ya? Bukan ...." goda Rizky.
"Hissh dasar otak mesum lu," Sena menendang tulang kering pria disampingnya hingga ia meringis kesakitan.
Tentu saja hal itu membuat penghuni disana tergelak. Seharian melihat tingkah kedua sahabat itu, mereka sudah tak asing lagi melihatnya. Umpatan dan ledekan ternyata sudah biasa dilayangkan dari mereka.
Satu persatu para karyawan meninggalkan kafe. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tepat satu jam sebelumnya, kafe itu tutup dan menyisakan karyawan yang bersih-bersih terlebih dahulu. Kini tinggalah sepasang manusia itu didalam kafe. Abi meminta pak Rahmat untuk pulang. Mengingat anaknya yang masih kurang sehat, membuat pasangan itu khawatir jika pria paruh baya itu meninggalkannya.
"Apa semua sudah dikunci?" tanya Sena yang kini tengah duduk disebuah sofa panjang dengan kain putih menyelimuti tubuhnya.
Meski ia sudah mengenakan hoodie tebal, namun tetap saja hawa dingin begitu menusuk hingga tulang. Hingga tutup kepala sudah bertengger pun tak dapat menghangatkan tubuhnya.
"Hem, udah," balas Abi seraya mendaratkan bokong disamping sang istri. "Apa kamu kedinginan?" tanyanya seraya merapihkan anak rambut yang menghalangi wajahnya.
"He'em. Dingin banget," balas Sena seraya memeluk tubuh tegap itu.
Abi menmablas mendekap seraya mengusap rambutnya. "Harusnya tadi kamu pulang aja,"
Seketika Sena mendongak dan berdecak kesal. "Terus ninggalin kamu disini sendiri? Kamu pikir aku istri apaan?" gerutunya.
Abi menarik satu sudut bibirnya seraya mendekapnya erat. "Aku tau, kamu gak ingin jauh 'kan dari dekapanku ini?" goda Abi.
"Ya iyalah, setelah sekian lama setiap hariku memimpikan ini. Berdua bersamamu disepanjang waktu, dalam keadaan apapun," balas Sena.
"Apa kamu ingat?" tanya Sena mendongakan kepala.
"Hem, apa?" tanya balik Abi menatap wajah cantik itu.
"Kita pernah berjanji untuk masuk fakultas yang sama. Kerja di gedung yang sama. Berangkat bersama. Pokoknya apa-apa bersama. Inget gak?" tanya Sena memastikan.
__ADS_1
Lengkung manis dari bibir Abi terukir. "Tentu! Hal yang gak akan pernah kulupakan seumur hidupku," balasnya seraya mencubit gemas hidung mancung sang istri.
"Ahh! So sweet. Suami siapa sih ini, sweet banget. Pengen cium deh," ucap Sena mencubit gemas kedua pipi Abi dan benar mengecup bibir sexy itu.
Baru saja Sena melepaskan kecupan itu, tiba-tiba saja Abi meraih tengkuk istrinya, lalu menyambar bibir ranum itu dengan rakus. Menyecapnya dalam hingga keduanya hanyut dalam ciuman itu. Decapan kian merdu diruangam luas itu.
Perlahan namun pasti, Abi merebahkan tubuh ramping itu hingga ia mengukunngnya. Tangan nakalnya mulai bergeliyara masuk kedalam baju yang dikenakan Sena. Membelai kulit mulus itu hingga menumbuhkan bulu halus yang meremang disekujur tubuhnya.
Bibir Abi mulai berjalan menyusuri ceruk yang selalu membuatnya candu itu. Hingga suara lengu han Sena mulai terdengar dan sukses membangunkan si jack dibawah sana.
Tangan Abi menyusup ke dalam kain bawah yang dikenakan sang istri, hendak menyapa si nona yang kemungkinan sudah berdenyut. Belum juga tangan itu sampai dilembah rimbun, tiba-tiba saja ia menghentikan aksinya.
Tentu saja hal itu membuat Sena yang sudah siap menerima jamahan tangan suaminya itu, berkomentar. "Kenapa?" tanyanya heran.
"Suuutt!!!"
Jari telunjuk Abi menempel dibibir ranum Sena. Hingga perempuan itu mengikuti perintah suaminya. Hening! Keduanya terdiam, mendengar samar-samar suara dari luar sana. Abi perlahan bangkit dari tubuh sang istri seraya memberi kode untuk Sena diam dan tak mengikutinya.
Pria tampan itu mendekat kearah jendela, melihat suasana dibawah dari balik gorden diruangan khusus bersantai, yang berada dilantai dua itu. Terlihat dua orang pria tengah berdiskusi ditepi jalan tepat memasuki area kafe.
"Siapa?"
"Apa itu malingnya?" tanya Sena berbisik.
Abi menggelengkan kepala. "Entahlah! Tapi kita perlu mengawasinya," balasnya.
"Eh itu kek nya beda sama yang di cctv ya? Mereka masih terlihat masih muda?" tanya Sena lagi dan diiyakan Abi.
"Apa cctv ada yang mengarah kesitu?" tanya Sena lagi menunjuk tepat kedua manusia disana.
Seketika Abi mengerti maksud dari sang istri, "tunggu disini!" titahnya dan diangguki Sena.
Abi pun berlenggang menuju tangga turun kebawah untuk mengambil barang yang dibutuhkan, sedangkan Sena masih stay didekat jendela tersebut memperhatikan kedua pria itu.
"Ya ampun!" Sena kaget kala salah satu dari mereka melihat dirinya. Bahkan ia melihat jelas wajah pria yang sepertinya sebaya dengan suaminya itu.
"Apa dia melihatku?" tanyanya bermonolog sendiri. "Smoga saja nggak," lanjutnya.
Terlalu penaaaran Sena melirik lagi sekilas kearah mereka. "Hufh~ sepertinya dia gak melihatku," ucapnya seraya memegang dada karena terlalu kaget.
"Ada apa?" tanya Abi yang semakin membuat Sena terlonjak. Sena segera mendekat kearah Abi yang sudah mendudukan diri di sofa tadi.
__ADS_1
"Hampir saja, mereka melihatku, Bi," keluh Sena.
"Oh ya?" tanya Abi dengan tangan mulai membuka laptop yang ia ambil dari ruang kerjanya tadi.
"Iya, bahkan aku lihat jelas wajahnya," balas Sena.
"Apa dia tampan?" goda Abi.
"Ishh kau ini," Sena memukul bahu Abi yang membuat pria tampan itu terkekeh.
"Iya dia tampan. Tapi gak setampan my owl ku ini," ucapnya mencium rahang suaminya itu.
Abi hanya tersenyum seraya mengusek pucuk kepala Sena. Kemudian ia kembali menyambungkan cctv pada layar itu. Sena ikut fokus pada layar tesebut, hingga nampak dua orang ditempat yang sama tengah berjongkok ditempat itu.
"Sebenarnya, mereka lagi ngapain? Mungkinkah lagi ngawasin kafe ini?" tanya Sena heran.
"Entahlah! Sepertinya mereka tengah menunggu seseorang," balas Abi.
Huaapphh
Sena menguap kala tak ada apapun yang dapat ia lakukan. Terlebih waktu sudah menunjukan jam sebelas lewat sepuluh menit. Sudah waktunya ia mengarungi dermaga mimpi. Abi yang mengerti menepuk pahanya, agar Sena mau merebahkan diri dipahanya.
"Tidurlah!" titahnya.
"Tapi kamu sendiri?" tanya Sena.
"Gak apa-apa, tidurlah! Setelah mereka pergi, aku akan menyusul," balasnya dan diangguki Sena yang sudah tak sanggup lagi membuka matanya.
Sena pun merebahkan diri, dengan posisi kepala diatas paha Abi. Kemudian pria itu membantu menyelimuti tubuh ramping sang istri dan mencium keningnya dalam.
"Good night my owl!" ucap Sena pada sang suami.
"Good night my lovely!" balas Abi.
Tak membutuhkan waktu lama, napas teratur terdengar dari bibir sang istri. Namun Abi masih memperhatikan layar persegi itu. Hingga tak berselang lama, mereka pun pergi begitu saja dari posisinya.
"Sebenarnya siapa mereka? Apa yang mereka inginkan?"
\*\*\*\*\*\*
Jejaknya gaisss jangan lupa yaaa!! πππ
__ADS_1