
Disepanajang koridor kampus Deril tengah sibuk dengan layar pipih ditangannya. Sang pujaan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu tak henti mengirimi chat padanya. Hari ini hari terakhir pria tampan itu memasuki kampus. Acara hari H yang akan diadakan tiga hari lagi, membuat ia harus menyelesaikan beberapa tugas untuk ia mengambil cuti sebelum dan sehabis menikah.
Tanpa ia sadari, seseorang sudah menunggunya didepan, hingga ia hampir saja menabraknya jika ia tak segera melihatnya.
Deril menghentikan langkahnya dan menatap perempuan yang begitu berantakan dengan lelehan air mata dipipinya itu.
"Ada apa?" tanya Deril.
Bukan menjawab perempuan itu justru memeluknya erat. Sontak saja hal itu membuat Deril shok dan hendak melepaskan pelukan itu. Namun tak dihiraukan perempuan itu.
"Lepas, Sil!" titah Deril.
"Nggak! Aku gak mau lepasin kamu. Kamu hanya milik aku Der, milik aku," tegas Sisil.
"Sil," Deril masih cukup sabar untuk tak membentak atau mengucapkan kata kasar. Namun karena perempuan itu semakin keras kepala. Hingga Deril pun sudah tak bisa menahan diri lagi.
"Sisil!" bentak Deril, hingga perempuan itu sedikit mengendurkan pelukannya. Untuk pertama kalinya Deril membentak perempuan itu. Bahkan saat dikhianati dulu, ia sama sekali tak bisa melakukan itu.
"Tolong! Berhenti menjadi gadis murahan!" suara Deril memelan namun penuh penekanan.
Seketika Sisil melepaskan pelukannya dan mendongak menatap tak percaya pada lelaki mantan kekasihnya itu.
"Ka-kamu be-bentak aku?" tanyanya bergetar.
"Kenapa?" tanya Deril, membuat perempuan itu terisak. "Inilah aku sekarang. Aku bukan Deril yang dulu lagi," jelasnya.
"Aku bukan Deril yang bisa kamu mainin seenaknya. Aku bukan Deril yang selalu menuruti semua ucapanmu. Aku ... Bukan Deril yang mencintaimu lagi," lanjutnya.
"Jadi ... Mulai detik ini, berhenti berharap dan menggangguku. Karena ada hati yang harus aku jaga."
Brukk!!!
Sisil ambruk diatas lantai. Saat ia percaya akan bisa membawa Deril kembali kedalam pelukannya, justru itu tak sesuai harapan. Deril yang selalu bucin padanya hilang ditelan pengkhianatan yang ia lakukan. Tangis sesal ia tuangkan saat itu juga, dengan merutuki dirinya sendiri yang sudah begitu bodoh.
Deril berlalu meninggalkan sang mantan tanpa ingin memedulikannya lagi. Hingga baru beberapa langkah, ia pun menghentikan langkahnya.
"Aku harap kamu mau hadir dan memberikan doa terbaikmu untukku dihari H besok," ucap Deril yang kemudian benar-benar pergi meninggalkan perempuan itu yang semakin histeris.
**
Masih ditempat yang sama, Renata tengah berdiri didepan ruang ganti olahraga. Gadis itu tengah menunggu pria yang beberapa hari lalu telah resmi jadi kekasihnya. Berulang kali gadis itu melirik jam dipergelangan tangannya.
"Ck! Lama banget sih? Apa permainannya belum selesai?" tanyanya bermonolog sendiri.
Tak berselang lama, satu sudut bibirnya tertarik melihat pria tampan yang mengenakan ooutfit basket dari ujung koridor. Outfit dan rambutnya yang basah menampilkan pria itu begitu cool dimata Renata.
__ADS_1
Gadis itu merentangkan tangan kala pria itu tersenyum dan semakin mendekat. Hingga jarak yang hanya menyisakan beberapa meter saja. Gadis itu segera menarik kembali kedua tangannya. Wajahnya masam kala melihat beberapa gadis mendekati sang kekasih. Bahkan dengan berani menggandeng tangan kekar itu.
Gadis itu berdecak kesal seraya menghentakan kakinya dilantai, ia hendak pergi. Namun ia berpikir sejenak. Jika ia pergi, keenakan para gadis dong? Pikirnya.
Ia pun mendekat dan menyerobot para gadis itu. Bahkan ia juga menyerobot lengan kekar itu.
"Minggir-minggir!" pekiknya.
"Isshh paan sih lu, Ren? Gaje deh," ketus salah seorang dari mereka.
"Lu yang apaan? Main nyambar lakik orang aja," balas Renata tak kalah ketus.
"Heleh, janga ngaku-ngaku sendiri deh. Iky lakik kita semua, iya gak?"
"Iya bener tuh!"
"Tapi. Iky cowok gue," selak Renata tak terima.
"Udah deh Ren. Gak usah ngaku-ngaku terus. Dulu aja lu ngaku-ngaku Abi cowok lu. Ditolak Abi lu ngaku-ngaku Iky jadi cowok lu, jadi cewek tuh jangan keganjenan," celetuk satu dari mereka.
"Apa sih, itu fakta ya!" sungut Renata.
"Cih! Emang gak tau malu,"
"Iya, emang kang ngaku-ngaku."
Berbagai komentar dilayangkan gadis-gadis itu, hingga Renata sudah berkaca-kaca. Ia mendongak kearah Rizky. Bukan membelanya, pria itu hanya diam dan tersenyum manis. Dan hal itu terlihat menjengkelkan dimata gadis itu.
"Isshh! Ngeselin," Renata mengehmpas tangan kekar itu dan hendak pergi dengan perasaan dongkol. Gadis manapun akan kesal jika tak diakui kekasihnya. Itulah yang dirasa Renata sekarang.
Namun tanpa diduga, tiba-tiba saja Rizky mencekal pergelangan gadis itu. Hingga langkah sang gadis terhenti. "Mau kemana?" tanyanya.
"Terserah gue mau kemana aja, bukan urusan lu," ketusnya.
"Mau gue antar?" tanya Rizky.
Renata menghempas tangannya itu, lalu berbalik. "Gak usah so manis sama gue! Gak usah bikin gue salah paham terus sama lu," tegasnya dengan air mata yang sudah tak dapat ia bendung lagi.
"Jika emang gue gak berarti apa-apa buat lu. Jangan pernah lagi ngasih gue harapan," lanjutnya.
"Gue juga punya hati .... Gue-" Belum selesai ucapannya, tiba-tiba saja Rizky menarik tengkuknya dan menyambar bibir yang tak hentu mengoceh itu.
Tentu saja hal itu membuat semua gadis shok bukan main. Mereka memang belum mengetahui hubungan yang terlanjur antara kedua manusia itu.
Rizky melerai pagutan mereka, dan mengusap jejak kebasahan dipipi cantik sang kekasih yang begitu berantakan.
__ADS_1
"Maafin gue! Mulai sekarang gue gak akan bersikap so manis lagi sama lu. Gue hanya akan bersikap manis sama lu," ucap Rizky.
"Arti lu buat gue adalah segalanya. Lu wanita kedua yang gue sayangi," lanjutnya.
"Kedua?" tanya Renata dengan mata menghunus tajam.
"Ya, 'kan pertamanya si mamih," kekeh Rizky dan dibalas tampolan didada dari Renata.
"Ah, dadaku sakit," ringis Rizky dramatis memegang dadanya.
"Isshh lebay ..." ejek Renata.
"Beneran ini sakit," ucapnya dengan ekspresi yang sama dan hanyan dibalas cebikan bibir oleh gadis itu.
"Sakit jika lihat kamu cemberut gini," lanjutnya menjewel kedua pipi sang gadis dan ditepis Renata dengan ringisan kesal.
Rizky menarik gadis itu hingga masuk kedalam dekapannya. Mendaratkan bibirnya dikepala sang gadis bertubi-tubi.
"Love you mis. Bawel," ucap Rizky.
"Love you too mr. Tengil," balas Renata.
Keduanya pun tertawa bersama, hingga membuat para gadis disana melongo. Merasa tak percaya akan apa yang mereka lihat. Dengan membawa kekesalan, para gadis pun berlenggang meninggalkan dua insan yang tengah dimabuk cinta itu.
**
Tiga hari berlalu ....
Nampak disebuah kamar, seorang perempuan tengah mematut dirinya didepan cermin. Dirasa cukup ia pun segera mengambil dress berwarna silver yang akan dikenakannya. Ia nampak kesusahan untuk menarik reseleting dibagian belakang, hingga ia memanggil sang suami yang masih dikamar mandi.
"Bi ....!!" teriaknya seraya mencoba meraih reseleting itu. "Udah belum? Bantuin buat narik ini dong!" lanjutnya.
Ceklek!
Abi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Kemudian pria yang bertelanjang dada hingga memperlihatkan pahatan indah itu mendekat kearah sang istri.
"Kenapa?" tanyanya.
"Babtuin dong, ini susah banget naiknya!" titah Sena kala reseleting itu berhenti ditengah jalan.
Abi mendekat dan memegang tarikan reseleting itu, bukan ditarik keatas ia justru menariknya kebawah. Seraya mendekatkan wajah dan berbisik ditelinga sang istri dengan gaya sensual.
"Jangan membuatmu susah. Jika tidak bisa ditarik keatas, maka tariklah kebawah!"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jejaknya gaiss jangan lupa yaa😘