Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Dia milikku


__ADS_3

"Bisakah memperbaiki?"


Deg!


Pertanyaan Shaka sontak saja membuat Jingga mematung. Setelah hampir setahun tidak pernah bertegur sapa. Tiba-tiba saja kini lelaki yang masih menempati hatinya, berucap seperti itu.


Shaka tersenyum kecut melihat diamnya sang gadis. "Mungkin ini terdengar aneh, egois. Tapi," lelaki itu menghentikan sejenak ucapannya seraya menoleh dan menggenggam tangan gadis itu.


Seketika Jingga ikut menoleh menatap Shaka dengan perasaan yang sulit ia artikan.


"Aku hanya ingin mengikis jarak yang membentang menjauhkan kita. Setidaknya, aku berhenti melukai hati yang tidak sejalan dengan keadaan," lanjutnya.


Hening! Keduanya terdiam dengan mata yang saling bicara. Terlalu sulit untuk menekan ego yang sama-sama kokoh, meski rindu kian membunuh.


"Maafin aku, Jin. Maaf, aku mencintaimu!"


Grep!


Jingga memeluk tubuh tegap disampingnya, menyembunyikan buliran hangat yang memaksa keluar dari kedua ujung matanya kedalam dada bidang itu. Menyalurkan rasa yang sama yang tak dapat ia ubah.


Shaka membalas mendekap tubuh ramping itu tak kalah erat. Melabuhkan kecupan hangat dikepala gadis itu. Sejauh mana ia melangkah hatinya tetap tertahan pada sosok yang kini didekapannya.


**


Sementara Shaka dan Jingga tengah saling meluapkan rindu, sepasang pengantin baru itu tengah meluapkan isi dompet. Setelah selesai kelas, sejoli itu memilih untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan.


Sena merengek ingin merasakan nafkah lahir dari suaminya. Nafkah batin tentu sudah ia rasakan dari pertama mereka menikah. Kini ia ingin tau rasanya menghamburkan uang suami.


Sena begitu girang kala mereka sampai disebuah toko branded di mall tersebut. Dengan cepat ia mencari koleksi terbaru benda yang dari kemarin masuk dinotif ponselnya.


"Yess, aku dapatin ini!" pekiknya mengambil tas distand berlabel limited edition.

__ADS_1


"Ah pamer dulu sama Kiy," ia pun memotret dirinya bersama tas tersebut, untuk ia kirim pada sepupu satu servernya itu.


Abi geleng-geleng kepala melihat itu disertai satu tarikan disudut bibirnya. "Udah nemu?" sindirnya.


"Udah dong, nih!" ucapnya girang, seraya memperlihatkan benda itu pada Abi.


"Eh iya. Emang kamu beneran ada uang buat beliin ini? Ini harganya lumayan," tanya Sena hati-hati, takut menyinggung suaminya itu.


Mengingat Abi masih baru merintis bisnis kafe-nya itu, ada rasa tak enak yang tiba-tiba hinggap dihatinya. Ia yang selalu belanja sesuka hati tanpa memikirkan isi atm nya, baru kali ini merasa sungkan untuk membeli barang yang diinginkannya.


Abi tersenyum tipis seraya mengusek pucuk kepala istrinya itu gemas. Hal yang sudah seperti ritual wajib yang ia lakukan sekarang. "Keinginanmu mendatangkan rezeki untukku," ucapnya.


"Ishh bukan gitu, tapi 'kan ini-" belum selesai ucapannya, Abi sudah mengambil barang tersebut dan menyerahkan pada pegawai yang sedari tadi terus memperhatikan dirinya.


Dengan senyum mengembang, ia menyambut barang itu dari tangan Abi. Pria tampan itu sungguh membuat siapa saja terpesona dibuatnya. Tentu saja hal itu membuat Sena berdecak kesal.


"Bung-"


Tentu saja tingkah Sena membuat pegawai wanita itu keheranan. Begitupun Abi, hingga ia pun bertanya.


"Kenapa?"


"Aku gak minat. Kita cari toko lain," tegas Sena menekukkan wajah.


"Loh mbak, kenapa? Sepertinya mbak sudah menyukai yang ini," tanya pegaqai tersebut.


"Aku memang suka tas ini. Tapi aku gak suka sama pegawainya," balas Sena. Sontak saja pegawai itu membelakak mata, mendengar jawaban menohok dari customernya itu.


Abi yang mengerti jika sang istri tengah cemburu, sebelah tangannya segera meraih kepala Sena. Kemudian melabuhkan kecupan dalam dikening istrinya itu. Tentu saja hal itu membuat senyum Sena mengembang kembali


"Ayo, kita cari lagi!" ajaknya menggandeng tangan sang istri, menautkan tangan keduanya dan berlenggang keluar tanpa pamitan.

__ADS_1


Petmgwai wanita itu hanya menganga melihat tingkah kedua manusia tersebut dan hanya menatap punggung keduanya yang mulai menjauh.


"Gak lihat apa kita ini suami istri, masih aja ganjen," gerutu Sena.


Abi hanya terkekeh. Ia begitu suka ekspresi sang istri yang menurutnya begitu menggemaskan, gerutuan dengan bibir maju itu membuat Abi ingin sekali meraup bibir tersebut.


Pria itu menghentikan langkahnya, hingga Sena pun ikut berhenti dan menoleh hendak bertanya, namun tanpa diduga Abi justru meraih tengkuk Sena. Memiringkan wajahnya dan benar-benar meraup bibi maju itu. Mengingat dimana mereka kini, Abi hanya melakukannya sebentar.


Kemudian menghapus jejak kebasahan dibibir ranum itu dengn ibu jarinya, "only you."


Senyum mengembang terukir dari bibir manis Sena. Dengan cepat ia menggandeng lengan suaminya itu dan sedikit menyeretnya.


"Mau kemana?" tanya Abi heran. Pasalnya Sena justru menyerertnya menjuh dari deretan toko perlengkapan wanita. Hingga mereka sampai di eskalator untuk naik ke atas.


"Bukannya mau cari lagi?" tanya Abi heran dengan alis bertautan .


Sena menggelengkan kepala. "Gak ah! Moodku udah rusak," balasnya.


Abi terkekeh seraya mengusek pucuk kepalanya. "Terus, pengen apa?" tanyanya.


"Aku pengen eskrim," balas Sena cepat. "Keknya enak tuh seger-seger," lanjutnya dan diangguki Abi.


Sepasang pengantin itu sampai didepan stand eskrim yang menyajikan bervariasi rasa. Vanila coklat menjadi pilihan mereka.


Tak berselang lama eskrim diatas cone didapati Sena dari pegawai itu. Abi merapihkan rambut Sena yang mulai mencicipi eskrim tersebut. Ia mendekatkan wajahnya seraya meraih kepala sang istri dengan kedua tangannya, seolah ingin menyambar bibir ranum perempuan itu, hingga membuat si pegawai membelakak kaget. Namun bukan bibir yang disambar Abi, tapi eskrim tersebut.


Dengan cara Abi yang unik, membuat pegawai itu tercengang. Tau tatapan pria itu mengagumi sang istri, bahkan seolah mencari perhatian, membuat Abi dengan sengaja memperlihatkan jika perempuan itu miliknya. Abi hanya menyeringai menatap tajam pria itu.


'Dia milikku!'


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jejaknya jangan lupa yaa🤗


__ADS_2