
Suara sorak sorai penonton membuat suasana lapang kian panas. Deril yang sudah lama tak menguasa lapangan, bahkan tak sempat latihan atau sekedar fisik pun dibuat memicu adrenali. Pria tampan itu dipaksa memasuki lapangan oleh mantan pelatih basketnya. Melihat dari banyaknya permintaan siswa, membuat guru bak atlet itu terus membujuk Deril dan Rizky untuk bergabung.
Berbeda dengan Deril, Rizky masih menggeluti olahraga favoritnya itu. Terlihat dari otot-otot tangannya yang menyembul, memperlihatkan jika lelaki itu begitu menyukai olaharaga.
Outfit yang dikenakan kedua lelaki tampan itu sungguh membuat semua siswi histeris, tak terkecuali Chika dan temannya yang ikut berteriak dari area penonton.
"OMG, Chi. Itu kak Deril cool banget.. Ahh otot nya itu ya ampun, pengen dipeluk!" pekik temannya Chika.
Chika tak menimpali, mendengar kata 'dipeluk' tiba-tiba saja membuat wajah gadis itu memerah. Hingga ia mengibas-ngibaskan tangan karena merasa kepanasan. Bayangannya kembali pada kejadian waktu itu, ketika dirinya meminta foto bersama. Disaat itu ia merasakan kehangatan dari lengan berotot itu.
"Kenapa Chi? Gerah ya?" tanya gadis itu.
"Ahh iya, gerah nih. Panas, banyak banget penontonnya," balas Chika seadanya.
Gadis-gadis itu semakin riuh, kala melihat outfit yang dikenakan sudah membasah dengan keringat mereka. Hingga menampilkan lekuk tubuh mereka yang sempurna. Deril menyugar rambut basahnya kebelakang dan hal itu sungguh membuat para gadis semakin tak terkendali, bahkan ada dari mereka yang sampai jatuh pingsan melihat pesona dari seorang Deril.
'Ya Tuhan, kuatkan lututku!' gumam Chika dalam hati.
Prittt!!!!
Babak pertama pun selesai. Semua siswi berebut memberikan air dalam botol untuk idol mereka. Begitupun Chika, ia juga ingin memberikan air itu untuk Deril. Namun melihat banyaknya para gadis yang mengantri, membuat ia mengurungkan niatnya.
Gadis itu berbalik dan melangkahkan kakinya. Lalu membuka tutup botol air mineral tersebut. Terlalu haus membuat Chika memilih meminum air yang dibawanya. Baru saja dirinya menegak air itu satu tegukan, tiba-tiba saja seseorang menyambarnya dari samping.
Sontak saja Chika menghentikan langkahnya dan menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang kini tengah menegak minumannya. Hal itu tentu membuat air yang baru memasuki mulutnya, menyembur keluar tepat mengenai wajah Deril.
"Uhuk!! Uhukk!!"
Chika membelakak, antara malu dan takut menatap idoalnya itu. "Ma-maaf kak! Maaf! A-aku gak sengaja," sesalnya seraya menangkupkan tangan memohon.
Segera ia mengambil tissu dari saku kemejanya, lalu dengan cepat mengelap wajah tampan itu hati-hati. Tiba-tiba saja, tangannya dicekal lelaki itu. Sungguh hal itu semakin membuat jantung Chika berdegup kencang. Takut lelaki itu akan berbuat kasar atau mengumpatnya. Namun tanpa diduga Deril justru tersenyum manis, sangat manis seraya mengembalikan botol ditangannya pada tangan Chika, lalu mengambil tissue ditangan Chika.
"Gak apa-apa! Makasih ya!" ucapnya yang disertai usekan dikepala.
Bruk!!
Chika ambruk dilantai, seiring dengan berlalunya Deril. Lututnya sudah tak bisa menopang bobot tubuhnya lagi, yang meleleh akan tingkah idolanya itu. Riuh sorak sorai terdengar dari para gadis yang ikut baper dengan perlakuan Deril. Bahkan tak sedikit dari mereka yang merasa iri karena Chika bisa mendapatkan perlakuan itu.
"Chika!!" teriak beberapa temannya menghampiri.
__ADS_1
"Kamu gak apa-apa?" riuh pertanyaan mereka tak membuat gadis itu tersadar. Justru senyum manis tiba-tiba terukir dari wajah cantik itu.
"Kak Deril!" pekiknya seraya menutup wajahnya yang memanas.
Si pelaku terkekeh dari kejauhan, kemudian berjalan menjauh dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
"Buset, lu bikin anak orang klepek-klepek itu," celetuk Rizky menepuk bahunya. Deril tak menanggapi ia hanya tersenyum merasa lucu dengan wajah menggemaskan gadis itu.
"Eh, tapi tu cewek cantik juga. Manis lagi. Boleh lah diembat," lanjut Rizky yang langsung dapat usapan kasar diwajahnya dari Deril.
"Futh! Futh! Asyem lu, tangan lu asin. B*ge!" umpat Rizky dan disambut tawa lelaki tampan itu.
'Chika!' batinnya tersenyum.
**
Sementara itu dikampus, tepatnya dikantin. Semua atensi tertuju pada sepasang sejoli yang tampak uwu itu. Mereka yang tak tau kronologinya, merasa heran akan tingkah kedua insan itu.
Kasak kusuk terdengar dari mereka, namun tak dihiraukan Sena. Ia dengan telaten menyuapi sang suami yang sibuk dengan laptop dihadapannya.
"Aaa!!"
Sena menyodorkan sendok berisi makanan dan disambut cepat oleh Abi. Lalu bergantian menyuapi padanya juga. Hingga tiba-tiba saja seorang gadis menghampiri dan duduk disebrang pasangan itu.
"Isshh apaan sih, gaje deh!" balas Renata tak kalah sengit. "Gue kesini mau nanyain Iky," lanjutnya.
Sontak saja penuturan gadis itu membuat Sena menautkan alisnya heran. Hingga ia menghentikan pergerakannya dngan pikiran penuh tanya. Renata? Cari Iky? Pikirnya.
Grep!! Hap!!
Sena terlonjak kala tangan yang tengah memegang sendok tiba-tiba dicekal Abi. Lelaki itu menggenggam tangan Sena dan menyuapkan sendok kemulutnya.
Sena tersenyum hingga menampilkan deretan giginya. "Maaf!" Abi hanya mengusek pucuk kepala sang istri seraya mengunyah makanannya.
Tentu saja hal itu membuat Renata berdecak kesal. "Ck! Kalian bener-bener ya, tega banget sih," ucapnya sendu dengan bibir yang sudah bergetar dan siap meledakan tangisnya.
Sena terkekeh melihat ekspresi gadis itu. "Udah lu jangan nangis, jelek lu kalo nangis!" ledeknya yang membuat gadis itu semakin mencebikan bibirnya.
"Iky hari ini dapat undangan tim basket dari SMA, sama kak Deril juga," jelas Sena.
__ADS_1
"Tumben lu nanyain Iky, ada apa?" tanyanya curiga.
"Ck! Bukan urusan lu," sungut Renata kesal.
"Idihh, biasa aja kali. Lu yang nanya juga?" balas Sena tak kalah kesal.
"Ck! Udah ah, susah ngomong sama lu," gerutu Renata seraya bangkit dan berlenggang begitu saja.
"Cih! Aneh banget tuh anak. Dia yang nanya, dia yang nyolot. Heran deh," gerutu Sena menatap kesal punggung gadis itu yang semakin menjauh.
"Aaa!!"
Reflek Sena membuka mulut kala mensapat kode, kemudian menoleh kala menyadari sang suami menyuapinya. Abi menarik satu sudut bibirnya seraya mengusek kembali pucuk kepala Sena.
Seketika wajah masam itu berubah berbinar, dengan senyum mengembang manis seraya mengunyah makanan yang masuk kemulutnya. Apalagi kala Abi mengahapus jejak saus yang menempel diujung bibir ranum itu menggunakan ibu jarinya. Lalu memasukan pula jempol itu kedalam mulutnya.
"Manis,"
"Isshh, mana ada saus manis. Pedas yang ada," protes Sena hingga Abi terkekeh dan menyodorkan botol berisi saus kehadapan Sena.
"Saus manis," ucapanya. Sena pun tertawa. Ia melupakan jika memang ada saus manis selain pedas.
Kedua insan itu kembali melanjutkan makan siang mereka. Sesekali diselingi obrolan yang didominasi oleh ocehan Sena sendiri.
**
Sementara itu, ditaman kampus. Shaka tengah duduk diatas hamparan rumput hijau. Menikmati semilir angin yang membelai wajahnya yang terasa kebas.
"Nih!!"
Shaka mendongak dan menarik satu sudut bibirnya kala melihat Jingga menyodorkan minuman kaleng padanya. Dengan senang hati ia pun menerimanya.
"Duduk!" ajak Shaka menunjuk tempat disampingnya menggunakan dagu. Jingga menurut dan duduk disamping lelaki itu, seraya menegak minumannya.
Hening!
Tak ada suara dari dua insan yang masih saling menata hati. Mencoba menekan ego diri, untuk tak saling mendustai.
"Bisakah memperbaiki?"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Gak apa-apa ya kita selingan sama pasangan yang lain. Biar kalian gak baper terus sama kelakuan kulkas yang nyegerin🤭🤣 Awas jangan lupa yaa jejaknya🤗