
Tak membutuhkan waktu lama, motor sampai didepan sebuah studio foto. Sepasang manusia itu turun dari kuda besi tersebut seraya membuka helm mereka. Chika mengerenyit heran akan tempat yang mereka datangi.
"Kita ngapain kesini kak?" tanya Chika heran.
"Kamu akan jadi modelnya si mama," celetuk Deril dengan entengnya.
"What? Model?" pekik gadis itu shok. Matanya membelakak dengan mulut terbuka lebar. Deril hanya tersenyum tanpa dosa seraya menganggukan kepala.
"Nggak, nggak! Aku gak bisa," tolak Chika menggelengkan kepala.
"Ayolah, kamu pasti bisa. Lagian aku lihat dipostingan, kamu bisa mengatur penampilan," bujuk Deril.
Seketika Chika menoleh dengan menaikan sebelah alisnya. "Postingan? Kak Deril lihat postingan aku?" selidiknya tak percaya.
"Eu, itu ...." Deril nampak berpikir sejenak merasa tercyduk karena sudah men-stalking sosial media gadis itu, yang baru pertama kali ia lalukan didalam hidupnya.
"Eh, kamu sudah datang Der?" Suara seorang wanita mengalihkan atensi mereka.
"Ma!" Segera Deril meraih tangan wanita yang diketahui mamanya itu. Diikuti oleh Chika meski dengan ragu.
"Emm ini siapa?" tanya mama Rilla.
"Saya Chika tante," balasnya.
"Wah cantik sekali, kamu pacarnya Deril atau gebetannya?" tanya wanita yang terlihat fashionable itu dengan nada menggoda.
Tentu saja hal itu membuat pipi Chika bersemu merah. Ia hanya tersenyum manis, hingga menampilkan gigi ginsulnya itu.
"Ya ampun! Gigimu cantik sekali. Fix lah, ini calon menantunya mama," celetuk mama Rilla.
"Ma!" peringat Deril. Memanglah mama nya itu, masih saja ceplas ceplos ngobrol dengan siapapun.
Wanita itu hanya cengengesan. "Ya udah, yuk masuk! Semua tim sudah siap," ajaknya seraya menyeret tangan gadis itu untuk mengikutinya.
"Ta-tapi," Chika yang hendak protes tak dihiraukan wanita cantik itu yang begitu semangat membawa sang gadis kedalam sana. Akhirnya Chika hanya pasrah mengikuti langkahnya.
"Ini pasti pertama buatmu ya?" tanya mama Rilla dan diangguki gadis manis itu. "Gak apa-apa santai aja, tante orangnya santai kok!" lanjutnya dan diiyakan Chika disertai seyumnya. Kini keduanya sudah siap didepan kaca berhiaskan lampu didalam sebuah ruangan.
Mama Rilla pun mulai mengeluarkan kemampuannya. Dengan cekatan wanita yang memasuki usia kepala empat itu menyulap wajah sang gadis bak barbie hidup. Hingga hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, Chika sudah siap dengan gaun tanpa lengan yang melekat pas ditubuhnya. Rambutnya disulap sedemikian rupa hingga menampilkan leher jenjang nan putihnya.
"Maaf bu," seorang wanuta datang menghampiri.
"Ada apa Mit?" tanya mama Rilla.
"Saya dapat panggilan, kalo model prianya gak bisa hadir. Dia baru saja mengalami kecelakaan. Sekarang dia ada dirumah sakit," jelas wanita itu.
__ADS_1
"Apa?" pekik mama Rilla shok.
"Duh, gimana dong. Mana waktunya udah mepet?" tampak wajah khawatir dari wanita cantik itu.
"Emm gimana kalo mas Deril aja yang gantiin bu?" tawar Mita, pegawai wanita tersebut.
Mama Rilla terlihat berpikir sejenak, "Ya udah, boleh lah. Cepat kamu siapin dia. Waktu kita gak banyak!" titah mama Rilla dan diiyakan wanita tersebut. Lalu segera meninggalkan ruangan itu.
Beberapa menit kemudian, Deril siap dengan setelan jas berwarna senada dengan Chika. Hingga keduanya dipertemukan didepan kamera.
Deg!
Kedua manusia itu terpaku dengan hati memuji kecantikan dan ketampanan masing-masing.
'Ya Tuhan! Makhluk apa yang Kau ciptakan ini?' tanya Chika dalam hati.
'Cantik sekali. Apa dia bidadari?' batin Deril yang tak lekat menatap wajah cantik Chika yang tampak begitu berbeda.
"Ehemmm!!"
Deheman keras mama Rilla, sukses menyadarkan kedua manusia itu. Keduanya pun bersiap meski dengan perasaan gugup dan gerakan kaku. Namun mereka mencoba untuk profesional. Mereka pun mengikuti setiap pose yang di instruksikan sang fotografer. Hingga mama Rilla tersenyum puas akan hasil dari keduanya yang begitu serasi.
Hanya membutuhkan waktu dua jam untuk menyelesaikan pemotretan dan pembuatan video berdurasi pendek tersebut. Dan akhirnya acara itupun selesai.
**
Deril tersenyum menanggapi. "Iya, sama-sama," balas Deril mengusek rambut gadis itu gemas.
Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya gadis itu menghasilkan uang. Selain dapat uang, ia juga dapat paper bag berisi alat kosmetik terbaru dari sang MUA terkenal itu. Bahkan ia juga dapat traktiran makan malam dari ibu pria dihadapannya.
"Kakak mau masuk dulu?" tawar Chika.
"Emm.. Kapan-kapan aja deh. Kasihan si mama masih butuh bantuan, titip salam aja buat bunda kamu ya," balas Deril dan diangguki Chika.
"Ya udah aku masuk dulu ya!" pamit Chika dan diangguki Deril.
Baru saja satu langkah Chika kembali berbalik, "Hati-hati ya, kak!" ucapnya ragu dan diangguki Deril disertai senyumnya.
"Selamat malam!" ucap Deril.
"Selamat malam juga kak!" balas Chika.
Akhirnya Chika memasuki pintu besar tersebut, sedangkan Deril kembali menaiki motornya dan melesat meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan yang belum bisa ia artikan jelas.
'Apa mungkin, kau sosok yang Tuhan kirim untuk membangkitkan kembali rasa ini?'
__ADS_1
**
Sementara itu di kafe masih terlihat ramai pengunjung. Semua karyawan dibuat sibuk hari ini. Waktu masih menunjukan pukul delapan malam. Masih tersisa satu jam untuk menutup tempat tersebut.
Bukan hanya karyawan, Sena pun ikut membantu dibagian kasir. Bak seperti waiters lain, ia menggunkaan apron dan topi yang dikenakannya.
"Caffucinno latte!"
Suara seorang pria membuat Sena mendongak, "Iya," balasnya. Sena terdiam sejenak menatap pria dihadapannya seraya memutar otak minimalisnya. Seperti mama Ay, Sena pun memiliki memori kecil untuk bisa mengenali seseorang.
'Kek kenal, dimana ya?' batinnya.
"Mbak?" sapaan pria itu sukses membuat Sena terkesiap.
"Ah, iya! Tunggu sebentar ya mas," titahnya. Sena beralih memberikan secatik kertas pada Gilang dibagan bartender.
Tanpa Sena sadari, pria itu terus memperhatikan gerak geriknya dengan tarikan diujung bibirnya. Sena yang tengah menghitung, tiba-tiba dapat serangan dari belakang.
Abi menghampiri seraya memeluknya dari belakang, bahkan mendaratkan kecupan diceruk yang berbekas merah dikulit itu. Seraya sudut matanya menatap tajam pria yang diam-diam memperhatikan istrinya tersebut.
"Naiklah!"
"Tapi ini belum selesai," balas Sena.
"Ada hal lebih penting, yang harus kita selesaikan!" ucap Abi dengan mata yang masih menatap pria.
Dan hal itu tentu membuat pria itu mengalihkan tatapannya kearah lain. Melihat sikap Abi ia mengerti, jika Abi tengah menunjukan bahwa perempuan itu miliknya.
"Ya udah aku keatas duluan ya!" ucap Sena seraya mengecup sekilas pipi Abi, yang mengerti jika sang suami memberi kode untuk menciumnya.
Setelah kepergian sang istri, Abi masih memperhatikan pria itu yang sudah mulai menjauh. Seperti ada sesuatu yang membuat Abi tertarik untuk mengetahui pria tersebut.
"Bi!" panggilan Adel mengalihkan perhatiannya.
"Apa kamu akan nginep lagi disini?" tanyanya.
"Mungkin," balasnya. "Kenapa?" tanyanya.
"Ah nggak, kasihan aja. Kalian 'kan pengantin baru, pasti butuh privasi. Apa gak sebaiknya kita jaga bergilir?" sarannya.
"Nanti kupikirkan!" balas Abi seraya berlenggang meninggalkan tempat tersebut.
Adel hanya tersenyum miris melihat sikap Abi. 'Tidak bisakah kau bersikap manis padaku? Seperti padanya?'
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Ayo gaiss kasih kopi mak othor.. Masih satu bab insyaAlloh yaa🤭 gak kopi apa aja dah, mau vote, kembang, nonton iklan atau apa saja. Yang penting dikasih bonus🙈