Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Kuda besi


__ADS_3

Pagi begitu cerah, secerah hati sepasang pengantin baru yang tengah bersiap untuk berangkat kuliah. Pasangan baru itu terpaksa menunda honeymoon mereka karena kesibukan tugas kuliah. Namun semua itu tidak menjadi masalah untuk sepasangan pengantin baru ini. Dimanapun mereka berada, asal bersama tak ada alasan untuk tak melalukan kegiatan honeymoon mereka.


"Kita berangkat, Ma!" pamitnya pada sang mama setelah mereka selesai sarapan.


Sejoli itu menyalimi takzim tangan wanita yang masih terlihat cantik diusianya itu sebelum akhirnya berlenggang pergi.


"Hati-hati ya!" pesan mama Ay dan diiyakan Sena.


Kebetulan papa Ar dan aka Sha sudah berangkat lebih pagi, hingga tinggal sejoli itu saja yang belum berangkat.


"Yakin mau naik motor?" tanya Abi. Ketika mereka sudah siap digarasi.


"Yakin lah ...." balas Sena mantap. "Biar bisa meluk kamu," kekehnya hingga dapat usekan dipucuk kepala dari suaminya itu.


Akhirnya sejoli itu memutuskan membawa si black, kuda besi kesayangan Abi. Seperti biasa Abi akan mengenakan helm terlebih dahulu pada sang istri, sebelum menaiki motor tersebut. Setelah dirasa siap, kuda besi itupun keluar dan melesat membelah jalan raya.


**


Ckittt!!


Motor berhenti kala lampu merah menahan laju jalan kendaraan mereka. Kuda besi yang kedua insan itu tumpangi berhenti paling depan. Sena tak melepaskan barang sedikitpun pelukan pada tubuh tegap suaminya.


"Ciee manten!"


Sontak saja Sena menoleh mendengar ledekan seseorang. Senyum terbit kala mengetahui siapa yang kini tepat berada disampingnya. Seorang gadis diatas kuda besi merah lengkap dengan jaket kulit dan helm full face yang dibuka, hingga menampakan wajah cantik dari balik helm tersebut.


"Hai, Jinjin!" sapa Sena tanpa melepskan pelukannya.


"Ck! So manis lu. Lepas napa tuh pelukan?" Bukan Jingga tapi sahabat lelaki dari belakang mereka.


"Idihh, sirik aja lu. Makanya punya ayang sana!" ledek Sena menjulurkan lidahnya dan dibalas cebikan bibir oleh lelaki itu.


"Tuh bener Ki, punya ayang!" ledek Deril dari samping Rizky.


Ternyata para remaja itu, semua mengendarai motor hari ini. Deril yang biasa membawa mobil, juga ikut-ikutan mengendarai motor karena paksaan dari sahabatnya.


"Heleh, kek lu punya aja, jomblo juga 'kan?" ledek balik Rizky.


"Sesama jomblo diem, gak usah saling ledek," balas Sena yang ikut meledek, hingga ia tergelak. Jingga dan Deril ikut tergelak mendapati Rizky yang selalu jadi incaran ledekan mereka.


"Diem, berisik lu pada!" sungut seseorang dari samping Jingga, yang baru bersuara.


"Idihh sensi amat. Datang bulan ya, kak Sha?" ledek Sena. Hingga Deril dan Rizky tergelak kembali. Berbeda dengan Jingga, gadis itu hanya terdiam. Bahkan segera melesat mendahului tanpa kata apapun, setelah lampu kembali hijau.

__ADS_1


"Set dah, tuh anak. Ngeri gue, udah kek lakik," celetuk Rizky bergidik ngeri, kala melihat motor Jingga melesat dengan kecepatan tinggi.


Disusul Shaka yang melakukan hal yang sama. Lalu sepasang pengantin itu yang melesat dengan kecepatan standar. Berbeda dengan ketiga motor itu, Rizky dan Deril masih terdiam belum menyalakan mesin mereka.


"Maklum Jinjin 'kan gadis tangguh," kekeh Deril.


Ruzky mengangguk mengiyakan, memanglah sahabatnya yang satu itu seratus delapan puluh derajat jauh berbeda dengan Sena. Bisa dibilang kedua gadis itu dua sipat bertolak belakang.


"Ini kita langsung ke sekolah apa ke kampus dulu?" tanya Rizky.


"Aku dapat pesan langsung kesekolah aja," sahut Deril.


"Jadi sekolah nih, ya?" tanya Rizky memastikan dan diiyakan Deril.


Ditengah perundingan dua lekaki tampan itu, suara klakson mobil dari belakang, bahkan teguranpun didapati kedua orang tersebut. Akhirnya kedua motor itu pun melesat menuju jalan berbeda dengan yang ketiga motor tadi lalui.


Tak membutuhkan waktu lama kedua kuda besi itu sampai diparkiran sekolah menengah atas. Deril dengan Rizky yang mendapat undangan dari kepala sekolah dimana mereka sekolah dulu, untuk menghadiri acara pertandingan basket. Sebagai mantan kapten basket, tentu Deril mendapat undangan itu. Begitupun Rizky, sebagai salah satu anggota juga, ia dipercaya sebagai perwakilan tim basket mereka.


Baru saja kedua orang itu hendak berjalan, suasana tiba-tiba meriuh kala para gadis hendak menghampiri mereka.


"Cabut!" Dengan cepat Rizky berlari mendahului Deril.


"Eehh tungguin gue!" Deril ikut menyusul Rizky dengan langkah cepat untuk mengindari kejaran mereka.


Grepp!!


seseorang menarik tangan pria tersebut kebelakang sebuah lemari, seorang siswi yang sepertinya ia kenali tengah celingukan melihat para gadis yang melewati mereka.


"Dah. Aman!" ucap gadis itu tersenyum menampilkan gigi ginsulnya. Bahkan gadis itu lupa melepas pegangan tangannya.


"Hai kak Deril, masih ingat aku 'kan?" tanyanya.


Deril menarik satu sudut bibirnya, tentu saja ia ingat. Bahkan karena gadis itu, ia menjadi trending topik dikampus kala sang gadis memposting foto mereka waktu itu.


"Dari ekspresinya, kakak masih ingat ya," goda gadis itu.


"Kamu ngapain bawa aku kesini?" tanya Deril, seraya melirik pegangan tangan mereka. Gadis itu juga melakukan hal yang sama, hingga ia tersadar dan segera melepaskan pegannya.


"Eh maaf!" sesal gadis itu kikuk.


"Aku 'kan nyelamatin kakak," sahutnya mengalihkan perhatian. "Eh, bukan itu sih. Aku disuruh pak Dadan untuk menyambut kakak keruangannya," lanjutnya cengengesan. Ia baru mengingat tujuan utamanya menyapa idolanya itu.


Deril mengangguk, "Makasih!" ucapnya tersenyum dan dibalas senyum pula oleh gadis itu disertai anggukan kepala.

__ADS_1


"Ya udah, aku keruangan pak Dadan dulu," pamit Deril, ia berbalik hendak berjalan.


Gadis itu hendak berucap, namun ia urungkan. Namun tiba-tiba saja Deril kembali berbalik dan bertanya, "namamu siapa? Maaf, aku lupa,"


"Aku? Aku Chika kak. C-H-I-K-A," balas gadis itu tersenyum seraya mengeja namanya sendiri.


Deril kembali tersenyum, "Oke Chika! Aku akan mengingatnya," balas Deril, kemudian berlenggang meninggalkan sang gadis yang mematung ditempatnya.


"OMG! Lututku," gumam gadis itu kala merasakan lututnya bergetar hebat.


Sungguh mendapati senyuman maut itu, membuat gadis itu hampir kehilangan kesadaran. Ia benar-benar memegang lututnya yang hampir saja roboh, hingga tepukan dipundak membuat ia terlonjak kaget.


"Woy! Ngapain disini?" tanya salah seorang temannya.


"Anj*r! Bikin kaget aja lu," pekik Chika seraya memegang dadanya.


"Lagian lu malah diem disini. Yok, buruan ke lapangan, bentar lagi kak Deril sama kak Rizky tampil. Kita gak boleh nyia-nyiain kesempatan ini," cerocos gadis itu disertai tawa.


"Iya, iya. Bawel lu!" balas Chika seraya merangkul pundak temannya itu, lalu menyeretnya pergi menuju lapangan.


**


Sementara itu, dilain tempat kuda besi berwarna merah sampai diparkiran kampus. Jingga membuka helmnya, sebelum turun dari benda kesayangannya itu.


"Hai beb?" sapa seorang lelaki yang membuat bola mata gadis itu bergulir malas.


Jingga tak menanggapi, ia memilih untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Terlalu malas untuk gadis itu berhadapan dengan lelaki banci seperti mantan pacarnya itu.


"Ehh, tunggu dulu!" cegat lelaki itu mencekal pergelangan tangan Jingga.


Jingga menatap cekalan itu dengan tatapan datar. "Lepas!"


Lelaki itu menggelengkan kepala, "apa Shaka masih membencimu?" tanyanya. "Aku harap dia akan tetap membencimu. Dan kau kembalilah padaku!" lanjutnya.


"Cih! Naj*s," desis Jingga menatap jijik.


"Ayolah, Jin. Berhenti mencintai orang bodoh seperti Shaka. Dia terlalu naif, dia hanya percaya dengan apa yang dia lihat tanpa mempercayai hatimu!"


Bugh!!!


. ******


Maaf ya gaisss, ini harusnya up malam. Eh mak othor malah ketiduran yaa, untung aja ini naskah gak ilang😂 tinggal nambah dikit.. Yuk jejaknya jangan lupa yaa🤗

__ADS_1


__ADS_2