Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Hanya milikmu


__ADS_3

"What???"


"Gak usah ngarang deh," elak Renata tak percaya, tangannya hendak kembali menggandeng lengan Abi.


Namun dengan cepat, Sena kembali menepis kasar tangan gadis itu. "Jangan pegang-pegang!" peringatnya.


"Lu tu ya?" tunjuk Renata pada wajah Sena dengan kekesalannya. "Lu harusnya sadar, bentar lagi lu bakal nikah sama Deril. Jadi biarin Abi sama gue."


Gadis itu hendak kembali meraih lengan Abi, namun pria itu segera menepisnya. "Jangan sentuh gue!" peringatnya dengan tatapan tajam mengarah pada gadis itu.


"Bi ...!!" cicit Renata dengan raut wajah ketakutan. Sungguh tatapan tajam Abi membuat nyali gadis itu menciut.


"Pergi dan jangan ganggu gue!" lanjut Abi masih dengan nada yang sama.


"Tapi, Bi-" Gadis itu hendak kembali berucap, namun suara Abi kembali menyelak.


"Lu yang pergi, atau kita yang akan pergi?" tawar Abi.


Mata sang gadis terlihat berkaca mendengar ucapan Abi yang menghunus tajam kedasar hatinya. Belum juga gadis itu menjawab, Abi berlenggang begitu saja dari tempat itu dengan Sena yang menggandeng lengannya.


"Bi ... Abi!!!" pekik Rena, teriakannya sama sekali tak didengar oleh pria tampan itu.


"Isshh ngeselin deh!" gerutunya kesal, seraya menghentakan kaki dilantai.


"Apa maksudnya coba?" tanyanya dengan wajah bingung kala ia mengingat kembali ucapan Sena yang mengatakan Abi calon suaminya.


"Abi kenapa sih gak pernah manis sama gue?" gumamnya bertanya-tanya.


Namun ditengah kebingungan itu, Ia mengingat kembali tujuan utamanya menyambangi tempat itu. Ia harus segera mengambil barang pesanan sang mama untuk wanita yang diklaim sebagai calon besannya.

__ADS_1


"Dah lah biarin, yang penting mommy Sa, berpihak ke gue." ucapnya cekikikan, kemudian segera menanyakan sesuatu pada petugas disana.


Sepertinya gadis itu tidak terlalu ngeuh dengan ucapan Sena. Ia hanya menganggap semua yang diucapkan rivalnya itu hanya untuk memanasinya saja. Ia yang pernah mendapat sinyal hijau dari ibu sang pujaan, tentu sudah terlampau percaya diri. Gadis itu berpikir pertemanan sang mama dan mommy Sa, akan mempermudah rencanya untuk mendapatkan Abi.


**


"Isshh ngeselin banget tuh cewek. So kecantikan, kegatelan." gerutu Sena seraya mendaratkan bokong disebuah kursi taman yang diikuti Abi pula disampingnya.


Abi tersenyum tipis, mendengar gerutuan Sena yang tak berkesudahan. Dari semenjak meningggalkan tempat tadi, gadis itu tak berhenti menggerutu bahkan mengumpat kesal pada gadis yang selalu mencari perhatian pada dirinya itu. Tangan Abi pun terulur mengusek pucuk kepalanya gemas.


"Isshh kamu tuh aku lagi kesel juga," omelnya. "Lagian ya, kenapa kamu gak bilang sama cewek ganjen itu kalo kamu calom suami aku. Dia 'kan jadi seenaknya sama kamu, terus-terusan nganggep kamu pacarnya lagi. Ihh ngeselin," cerocos Sena panjang kali lebar. Dan hal itu membuat Abi tertawa kecil.


"Isshh kok malah ketawa sih," protes Sena seraya memukul gemas lengan pria itu.


"Dah ah, aku pulang aja!" Terlanjur kesal, Sena bangkit dan hendak berlenggang pergi. Namun tangan Abi berhasil menghentikan pergerakan Sena, hingga Ia terjatuh dan duduk dipangkuan Abi.


Deg!


Abi melepaskan tautan mereka dengan senyuman manis yang jarang sekali ia tunjukan. Tangannya yang bertengger ditengkuk Sena, perlahan bergerak maju membelai pipi cantik itu dengan ibu jarinya dibiarkan untuk menghapus kebasah dibibir ranum itu.


"Tanpa harus ku ucapkan, kenyataan tetap menjelaskan. Jika aku hanya milikmu." papar Abi.


"Beribu kata yang dia ucapkan, takan mengubah apapun. Karena hanya kamulah milikku." lanjutnya.


Blush


Sena menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah pada dada Abi. Entah sejak kapan sang kekasih berubah begitu puitis. Entah karena ia tak menyadari itu, atau memang ini baru terjadi pada pria berjulukan kulkas yang berubah hangat saat bersamanya itu.


Abi mengulum senyum, seraya mengusek pucuk kepala gadis itu gemas. Canda tawa terdengar dari pasangan kekasih itu. Bahkan keduanya tak menyadari sesorang tengah memperhatikan mereka. Seorang pria dari sebuah mobil tersenyum kecut menatap kemesraan mereka.

__ADS_1


"Andai aku juga bisa mendapatkan kebahagiaan seperti kalian?" gumamnya dalam hati.


"Der, itu lampunya udah nyala." ucapan seorang wanita paruh baya dari bangku sampingnya, sontak membuat pria itu tersentak kaget.


Ia pun segera melajukan kendaraannya, sebelum kendaraan dibelakangnya melayangkan protes.


"Kamu ngelamun, ya?" tanya wanita cantik yang diketahui mamanya itu.


Pria berwajah tampan itu tersenyum menanggapi seraya pandangan fokus pada kemudinya, "engga Ma," balasnya.


"Ishh kamu gak bisa bohongi Mama," protes wanita itu. Ia mengusap lengan kiri sang putra, dengan hati terenyuh melihat keteguhannya.


"Mama tahu, perlahan kamu juga suka 'kan sama Sensen?" tanya sang mama, hingga membuat pria tampan itu semakin melebarkan senyumnya.


"Siapa yang gak suka sih Ma sama dia. Sensen gadis cerewet yang apa adanya. Aku yakin, semua pria juga suka sama dia." balas Deril terkekeh.


"Bukan suka itu, tapi suka dalam artian cinta. Apa kamu gak nyesel gagal nikah sama dia?" tanya mama Rilla dengan nada menggoda.


Deril kembali tersenyum, bohong jika ia terima begitu saja. Hatinya tetap sakit mendapati pembatalan pernikahan itu. Hal yang membuatnya sakit, ketika waktu sudah hampir didepan mata, namun harus gagal begitu saja. Lebih tepatnya rasa tak tega pada keluarganya yang pasti menanggung malu akan kegagalan pernikahan itu.


Namun semua kembali pada takdir yang mungkin sudah Tuhan gariskan. Ia hanya berharap mantan calon istri sekaligus gadis yang sudah ia anggap adik itu bisa hidup bahagia. Begitupun dirinya, walau ia tak tahu dimana kebahagiaannya kini.


"Mama doain aja, smoga Sensen sama Abi hidup bahagia." balas Deril.


Mama Rilla meraih tangan putranya itu, kemudian menggenggamnya dan mengecup punggungnya. "Bukan cuma Sensen, tapi kamu juga." ucapnya tulus.


Deril melebarkan senyumnya seraya menganggukan kepala. Lalu ikut membalas mengecup punggung tangan sang mama dan dibalas senyum oleh wanita yang masih saja terlihat fashionable diusianya itu.


'Entah dimana kebahagiaan itu?'

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Maaf ya, ini harusnya up tadi malam.. Berhubung paket mak othor limit, jadi baru bisa up🙈 selanjutnya nanti sorean atau malam yaa, ada kerjaan dulu akutuh😁


__ADS_2