
Ceklek!
Pintu terbuka, mengalihkan atensi keempat orang diruangan itu. Dua orang pria masuk dengan wajah khawatir. Lalu, bergegas mendekat kearah dua wanita berbeda generasi diatas brankar tersebut.
"Sen!" sapa salah satu pria itu.
"Papa!"
Segera papa Ar mendekap putri kesayangannya, seraya mendaratkan kecupan bertubi-tubi diatas kepalanya itu.
Papa Ar menghembuskan napas panjang, seraya menangkup wajah putri bungsunya itu. "Kamu gak apa-apa 'kan sayang?" tanyanya.
Sena tersenyum manis seraya menggelengkan kepala. "Aku gak apa-apa Pa," balasnya.
"Syukurlah!" Bukan papa Ar, tapi Dad Rendi lah yang menjawab. Tangannya terulur mengusap sayang kepala menantunya itu.
Ya, papa Ar memasuki ruangan itu bersama Dad Rendi. Kedua ayah itu begitu khawatir setelah baru tadi pagi mendapat kabar mengejutkan itu dari Shaka. Bukan karena kejadian yang membuat putra putri mereka terluka saja, namun juga karena mendapati kabar yang baru mereka ketahui.
Kedua pria yang masih saja gagah diusianya itu, tak pernah menyangka. Jika Abi memiliki usaha sendiri yang baru mereka ketahui. Bahkan Dad Rendi, merasa sebagai ayah begitu tidak peka terhadap putranya sendiri.
Membangun kerajaan bisnisnya dari nol kembali, tentu bukan hal mudah untuk si mantan playboy ini. Dan ia pun mengakui jika dirinya kurang memperhatikan keluarganya terutama sang putra. Hingga ia tak tau apa yang dikerjakan putranya selama ini.
Terdengar helaan napas panjang dari pria tampan yang masih saja mempesona itu. Ia mendudukan diri disamping Abi seraya menepuk pundaknya.
"Maafin Daddy, ya!" sesalnya. "Selama ini Daddy sibuk dengan dunia bisnis dan kurang memperhatikan kamu. Hingga gak mengetahui semua ini," lanjutnya.
Abi menarik satu sudut bibirnya. "Aku hanya melalukan, apa yang sudah Daddy ajarkan," balasnya.
Rendi tersenyum seraya menepuk bangga bahu putranya itu. "Kamu memang putraku yang hebat," pujinya.
"Cih! Jika Abi bukan putramu, terus dia putra siapa?" ledek papa Ar.
"Ck!" Dad Rendi berdecak kesal dan hendak menimpali ucapan besan rasa musuhnya itu. Namun ucapannya segera diselak mama Ay.
"Mulai-mulai, udah deh ini tuh di Rumah sakit, jangan ganggu orang sakit!" tegas mama Ay hingga kedua pria itu bungkam.
Sena tertawa melihat situasi itu. Dari kecil pemandangan itu sering sekali ia lihat. Entah dendam kesumat apa yang terjadi antara ayah dan ayah mertuanya itu. Yang ia tau sikap mereka selalu menjadi tontonan menghibur untuknya.
**
Sementara itu, masih ditempat yang sama. Tepatnya disebuah ruangan yang berada disamping ruangan Sena. Rizky baru saja membuka matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah papih dan mamih beserta adik kecilnya.
"Ya ampun, sayangnya mamih baru bangun!" mamih Feby bediri mendekat kearah sang putra.
__ADS_1
"Air mih," ucapanya pelan, kala tenggorokannya begitu terasa kering.
Dengan cepat mamih menuangakn air dari teko diatas nakas seraya membantunya bangkit. Rizky menegak air tersebut, namun belum habis air dalam gelas itu. Suara sang papih sukses membuat ia tersedak.
"Kenapa harus kerja dikafe?" tanya papih Rio dengan tatapan tajamnya.
"Uhukk! Uhukk!!"
Mamih Feby mengerenyit heran, tentu ia tak mengerti akan pertnanyaan suaminya itu. "Kerja dikafe, maksudnya?" tanyanya.
Papih Rio menghembuskan napas panjang. Ia hendak memberi penjelasan, namun putri bungsunya justru menyelak ucapannya.
"Kak Iky kerja di kafe kak Abi," jelas Riska dengan entengnya, seraya sibuk dengan layar pipih ditangannya.
"What??" pekik wanita paruh baya itu shok, hingga matanya membulat dan hampir saja keluar dari sarangnya.
"Itu benar Ki?" tanya mamih Feby dan diangguki pelan oleh Rizky.
"Aw, aw, aw sakit Mih!" Rizky terlonjak kaget seraya meringis dan mencoba menahan tangan sang mamih yang bertengger dikupingnya.
"Kamu tu ya, Mamih ajakin bantu diresto malah gak mau. Eh sekarang malah kerja sama Abi. Gimana sih?" omel ibu dua anak itu.
"Ampun Mih ampun, sakit Mih!" rengek Rizky.
'Dasar ember, awas lu ya!' gerutu Rizky dalam hati. Riska hanya menjulurkan lidah sebagai jawaban pada kakaknya itu.
"Maafin aku Mih, Pih," sesal Rizky. "Aku cuma membantu Abi," lanjutnya.
"Abi?" tanya mamih Feby heran dan diangguki Rizky. "Jadi ... Abi i-" belum selesai ucapannya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu hingga menyelak ucapan Rizky.
Ceklek!
Pintu terbuka hingga menampilkan dua perempuan dari luar sana. "Jinjin?" sapa mamih Feby.
Jinga dan satu gadis disampingnya berjalan lebih dalam, mendekat kearah brankar yang terdapat Rizky disana.
"Renata juga?" Mamih Feby keheranan kala melihat putri dari musuhnya itu ikut menjenguk. Berbeda untuk Jingga yang memang sering sekali bersama Rizky.
"Ah, iya onty. Kebetulan kita dapat tugas bersama," balas Renata tersenyum canggung dan diangguki mamih Feby.
"Mih, sebaiknya kita lihat keadaan Sensen dulu!" ajak papih Rio.
"Oh iya ya, Ris kamu mau disini apa mau ikut?" tanya mamih Feby pada putrinya.
__ADS_1
"Aku ikut," balasnya cepat, bahkan segera berdiri mendahului sang papih. Tentu saja ia tak mau jadi bahan semprotan kakakknya itu.
"Ya udah, onty tinggal dulu ya! Mau lihat dulu Sensen," pamit mamih Feby dan diiyakan kedua gadis itu.
"Masih sakit?" tanya Jingga yang terdengar seperti sebuah ledekan. Setelah ketiga manusia itu keluar dari ruangan itu.
"Ck! So manis lu," kesal Rizky hingga Jingga terkekeh seraya menoyor kepala pria itu.
Tentu saja interaksi keduanya menjadi perhatian Renata. Entah kenapa ada perasaan kesal melihat kedekatan mereka. Padahal itu adalah hal biasa yang sering mereka lalukan setiap hari. 'Gue kenapa sih?' batinnya.
"Tumben kalian bareng?" tanya Rizky.
"Seperti kata dia. Kita ada tugas bareng," balas Jingga terkekeh.
"Gimana keadaan lu?" tanya Reanata dengan tatapan yang ia alihkan kemana saja.
"Hem baik," balas Rizky yang melakukan hal yang sama. Entah kenapa keadaan tiba-tiba terasa canggung antara kedua manusia itu.
Drt ... Drt ...
Terdengar suara dering dari ponsel Jingga, hingga gadis itu memilih untuk keluar dari ruangan tersebut, menyisakan sepasang manusia saja didalam sana.
Hening! Tidak ada suara dari dua manusia itu. Renata sibuk dengan layar pipih ditangannya. Hingga Rizky memulai obrolan.
"Lu gak mau tanya, kronologinya?" tanya Rizky. Hingga Renata mendongak.
"Gue udah tau," balasnya. Kemudian atensi gadis itu teralihkan pada perban dikening rizky yang hampir terlepas.
Ia pun mendekat dan duduk ditepi brankar. Tangannya bergerak membenahi perban tersebut. "Makanya gak usah so jagoan. Kalo udah kek gini, lu bikin orang khawatir tau gak?" omelnya.
Rizky menarik satu sudut bibirnya. "Termasuk lu?" tanyanya.
Sontak saja, Renata menghentikan pergerakannya. Hingga mata keduanya pun bertemu.
Deg!
Tiba-tiba saja jantungnya berdegup begitu cepat. Apalagi melihat Rizky yang tersenyum manis, sungguh membuat gadis itu terpaku. Rizky pun meraih tangan yang bertengger di wajahnya itu.
"Makasih! Udah khawatirin gue."
\*\*\*\*\*\*
Jejaknya jangan lupa yaa😘
__ADS_1