
Sementara itu dilluar ruangan para gadis yang tengah sibuk dengan aktifitasnya. Tepatnya diruang keluarga, para ibu-ibu yang menolak tua tengah asyik berbincang, tepatnya beradu argumen membahas acara akad yang sebentar lagi akan segera dilangsungkan. Tersisa empat hari menuju hari-H untuk mempersiapakan acara sakral tersebut.
"Kenapa tim WO nya belum datang juga? Kamu udah hubungi Rilla belum?" Beberapa pertanyaan dilontarkan mama Ay pada kaka iparnya.
"Udah, tapi gak diangakt," sahut timom Siska seraya tak henti mengotak atik ponselnya.
"Wah jangan-jangan dia ngambek tuh, karena gagal besanan sama kamu Ay!" celetuk Feby.
"Ck! Apaan sih. Nggak lah, lagian kita udah bahas ini," sangkal mama Ay.
"Udah tenang aja, masih ada waktu tiga hari untuk mempersiapkan semuanya. Mungkin saja Rilla lagi ada kerjaan lain," ucap Agel mencoba menenangkan.
Hembusan napas berat terdengar dari wanita paruh baya itu. Terbesit rasa bersalah pada salah satu sahabatnya itu. Seperti kata Feby, mungkin benar Rilla marah dan kecewa terahadapnya. Namun bukannya mereka sudah membahasnya waktu itu?
"Jangan berpikir macam-macam, Rilla bukan orang seperti itu!" Agel mengingatkan mama Ay untuk berpikiran positif terhadap sahabatnya itu, seraya menepuk pundaknya.
"Iya, bukankah kita paling kenal dirinya?" tambah Feby.
Seperti biasa Agel orang yang paling peka diantara mereka. Tanpa mama Ay menjelaskan, ia sudah mengerti terlebih dahulu akan keresahan hati sahabatnya itu. Mama Ay tersenyum seraya menganggukan kepala.
"Dah beres!" pekik timom Siska dengan girang.
Sontak saja pekikan itu mengagetkan mereka. Feby sampai harus mengusap dada karena keterkejutannya. Bahkan wanita cantik itu berdecak kesal karenanya.
"Isshh kau ini bikin kaget aja!" gerutu Feby.
Timom tertawa mendengar gerutuan itu. "Maaf, itu reflek kak," sesalnya dan dibalas cebikan bibir oleh Feby.
"Memangnya apa yang udah beres?" tanya Feby, yang akhirnya kepo juga dengan apa yang terjadi.
"Pak penghulunya. Kemarin dia bilang, jadwal kesini akan diganti sore. Tapi mantennya gak mau, maunya pagi. Jadi auto nego dulu ini." jelas timom Siska.
Merek pun mengangguk mengerti. Memanglah semua persiapan mama Ay timpahkan pada sang kakak ipar. Hingga timom Siska lah yang mengambil alih persiapan untuk acara itu.
"Kak Feby juga kateringnya. Awas ya, jangan sampai salah!" peringat wanita pengatur acara itu pada si koki andalan mereka.
"Ya elah, tenang aja. Aku bakal siapin dua kali lipat dari permintaan." sahut Feby dan diangguki mereka.
"Oke, sip kalo gitu." timpal timom Siska.
"Ck! Beruntung banget sih kak Ay, mau nikahin gak pusing, ya? Dapat endorse dari sana sini. WO dari kak Rilla, katering dari kak Feby." celetuk timom Siska. "Ntar aku juga yaa kak Feb," lanjutnya menyandarkan diri pada wanita disampingnya.
"Endorse apaan? Palingan ntar diakhir dapat tagihan," protes mama Ay.
__ADS_1
"Namanya juga sultan ngirit." tambah Agel hingga kedua wanita itu tergelak.
"Aisshh kalian ini, ini tuh bisnis. Kalian mana ngerti soal itu." potes Feby. "Makanya kenapa aku ajak kalian berbisnis, dan gak cuma ngurus rumah. Biar kalian tahu bagaimana susahnya ngumpulin duit." lanjutnya.
"Tapi gimana dong, kita sukanya ngabisin duit tuh. Ya gak Gel?" ledek mama Ay, meminta pendapat pada wanita disampingnya.
Agel menganggukan kepala dengan senyumnya. "Yaps, bener tuh! Gak nguras isi kartu atm suami tuh, kek makan nasi tanpa lauk," celetuknya.
"Kek kopi tanpa gula," sambung Siska.
"Kek sayur tanpa garam," sambung mama Ay.
"Kurang enak, kurang sedap..." sambung Feby yang justru malah menyambung pada sebuah lagu.
Gelak tawa terdengar riuh dari keempat wanita itu. Sungguhpun ke gesrekan mereka tak dapat dihindari kala mereka bersama seperti itu.
"Nih kalian dengerin. Dalam dunia bisnis itu, gak ada yang namanya gratis. Semua berawal dari duit dan harus menjadi duit," jelas Feby.
"Jadi akutuh bukan ngirit, cuma-"
"Pelit!" selak ketiga wanita itu diringi gelak tawa kembali dari mereka.
"Asyemm kalian!" umpat Feby pada ketiga ibu rumah tangga yang tak pernah mau diajak berbisnis itu.
Ditengah keriuhan itu dua orang wanita datang menghampiri. Terlalu sibuk tertawa, membuat mereka tak dapat mendengar salam dari keduanya.
"Astoge, orang salam malah pada gak nyahut. Pada sibuk ngetawain apaan sih?" tanya Rilla seraya mendaratkan bokong disofa itu, diikuti mommy Aysa juga.
Kedua wanita itu baru bisa bergabung, setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Kesibukan akan bisinis mereka yang semakin melesat, membuat mereka tidak banyak waktu untuk berkumpul seperti ini.
"Wihh! Ini nih emak-emak pembisnis. Wonder mama super sibuk." celetuk Siska.
Sontak saja celetukan Siska, membuat Rilla mengerenyit heran, begitupun Aysa. Mereka yang belum paham seluk beluk pembicaraan mereka, tentu kebingungan dibuatnya. Apalagi Rilla yang masih saja lemot dalam berpikir, ia memilih untuk menyomot cemilan diatas meja dari pada harus menimpali obrolan mereka yang sama sekali tak ia mengerti.
"Ya ampun, datang-datang main comot aja. Bantuin napa?" protes Feby.
"Aku lapar. Lagian, bantuin apaan sih?" tanya Rilla yang tak henti mengambil makanan itu untuk dimakannya.
"Ck! Bantuin belain lah. Tuh para sultan yang senengnya ngabisin duit, mojokin kita yang sibuk cari duit," gerutu Feby.
Ketiga wanita si tukang nguras isi dompet itu semakin tergelak mendengar gerutuan si sultan ngirit itu. Aysa yang baru mengerti ikut menarik satu sudt bibirnya seraya menggelengkan kepala. Sungguh ada saja hal yang menjadi bahan rebutan mereka ditengah pertemuan mereka ini.
"Sa, ikut bela dong!" pinta Feby membuyarkan lamunan wanita berwajah datar itu.
__ADS_1
"Apa?"
"Belain, kalo wanita pembisnis itu lebih keren dari wanita pengangguran." celetuk Feby.
"Maaf! Gak merasa," selak Agel.
"Gak pernah merasa nganggur," tambah Siska.
"Tiap malam malah digempur," tambah mama Ay, kemudian ketiganya kembali tergelak tanpa dosa.
Dan hal itu semakin membuat Feby kesal. Bahkan raut wajahnya sudah tak bersahabat.
"Balas, Feb!" ledek Agel.
"Au ah gelap!" kesal Feby.
Ruangan pun semakin riuh. Rilla yang masih belum paham betul, hanya ikut tergelak. Begitupun Aysa, meski dengan tawa kecil. Namun wanita itu akhirnya mengubah ekspresi wajahnya juga.
**
Kembali kedalam kamar...
Kedua gadis itu semakin riuh kala sang calon pengantin sudah siap dengan penampilan barunya. Sena merengek agar kedua gadis itu mau menghentikan aksi mereka membuat karya abstrak diwajah cantiknya. Namun itu sama sekali tak dihiraukan keduanya.
"Omg! Wajahku!" pekik Sena yang hampir tak sadarkan diri, kala melihat dirinya dicermin.
Kedua gadis itu tak menghiraukannya, dengan cepat Kia mengambil layar pipihnya. "Ayo kak. Senyum!" titahnya mengarahkan kamera ponsel pada gadis dengan wajah seperti badut itu.
"Issh Kiy ngeselin deh!" protes Sena hendak meraih benda itu.
"Gak papa ini luchu!" balas Kia menepis tangn si calon manten.
"Aku kirim kak Abi, ah!" celetuknya dengan jempol bergerak diatas layar itu.
"Jangan!!!"
"Yah... Sudah aku sent. Udah dibuka juga tuh," kekeh Kia seraya memperlihatkan layar itu.
"Aaaa tidakkk!!!!!"
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya yaa😘
__ADS_1