
"Deril!"
Panggilan seseorang sukses membuat sepasang manusia yang tengah saling tatap itu pun segera memutuskan tatapan mereka. Seorang gadis menghampiri kedua manusia yang sedikit gelagapan seperti tercyduk sudah berbuat yang tidak-tidak.
"Hai kak Sisil!" sapa Chika, namun tak dihiraukan gadis yang terlihat arogan itu.
"Kamu udah makan?" bukan menjawab sapaan Chika, Sisil justru bertanya pada pria tampan itu.
Terlihat tatapan tak suka yang dilayangkan Sisil untuk gadis itu. Chika yang mengerti, segera berpamitan.
"Emm, kalo gitu aku permisi dulu kak!" pamit Chika berlenggang meninggalkan kedua manusia itu, bahkan panggilan Deril tak ia hiraukan.
"Chi! Chika! Tunggu!" teriak Deril. Pria tampan itu hendak mengejar namun ditahan oleh Sisil.
"Der!" ucapnya pelan, namun Deril tetap hendak pergi. Hingga Sisil berteriak seraya memegang pergelangan tangannya. "Deril!"
Deril terdiam sejenak, hingga didetik berikutnya dengan kasar ia menepis tangan gadis itu. "Maaf, aku harus pergi," ucapnya datar dan berlalu meninggalkan Sisil yang menumpahkan air matanya.
"Kamu berubah, kamu berubah Der!" lirihnya terisak.
**
"Tuh 'kan, punya teman emang gak ada akhlak. Dia yang nyuruh nunggu, dia yang ninggalin. Tau gitu aku bawa si opi aja kesini," gerutu Chika seraya melihat layar pipihnya.
Gadis itu mondar mandir didepan parkiran, setelah mendapat pesan dari temannya yang sudah pulang terlebih dahulu. Ia yang dipaksa nebeng dimotor sang teman, tentu bingung kala harus pulang sendiri.
"Ihh ngeselin emang. Kenapa juga aku harus percaya sama dia. Pasti dia sengaja ngerjain aku," gerutunya lagi.
"Ck! Terus aku balik kesekolah gimana? Apa jam segini ada angkot?" tanyanya bermonolog sendiri seraya melirik jam dipergelangan tangannya.
Ia berjalan kedepan dan berdiri ditepi jalan. Menunggu tumpangan yang kemungkinan lewat, ia sampai mengacak rambutnya kesal kala melihat jalanan yang terlihat sepi.
"Apa aku pesen ojol aja ya?" tanyanya. Kemudian ia mengambil layar pipih disaku roknya, mencari aplikasi hijau untuk memesan tumpangan.
Ditengah kesibukannya, tiba-tiba sebuah motor berhenti didepannya. "Ojeg neng!"
Seketika Chika mendongak dan tersenyum melihat siapa yang menyapanya. Seorang pria membuka helmnya hingga menampakan wajah tampannya.
"Mahal gak ini?" ledek Chika.
"Emm.. Buat neng yang manis, boleh deh gratis," kekeh Deril hingga Chika tertawa.
__ADS_1
"Serius ini?" ia memperlihatkan layar pipihnya pada pria tampan itu. "Aku pesen apa batalin?" tanyanya.
Deril meraih ponsel tersebut lalu mengotak atiknya. "Udah dibatalin. Ada ojeg gratis 'kan lumayan," balasnya.
Chika tersenyum lebar seraya menerima kembali benda pipih tersebut dan memasukannya kedalam saku roknya.
"Urusannya udah selesai?" tanya Chika dan diangguki Deril yang turun dari motor.
"Ck! Aku jadi gak enak. Jatohnya itu kek, aku orang ketiga, ya?" kekeh Chika.
Deril ikut terkekeh mendengar itu. "Urusanku dengannya udah selesai saat itu juga," jelasnya.
"Dan sekarang dia minta balikan gitu?" tanya Chika dan diangguki mantap oleh Deril.
"Cih! Udah kek sinetron, udah dapat ditebak tuh alurnya," ledek Chika dan disambut tawa oleh Deril.
"Pulang? Apa kesekolah?" tanya Deril.
"Emm ...." gadis itu tampak berpikir, "pengennya sih makan dulu," celetuknya diakhiri kekehan.
"Oke!" balas Deril tersenyum seraya mengusek pucuk kepala Chika gemas. Kemudian pria itu mengambil helm penumpang, lalu mengenakannya dikepala sang gadis.
Jangan tanya bagaimana keadaan gadis itu sekarang. Ia terpaku dengan semua perlakuan Deril. Hingga ia hampir ambruk, kala sesuatu mengenai pundaknya.
Deril tersenyum melihat ekspresi sang gadis yang membatu. Ia raih tangan yang lebih kecil dari tangannya itu, kemudian menggandeng tangan itu untuk naik keatas kuda besi miliknya. Chika tak membantah atau memprotes, ia hanya menurut seperti boneka yang digerakan Deril.
Bahkan ketika Deril melingkarkan tangan mungil itu pada pinggang kekarnya, Chika tak berkutik sama sekali. Entahlah kemana jiwanya saat itu. Hingga ia hanya menurut dan menyenderkan kepala di punggung bidang itu dengan bibir yang tersenyum lebar.
Setelah dirasa siap, Deril menancap gas meninggalkan posisinya. Hingga kuda besi itu melesat membelah jalan raya yang mulai padat merayap. Untung saja kendaraan yang mereka tumpangi, bukan roda empat yang akan menghambat waktu mereka.
Semenjak mengenal Chika, Deril memanglah sering membawa motor dari pada mobilnya. Entahlah pria tampan itu lebih terlihat bebas setelah bertemu gadis tersebut.
**
Ckkiitt!!!
Kuda besi itu pun sampai ditempat tujuan. Deril hendak turun, namun pelukan erat dari gadis itu membuat ia mengerenyit heran.
"Chi?" panggilnya.
Hening. Tak ada jawaban apapun dari gadis itu. Sekali lagi Deril kembali memanggilnya, namun masih saja tak ada jawaban dari gadis tersebut. Ia membuka helmnya terlebih dahulu sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu perlahan seraya membalikan tubuhnya, hingga gadis itu tersungkur ke dadanya. Reflek tangan Deril menahan kepala gadis itu yang hampir tersungkur.
__ADS_1
Deg!
Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, kala wajah Chika menempel didadanya. Sejenak ia terdiam, sebelum akhirnya menoel pipi cantik itu pelan.
"Chi? Chika?" panggilnya, namun hanya gumaman kecil yang terdengar dari gadis itu.
"Chi?" panggilnya dengan kepala menunduk untuk melihat wajah sang gadis. Deril tersenyum menatap ciptaan Tuhan yang tampak sempurna dimatanya itu.
Chika mulai tersadar, ia mengerjapkan mata kala hembusan napas mengenai bulu mata lentiknya. Hingga ia mendongak, untuk melihat sumber tiupan itu.
Deg!
Keduanya terpaku dengan tatapan saling mengunci. Hembusan yang tadi menerpa bulu matanya, kini berpindah menerpa bibirnya. Hanya menyisakan jarak beberapa centi saja, untuk bibir keduanya saling bertemu.
"Tin ...."
Suara klakson mobil yang hendak keluar dari area parkiran sukses membuat Chika terlonjak, hingga bibirnya benar-benar bertemu dengan bibir Deril.
Deg!
Lagi-lagi keduanya terpaku, Chika membulatkan matanya dengan jantung berdegup semakin cepat. Buru-buru gadis itu menghindar dan berdehem keras. Ia segera turun dari kuda besi tersebut dengan wajah tampak kikuk. Sepertinya kesadarannya pun belum kembali sempurna. Hingga ia terlihat kebingungan akan keadaannya sekarang.
Deril kembali tersenyum dan ikut turun, kemudian ia memgang kedua bahu sang gadis, hingga Chika mendongak padanya. Lalu membuka helm dari kepala sang gadis dan merapihkan rambut yang sedikit berantakan itu.
Chika hanya diam dengan setengah nyawnaya yang masih melayang. Antara nyata dan mimpi dirasakan gadis tersebut.
Deril menangkup sebelah pipi gadis itu, hingga mendongak tepat kearahnya. Lalu satu tangannya meraih tangan sang gadis untuk ia tempelkan pada dadanya.
"Aku gak tau perasaan apa ini. Semenjak mengenalmu, jantungku sering kali berdebar tak beraturan," ungkap Deril. "Aku hanya ingin memastikan, apa kamu merasakan hal yang sama?" tanyanya.
Chika tersenyum lebar kemudian dengan berani gadis itu berjinjit dan mengecup bibir pria tampan itu, hingga Deril sedikit terlonjak kaget.
"Setidaknya, jika ini memang hanyalah mimpi. Aku ingin mengungkapkannya. Aku mencintaimu kak Deril, jantungku bahkan dua kali lebih berantakan. Semua perlakuanmu membuat seluruh tubuhku seolah tak bertulang. Seluruh organ syarafku berhenti kala kau menatapku dalam seperti ini," cerocos Chika.
Deril menarik satu sudut bibirnya sepertinya gadis itu menganggap itu semua hanya mimpi. Namun ada perasaam lega, kala gadis itu merasakan hal yang sama. Ia menunduk seraya menarik tengkuk gadis tersebut. Lalu menyambar bibir yang sudah dua kali menyapa bibirnya itu. Ia ingin menyecap lebih dalam rasa manis bibir ranum tersebut.
Chika tersadar kala gerakan bibir Deril terasa semakin nyata dan dalam. Bibir itu bergerak lembut namun begitu sensasional. Hingga membuat aliran darahnya tiba-tiba menanas dan mengalir lebih cepat.
'Ini? Bukan, ini bukan mimpi,' pekik Chika dalam hati.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Maaf yaa gaisss, mak othor abis mingguan dulu.. Jadi baru up🙈 Besok insyaAlloh crazy up lagi.. Tapi jangan lupa kasih votenya yaa, besok senin lohh!!!!