Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Malam pertama


__ADS_3

"Senyum, Bi!" Bisik Sena pada pria yang beberapa jam yang lalu sudah sah menjadi suaminya.


Abi mengangkat kedua ujung bibirnya begitu kaku, hingga tak terlihat senyum sama sekali. Hal itu tentu saja membuat sang istri menepuk jidatnya sendiri.


"Ya ampun!"


"Susah bener sih disuruh senyum, tinggal gini aja. Nih, nih!" gerutu Sena dengan mempraktekan tata cara senyum yang lebar dan manis. Satu tarikan disudut bibir Abi terlihat, kecil dan tentunya tak dapat dilihat orang lain.


"Ck! Masih gak mau senyum. Biasanya 'kan kalo lagi berdua suka senyum." gerutunya.


"Ini gak berdua," balas Abi.


"Ini kita berdua, Bi." protes Sena menunjuk dirinya dan sang suami bergantian.


Abi menggerakan dagunya kedepan, "banyak orang," timpalnya.


"Astaga, ya iyalah disini banyak orang ini 'kan lagi acara, kamu tuh!" protes Sena lagi tak habis pikir dengan suaminya itu.


"Ya udah kita ganti acaranya yang gak usah banyak orang," balas Abi.


Dahi Sena berkerut tak mengerti, "acara apa?" tanyanya heran.


Abi mendekat kearah telinga Sena, lalu berbisik. "Acara malam pertama."


Blush!


Seketika wajah Sena memerah, merasakan hawa sekitar yang tiba-tiba saja memanas. Otaknya dengan cepat menanggap apa maksud sang suami. Ia menundukan wajahnya sejenak sebelum akhirnya melayangkan pukulan pada bahu Abi.


"Isshh, paan sih!" sergah Sena, yang kemudian mengembang kempiskan pipinya dengan tangan dibuat mengibas-ibas wajahnya.


Abi terkekeeh pelan melihat tanggapan itu. Tanpa Sena tahu, jantungnya berdebar kala mengucapkan itu. 'Malam pertama' gumamnya dalam hati.


Ditengah kesibukan sepasang pengantin yang terlihat begitu serasi itu, seorang lelaki dipojok ruangan tengah menatap seorang gadis yang tengah mengobrol dengan dua orang temannya. Ingin sekali ia menyapa gadis yang sudah menjadi mantannya itu. Namun ego tinggi menolak kata hatinya.


"Udah, samperin gih!" Tepukan dibahu dari sahabatnya, sukses membuat ia terkesiap.


Kemudian ia berdecak kesal, kala tahu siapa yang membuyarkan konsentrasinya. "Ck! So tahu," elaknya.


"Cih! Emang gue tau," kekehnya. "Menurut gue ya, Sha. Lu harus cepat bergerak. Kalo nggak, gue jamin lu bakal nyesel seumur hidup," nasehatnya.


"Ck! Paan sih, gue bisa move on! Dan gue bisa cari yang lebih baik dari dia," balas Shaka dengan sengit. Kalo saja hatinya dapat terlihat, sudah dipastikan semua orang akan melihat antara hati dan mulutnya yang tidak sinkron sama sekali.


"Aisshh, move on ya?" ledek sahabtanya itu. "Ya udah, kalo gitu biar gue aja yang deketin Jinjin." celetuknya.


Tampolan Shaka pun melayang dan tepat mengenai kepala sahabatnya itu. "Ck! Sialan lu Der, gak bisa gitu lah!" protesnya.

__ADS_1


Seketika tawa Deril pun pecah. Sudah dapat ia tebak, sahabatnya itu masih belum move on dari sang mantan. Bahkan mungkin gak akan bisa move on, hanya saja terlalu sulit untuk pria berego tinggi itu mengakui isi hatinya.


"Sha! Sha!" Deril masih dengan tawanya seraya menepuk bahu sahabatnya itu. Tentu saja hal itu membuat Shaka mendengus kesal.


"Eh, tuh lu lihat. Ada cowok yang deketin!" tunjuk Deril dengan dagu, setelah ia menghentikan tawanya.


Shaka melihat kearah yang ditunjuk Deril tersebut, dan benar saja seorang lelaki tengah mengajak Jingga mengobrol. Meski itu bersama Kia dan Rizky, tetap saja membuat darah lelaki tampan itu mendidih. Kulit wajah yang putih, seketika memerah dengan rahang mengeras. Terdengar gemertak gigi yang disertai tatapan elangnya yang menajam.


"Breng s*k!" umpatnya pelan.


"Udah sana buruan, keburu kepepet itu!" titah Deril menepuk bahunya. Tanpa mendengar lagi ledekan Deril, akhirnya Shaka berlenggang menuju tempat dimana sang pujaan berada.


"Dasa emang. Greget juga lama-lama, pengen gue tendang tuh egonya," kekeh Deril seraya memperhatikan punggung sahabatnya itu yang semakin menjauh.


"Setidaknya, lu memperjuangkan orang yang tepat, Sha!" gumamnya dalam hati.


**


"Ayo ikut!"


Jingga terlonjak kaget kala tiba-tiba saja pergelangan tangannya dicekal oleh seorang lelaki yang diketahui mantannya itu.


"Apaan sih, Sha?" tanyanya bingung. Tanpa menjawab, Shaka menyeret tangan Jingga menjauh dari tempat itu.


"Sha!"


Teriak Rizky dan Kia bersamaan. Mereka dibuat bingung dengan kelakuan Shaka yang tiba-tiba saja aneh menurut mereka. Pasalnya, setelah mereka memilih mengakhiri hubungan, Shaka lah yang selalu menghindar dari Jingga. Dan sekarang, tentu saja kelakuan Shaka menyisakan banyak tanda tanya dibenak dua orang itu.


"Eh, aku kesana dulu ya!" pamit lelaki yang tadi ikut mengobrol dengan mereka dan diiyakan kedua orang itu.


"Kak Sha kenapa sih, aneh banget deh?" tanya Kia dengan sedikit kesal pada saudaranya itu.


"Emang. Heran gue sama tuh orang, egonya itu tinggi bener. Kalo masih cinta mah ngomong aja perjuangin. Tuh kek Abi. Lah ini malah so so an menghindar." cerocos Rizky menggelengkan kepala.


"Isshh kak Iky ini, ngomongnya nyerocos mulu udah kek kak Sen." ledek Kia terkekeh.


"Ck! Ini mah udah bawaan dari orok, Kiy," protes Rizky tak terima, hingga membuat Kia tertawa.


"Oh iya kak. Berarti cinta itu harus diperjuangin, ya?" tanya Kia antusias.


"Ya iyalah. Kalo lu menginginkan cinta lu harus mau memperjuangkannya," sahut Rizky yang terdengar begitu bijak. Padahal ia sendiri belum pernah merasakan itu.


"Oh gitu, oke deh. Aku juga mau perjuangin cintaku sama om Rei." celetuk gadis itu dengan semangat.


"Hah??!" Rizky yang belum paham tentu terperangah.

__ADS_1


"Doain aku ya, kak Iky. Smoga cintaku terbalaskan oleh om Rei. Sekarang aku mau mulai berjuang," lanjut gadis itu begitu heboh seraya menepuk bahu pria yang lebih jangkung darinya itu.


"Itu orangnya, aku pergi dulu. Bye kak Iky!" pamitnya seraya berlenggang begitu saja.


Rizky menganga menatap kepergian gadis itu. "Asyem emang, semua pada ninggalin gue!" gerutu pria tampan yang sayang masih doyan ngejomblo itu, kemudian ia juga berlalu dari posisinya untuk mencari lawan bicara yang mau diajak ngobrol. Emang ya, nasib jomblo!


**


Dihalaman belakang...


Shaka sampai ditempat itu bersama gadis yang diakui mantan kekasihnya itu. Jingga dengan cepat menghempas kasar tangan yang dicekal Shaka.


Sontak saja, Shaka meghentikan laju langkahnya dan menoleh sektika. Kedua mata itu saling bersitatap tajam, dengan raut wajah sama-sama datar. Seketika hawa begitu mencekam untuk siapa saja yang ada disana. Beruntung ditempat itu hanya ada sepasang manusia itu.


Hening!


Tak ada suara apapun dari keduanya, hingga Jingga memutus tatapan itu terlebih dahulu dan hendak berlalu. Namun Shaka kembali mencekal pergelangan tangan gadis itu.


Jingga kembali menatap Shaka tanpa melepaskan cekalannya. "Apa yang kamu inginkan?" tanyanya datar.


Bukan menjawab, satu tangan Shaka justru meraih tengkuk sang gadis dan menyambar bibir ranum itu. Menyecap lembut bibir yang sudah lama ia rindukan. Matanya terpejam menyalurkan rasa cinta yang sama sekali tak bisa ia ubah.


Jingga mematung dengan mata membelakak, ia tak menyangka sang mantan akan berbuat seperti itu. Jangankan perlakuan itu, menyapa atau menatap pun tak pernah dilakukan Shaka padanya setelah kejadian itu.


Jingga mendorong tubuh Shaka hingga lelaki itu melepaskan pagutan bibir dan cekalan tangannya.


Plakk!!!


Satu tamparan keras dilayangkan Jingga pada lelaki itu, Shaka hanya memejamkan mata merasakan sakit dipipi yang ternyata juga terasa sakit dihati.


"Aku bukan persinggahan yang bisa kamu datangi sesuka hati."


\*\*\*\*\*\*


**Ada yang kena prank🙈🤣🤣


Maaf yaa gaiss, ini judulnya aku ganti🙏 entun lagi baperan, kudu ganti judul🤧 Gak papa yaa, masih sesuai alur cerita kok**.



Si ego tinggi, aka Shaka😘



Si tangguh, Jinjin😘

__ADS_1


__ADS_2