
Malam kian larut, tempat yang tadi ramai pengunjung pun kini telihat sepi. Bahkan para karyawan sudah membubarkan diri, dari satu jam yang lalu. Menyisakan sepasang pengantin itu saja yang kembali berjaga. Saran dari para karyawan untuk bergilir pun tak dihiraukan Abi. Pria itu beralibi untuk mereka meninggalkan tempat tersebut dan tak akan ada penjagaan apapun malam ini. Namun pada kenyataannya, ia masih penasaran untuk mengetahui siapa penyusup itu.
Abi sengaja mematikan semua lampu. Hanya bermodalkan senter kecil yang menerangi ruangan luas tersebut. Bahkan ia menyembunyikan motor agar tak dapat diketahui jika ada orang disana.
"Bi, kamu yakin mereka akan datang? Terus jika mereka datang rame-rame gimana? Kita cuma berdua," tanya Sena yang mulai ketakutan. Tanganya memeluk erat lengan kekar suaminya itu.
Abi tersenyum melihat tingkah sang istri yang semakin menggemaskan itu menurutnya. Tangannya bergerak mengusek gemas pucuk kepala sang istri.
"Jangan takut! Aku gak akan biarin siapaun nyakitin kamu," ucapnya dan hanya diangguki Sena.
Krreett
Terdengar suara dari arah bawah, dengan cepat Abi memberi kode agar Sena diam ditempat. Sena mengangguk mengerti, meski sebenarnya ia takut dan tak ingin jauh dari suaminya itu.
Abi berjalan santai dan pelan menuruni anak tangga. Disaat semua orang akan tegang menghadapi itu, namun itu tidak berlaku dengan Abi. Pria tampan itu berjalan tanpa beban menuju dapur. Terdengar suara grasak grusuk tengah memasuki ruangan gelap itu dari jendela yang sama seperti sebelumnya.
Cetrek!
Lampu menyala membuat dua orang yang mengenakan hoodie yang baru saja menginjakan kaki di lantai gelagpan. Mereka tampak shok mendapati Abi yang tengah berdiri melipat tangan didada dengan wajah datarnya.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Abi dengan wajah yang kian mencekam.
Kedua pria itu mendekat, salah satu dari mereka melayangkan bogeman pada Abi yang dapat ditangkis pria tanpa ekspresi itu. Tonjokan pun terus dilayangkan pria yang tak terlihat wajahnya karena terhalang masker tersebut. Hingga adu tonjok tak dapat dihindari.
Tanpa disadari salah seorang dari mereka menyusup hendak memasuki ruangan Abi. Namun tanpa pria itu tau, Sena memukulnya dari belakang dengan sapu.
"Nih! Rasain, rasain, dasar maling!" pekik Sena greget.
Namun tenaganya kalah besar dengan pria tersebut. Ia menangkis, lalu menarik sapu itu, hingga benda tersebut jatuh dan Sena menubruk dirinya. Sena shok, hingga membelakak kaget. Hoodie yang menutupi kepalanya pun terbuka hingga menampilkan jelas wajah cantiknya.
Pria itu sempat terpaku menatap wajah cantik Sena. Tentu hal itu tidak disia-siakan Sena. Ia segera meraih masker dari wajah pria itu, hingga menampakan jelas wajah pria tersebut.
"Ka-kamu?" tanya Sena shok.
Dengan cepat pria itu pergi meninggalkan Sena yang masih terpaku. Ia kembali memasuki dapur dimana dua orang itu masih bergelut. Melihat temannya yang sudah tak berdaya, ia pun menendang perut Abi, untuk menyelamatkan temannya itu, hingga Abi terjengkang. Dan hal itu tak disia-siakan mereka, si penyusup itu keluar dari pintu karena kunci yang masih menggantung.
__ADS_1
Abi hendak mengejar, namun ditahan Sena. Ternyata diluar sudah riuh beberapa warga bersama pak Rahmat. Ternyata saat Abi turun tadi, Sena mengirim pesan pada pak Rahmat untuk membawa bala bantuan. Namun keberuntungan masih dipihak si penyusup, hingga mereka masih bisa lolos dari kejaran warga.
"Sebenarnya siapa mereka? Sudah beberapa kali mereka meresahakan saja," tanya pak Rahmat. Kini tersisa tiga orang saja didalam ruangan luas itu, para warga yang membantu sudah pulang kerumahnya masing-masing.
"Saya tidak yakin, tapi saya akan pastikan!" balas Abi yang seperti sudah mencurigai seseorang.
"Iya, aku ingat!" pekik Sena setelah sekian lama ia diam memutar memori kecilnya.
Seketika dua pria berbeda generasi itu menoleh pada perempuan yang sepertinya masih mengingat-ingat sesuatu dimemori otaknya itu, dengan kerutan didahi mereka.
"Iya pria itu. Dia pria sama dengan yang kita lihat kemarin malam Bi. Dan tadi, dia yang membeli kopi itu, iya benar." jelas Sena.
"Kamu tau?" tanya Abi penasaran.
"Tadi aku sempat buka maskernya itu. Dan ternyata dia pria yang sama. Iya aku inget," lanjut Sena. "Aku akan lupa kalo cuma lihat dia sekali. Dan kali ini aku udah lihat dia tiga kali."
Abi menarik satu sudut bibirnya hingga membentuk sebuah seringai. "Baiklah! Besok kita bisa menangkapnya," finalnya.
Pak Rahmat bergidik ngeri melihat wajah bossnya itu. Berbeda dengan Sena yang sudah biasa melihat itu hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Ia tau pasti suaminya itu memiliki rencana sendiri untuk menghadapi itu.
"Nggak. Bapak pulang aja!" titah Abi.
"Tapi, den-"
"Iya. Bapak pulang aja, Bapak juga butuh istirahat. Lagian mereka gak mungkin kembali. Mendapat kejaran warga, pasti mereka berpikir ulang untuk kembali," bukan Abi tapi Sena lah yang menyelak.
"Baiklah, kalau begitu. Jika ada apa-apa lagi, jangan sungkan hubungi saya ya!" final pak Rahmat dan diangguki pasangan itu.
"Pak!"
"Iya, den?"
"Jangan sampai karyawan tau soal malam ini!" titah Abi.
"Baik, den!" balas pak Rahmat mengerti.
__ADS_1
Akhirnya pak Rahmat pun kembali ke kediamannya. Menyisakan pasangan itu yang masih terduduk diatas kursi diruangan itu. Keduanya masih membahas kejanggalan yang masih menghantui pikiran mereka.
"Aku masih penasaran, Bi. Itu jendela kenapa bisa kebuka gitu aja ya? Padahalkan kemarin kita cek, kuncinya baik-baik aja," tanya Sena. Bukan lagi siapa pelaku itu, tapi cara mereka masuk kedalam yang kini menjadi ganjalan.
Sena mencondongkan diri kedepan dengan tatapan serius pada sang suami yang duduk dikursi disebrangnya, "Apa mungkin?"
Abi tersenyum seraya ikut mencondongkan diri, hingga wajah mereka terkikis. "Apa?" tanyanya.
"Ada yang coba khianati kamu, Bi." ucap Sena beropini dengan wajah kian serius.
Namun berbeda dengan Abi, melihat wajah sang istri yang nampak serius semakin membuat pria yang berubah menghangat didepan kekasih hatinya itu gemas. Hingga tangannya bergerak mengacak rambut istrinya itu, disertai senyuman manis yang mampu memporak porandakan hati kaum hawa. Untung saja senyum itu hanya terukir untuk satu orang yang kini didepan matanya.
"Isshh Bi, aku serius," rengek Sena seraya merapihkan rambutnya yang sedikit acakadul.
Abi ikut merapihkan rambut itu dengan senyum yang tak lepas dari bibir sexy nya. "Kita akan cari tau," balasnya.
"Tapi, siapa yang tega mengkhianati kita? Apa mungkin Andi? Dia 'kan yang bertugas untuk kunci mengunci?" cecar Sena dengan berbagai pertanyaaan. Abi kembali menyenderkan tubuhnya dengan pikiran yang tak dapat ditebak.
Begitupun Sena, perempuan itu melaukan hal yang sama. Pikirannya terus menerka, siapa pengkhianat itu? Dan apa alasannya? Ia yang baru mengenal orang-orang disana, tentu tidak tau betul karakter dan sifat asli mereka.
Grepp!!
Pelukan Abi dari belakang membuyarkan lamunanya. Sena tersenyum kala merasakan napas hangat sang suami menerpa ceruknya.
"Jangan terlalu keras berpikir!" titahnya.
"Tapi ini harus dipikirin," selak Sena.
"Ada hal yang lebih penting, yang harus kamu pikirkan," lanjut Abi.
"Apa?"
"Gaya apa yang akan kita gunakan sekarang?"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Pengen getok Abi gak sih? Lakik gue gak ada woyy🤧🤣🤣🤣 Yuk gaisss ramaikan lagi. InsyaAlloh crazy up lagi yaa😘