Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Memanjakan si jack


__ADS_3

Deg!


Sisil terdiam mematung. Benar, sekarang mereka bukan pasangan lagi. Tapi, apa tidak ada kesempatan untuknya bisa memperbaiki semuanya? Pikirnya.


"Aku tau," ucap Sisil sendu menundukan kepala.


"Maaf Sil, aku harus pergi," Deril yang tak ingin lagi melihat wajah sendu itu, memilih untuk pergi meninggalkan gadis tersebut.


"Tunggu!" Sisil menahan lengan Deril agar menghentikan langkahnya.


"Aku mohon, beri aku kesempatan! Aku tau aku egois, tapi aku masih sayang sama kamu, Der." ucap gadis itu memelas.


Hal inilah yang tak diinginkan Deril. Mendengar gadis itu memelas hampir membuat hatinya goyah kembali. Rasa cintanya pada gadis itu tentu tak membuat ia mudah melupakan sang gadis. Namun rasa sakit yang ia dapat pun tak kalah besar dari gadis itu.


Ia menarik tangannya tanpa ingin menatap wajah yang selalu membuatnya luluh dan tak berdaya itu. "Maaf! Aku gak bisa," ucapnya seraya berlenggang tanpa menoleh lagi.


"Der, Deril!" teriak Sisil yang tak ditanggapi pria itu.


**


Sementara itu sepasang pengantin sudah keluar dari gedung tinggi itu. Rangkulan tak lepas dari Sena pada lengan kekar Abi. Sementara tangan kirinya menenteng satu paperbag.


Tentu saja, hanya satu ditangannya. Karena ditangan Abi lah beberapa paperbagnya menggantung.


"Eh buset, lu kira-kira dong Sen. Itu lakik lu besok bangkrut kalo kebiasaan lu gak hilang," protes pria yang baru turun dari kuda besinya tepat disamping motor Abi.


"Isshh sirik aja lu Ki. Makanya punya papih tu kek uncle Rendi, jadi isi atm lu aman," sahut Sena dengan nada meledek.


"Dady woy, Dedy. Mertua lu itu," protes Rizky lagi yang hendak menoyor kepala Sena. Belum juga tangan itu mendarat dikepala Sena, tangan Abi segera menepisnya kasar.


"Anjirr! Protektif maseeh," ledek Rizky disertai tawa.


Sena hanya mencebikan bibir menanggapi sahabatnya itu. Lalu atensinya teralihkan pada gadis yang sedari tadi diam menekukan wajahnya. Sena mengerenyit heran, untuk apa Rizky membawa gadis manja yang menyebalkan itu? Pikirnya.


"Kalian datang berdua?" tanya Sena penuh selidik. Matanya menatap kedua manusia itu bergantian.


"Eu," Rizky terdiam sejenak, bingung harus menjawab apa. Ia pun segera menggandeng tangan Renata untuk mengikuti langkahnya.


"Eh gue pergi dulu, bye!" pamit Rizky. Tentu saja hal itu membuat Sena menatap curiga dua manusia yang sudah menghilang ditelan belokan.


"Emm kamu curiga gak sih Bi?" tanya Sena pada sang suami yang sedari tadi mengunci rapat bibirnya.

__ADS_1


"Keknya ada yang aneh dari mereka?" lanjutnya. Abi mendekati motor yang akan membawa mereka pulang, tanpa menjawab.


"Isshh kamu tuh, aku kan nanya?" gerutu Sena kesal, kala Abi tak menyahuti ucapannya.


Abi menarik satu sudut bibirnya seraya mengambil paperbag ditangan Sena untuk ia kaitkan pada stang bersama paperbag yang sudah tertanggal sebelumnya disana. Ia mengambil helm penumpang, lalu mengenakan helm itu pada kepala sang istri.


"Ada kalanya, kamu tak perlu mengurusi, urusan orang lain," ucap Abi yang akhirya membuka suara. "Ada hal yang jauh lebih penting, yang harus kamu urusi."


Trek!


Suara helm terkunci, diiringi pertanyaan Sena dengan wajah cemberut menatap Abi. "Apa?"


Abi mendekatkan wajahnya kedepan telinga Sena yang sudah tertutup helm, seraya memegang kedua bahunya.


"Memanjakan si jack!"


Sontak saja Sena mengerenyit heran, Si jack? Siapa si jack? Pikirnya.


"Si jack?"


Abi tak menjawab, pria tampan itu mneyeringai dengan mata menunduk seolah memberi kode kebawah. Hingga Sena mengikuti gerakan mata suaminya itu. Lima detik berikutanya, barulah ia mengerti maksud Abi.


"Isshh, kirain apa?" protes Sena memukul manja dada bidang Abi seraya menundukan mata, menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba menghiasi kedua pipinya.


"Siap memanjakan?" tanya Abi. Sena hanya tersenyum menggigit bibir bawahnya disertai anggukan kepala. Hingga keduanya terkekeh.


Sejoli itu pun menaiki kuda besi mereka dan melesat meninggalkan posisinya, membelah jalan raya.


**


"Kita ngapain kesini?" tanya Sena menggigit bibir bawahnya. Rona dipipinya kembali muncul begitu saja ketika mereka memasuki tempat yang tak sering ia singgahi.


"Mengambil hadiah daddy," balas Abi.


"Hadiah?" tanya Sena heran dan diangguki Abi.


"Ada yang bisa dibantu mas?" tanya seorang wanita yang berdiri dibalik meja resepsionis.


"Atas nama pak Rendi," balas Abi singkat.


"Oh, baik. Mohon tunggu sebentar mas," titahnya dan diangguki Abi.

__ADS_1


"Ini mas card nya, kamarnya nomor 225, dilantai 12," balas sang wanita menyerahkan sebuah card dan hanya diangguki Abi.


Sena mengambil card tersebut dengan mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya mengikuti langakah Abi yang menggandeng tangannya.


Tring!


Lift terbuka, kedua manusia itu sampai dilantai yang dituju. Tak perlu lama mencari, mereka pun sampai didepan pintu coklat dengan nomor yang dimaksud.


Ceklek!


Pintu terbuka, hingga menampakan pemandangan yang membuat Sena membelakakan matanya. Kamar temaram dengan taburan kelopak bunga dimana-mana. Lilin berjejer membuat jalan dengan taburan kelopak bunga, sungguh terlihat romnatis. Diatas kasur kelopak bunga itu tak kalah banyaknya berbentuk love persis kamar pengantinnya kemarin. Aroma menenangkan menusuk indra penciumannya membuat bulu kuduknya meremang seketika.


Grep!


Abi memeluk tubuh ramping itu dari belakang. Wajahnya tenggelam diceruk istrinya itu. "Apa kau suka?" tanyanya.


Sena tersenyum seraya mengusap rahangnya. "Tentu, apa ini juga hadiah dari uncle? Em, maksudku dady?" tanya Sena dan diangguki Abi.


"Iya, dia sudah menginginkan seorang cucu," sahut Abi, hingga Sena terkekeh.


Kemudian Sena membalikan tubuhnya hingga keduanya berhadapan. Lalu menggantungkan kedua tangan dileher suaminya itu. "Apa kamu juga menginginkannya?" goda Sena.


"Sepertinya, kita harus memikirkannya dulu. Akan terlalu sempit waktumu, untuk memanjakan si jack,," balas Abi memeluk posesif pinggang ramping itu.


Abi mulai medekatkan wajahnya untuk menyambar bibir ranum itu. Hingga kedua benda kenyal itu menempel sempurna dan mulai bergerak saling menyesap, menyecap rasa yang selalu membuat mereka menginginkan lebih. Tangan Abi sudah berkeliyara membuka blazer yang dikenakan Sena dan membuangnya kesembarnag arah.


Tangan nakal itu menyelusup kedalam tangtop yang melwkat ditubuh ramping itu. Kakinya berjalan menggiring tubuh itu keatas kasur berbalut kain putih hingga Sena terbaring disana.


Abi membuka jaketnya, lalu menarik kaos yang melekat ditubuh tegapnya. Kemudian mengukung tubuh ramping itu, dengan tatapan penuh damba pada sang istri. Ia kembali menyambar bibir ranum itu, dengan tangan menyikap kain atas istrinya. Hingga bibir itu berjalan mengitari kulit putih nan mulus Sena.


Tak membutuhkan waktu lama semua kain dari tubuh mereka sudah tertanggal begitu saja. Hingga sejoli itu bertemu kembali, mengggali rasa sama yang menjadi candu mereka. Derit ranjang berirama mengikuti gerakan yang mereka ciptakan, diiringi suara yang mendayu merdu bersahutan dikamar nan luas itu.


"Ouhh biihhh, lebih cepat ... Mmmmhhh"


"Ouhh yeahhh ...."


Gerakan kian cepat seiring sesuatu dalam diri mereka serasa meledak, hingga menimbulkan getaran hebat pada tubuh keduanya yang disertai erangan panjang.


"Euurrgghh!!"


"Siap ngulang?"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Dahlah gak mau panas-panas. Ini hari udah panas soalnya🤣🤣 Yuk jejaknya jangan lupa! Jadi disini mak othor mau sibuk sama pengantin baru sama Deril aja ya.. Untuk Shaka sama Jinjin. Mak othor ada rencana mau bikin buku baru buat mereka, insyaAlloh di awal bulan yaa.. Kalo Iky, entah dia masuk sini atau sana🤭


__ADS_2