Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Menggemaskan


__ADS_3

Greppp!


Chika terkesiap kala tangannya dicekal oleh pria yang tengah duduk disampingnya. Segera ia menarik tangannya seraya berdehem keras.


"Emm maaf kak!" sesal Chika melengos, menyembunyikan rona merah dipipinya.


Deril tersenyum seraya mengambil kain putih tersebut dari tangan sang gadis, kemudian mengelap wajahnya itu sendiri. "Makasih!" ungkapnya.


"Maaf mas!"


Suara kang bengkel mengalihkan perhatian mereka. Hingga keduanya menoleh pada sumber suara.


"Sepertinya ini tidak bisa selesai hari ini. Mungkin baru selesai besok, gimana?" jelas montir dibengkel tersebut.


"Oh iya gak papa Mas. Nanti besok kita ambil lagi kesini," sahut Deril dan diiyakan pria dengan coretan hitam disana sini itu.


Kedua pasang manusia itu berlenggang meninggalkan tempat tersebut untuk kembali menuju kuda besi yang diparkir Deril tadi.


"Emm makasih ya kak. Jadi ngerepotin," ucap Chika tak enak hati.


Deril tersenyum menanggapi, "Nggak lah. Jangankan aku kenal siapa kamu. Gak kenal pun pasti aku bantu," balasnya.


"Ahhh kak Deril baik banget sih," pekik Chika pelan seraya menyenggol lengan Deril.


"Udah pinter main basket, baik, ganteng lagi. Upss!" Chika menutup bibirnya dengan telapak tangan, merasa keceplosan memuji sang idola dihadapannya. Sontak kakinya pun ikut berhenti seraya melengos merutuki bibirnya sendiri yang lupa situasi.


Deril terkekeh seraya ikut berhenti, kemudian menoleh mendekatkan wajah hingga sampai ditelinga sang gadis. "Ganteng ya?" godanya.


Seketika Chika terkesiap mendapat perlakuan itu. Chika menoleh dan menjauhkan diri agar jarak mereka sedikit menjauh. Terlalu dekat seperti itu membuat jantungnya berdegup tak karuan.


"Ya, ya ganteng. Kalo cantik 'kan cewek," ucap Chika beralibi. "Kek aku nih! Nih!" lanjutnya menunjuk wajahnya sendiri yang tersenyum menampilkan deretan giginya.


Sontak saja Deril terpaku melihat senyum manis itu. Jantungnya berdetak tak beraturan dengan mata tak lekat menatap kecantikan gadis itu.


"Iya. Sangat cantik," ucap Deril tanpa sadar.


Chika semakin melebarkan senyuman itu, lalu mengiggit bibir bawahnya untuk menahan jeritan bahagia dihatinya. Kemudian ia segera melengos sisertai deheman lagi. Seprtinya, didekat pria itu ia harus menyiapkan obat atau vitamin untuk melegak tenggorokannya yang tiba-tiba saja suka tercekat.


Deril pun terkesiap dari lamunnanya, kemudian ia kembali berjalan seraya memasukan kedua tangan kedalam saku celananya. Senyum terbit dari wajah tampan itu, merasa lucu akan tinggkahnya sendiri.


Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ia menoleh dan tidak mendapati sang gadis disampingnya. Hingga ia kembali berbalik kebelakang. Deril terkekeh kala melihat gadis itu seperti tengah menggerutu sendiri.


"Ayo!" ajaknya.


Chika menoleh dan baru menyadari jika Deril sudah berjalan didepan. Terlalu lama berperang dengan dirinya sendiri, membuat gadis itu melupakan sang pujaan yang sudah jauh melangkah didepan.


"Ah iya, kak!" ia pun segera berjalan menyusul Deril. Hingga mereka sampai disamping kuda besi silver itu.


"Nih!" Deril memberikan helm untuk digunakan sang gadis.

__ADS_1


"Gak usah kak," tolaknya halus. "Biar aku naik angkot aja," lanjutnya.


"Kenapa?" tanya Deril.


"Kakak pasti udah telat ke kampus. Aku gak mau ngerepotin lagi," balas Chika tak enak.


Deril tersenyum seraya mengusek pucuk kepala gadis itu pelan. "Kata siapa ngerepotin? Nggak sama sekali," terangnya.


"Tapi-" belum selesai ucapan Chika, tiba-tiba saja dirinya dibuat terpaku dengan perlakuan Deril yang mengenakan helm dikepalanya.


"Ya ampun! Tolong aku, lututku!" pekik Chika dalam hati.


"Ayo!" ajak Deril membuyarkan lamunan Chika. Gadis itu sampai tak sadar jika Deril sudah siap diposisinya.


"I-iya!" Dengan gugup Chika mencoba naik pada jok tinggi itu, ia yang sempat kesusahan lagi-lagi dibuat terpaku kala tangan Deril terulur padanya.


"Pegang tanganku!" titahnya. Namun Chika masih terdiam dengan pikiran entah kemana.


Segera Deril meraih tangan sang gadis hingga Chika pun terkesiap. Segera ia naik dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya hingga mereka siap melaju.


Brruummm!!


Greppp!!


Reflek Chika memeluk erat perut Deril karena terkejut. Deril tersenyum dibalik helmnya, Chika hendak melepaskanya namun pria tampan itu menahannya.


**


Kembali ke kafe.


Ceklek!


"Astaga!" pekik Rizky kala membuka pintu ruangan sang boss.


Pemandangan pertamanya adalah penampakan yang tak seharusnya ia lihat. Kedua sahabat lucknutnya tengah bermesraan diruangam tersebut.


"Asyem kalian!" umpatnya seraya masuk lebih dalam.


Sena tergelak seraya turun dari pangkuan Abi. "Lagian sih lu lama amat. Suami gue udah minta sarapan. Ya gue kasih-"


"Udahlah gak usah dijelasin. Lu emang ngerusak mata gue yang masih suci ini," selak Rizky seraya menyimpan makanan mereka diatas meja.


"Aisshh mata suci, terus itu film biru lu apain? Lu makan?" ledek Sena dan dibalas cebikan bibir pria yang mengaku dirinya lebih suka menjomblo itu.


"Menurut lu gimna?" tanya Abi mengalihkan perhatian pada laptop di hadapan mereka. Hingga mereka pun mulai fokus.


"Menurut gue, ini masih orang yang sama. Pasti mereka mengincar dokumen itu. Tapi menurut gue, ada yang janggal disini," celetuk Rizky.


Abi masih dengan wajah yang sama, namun hal itu tidak untuk Sena yang sudah menautkan alisnya heran. "Maksudnya?"

__ADS_1


"Coba kalian perhatikan dibagian ini!" titah Rizky memperlihatkan layar itu seraya mengklik satu adegan dimana para penyusup itu dengan mudahnya sampai di dapur. Meski kamera terhalang tembok, namun durasi dari kamera halaman belakang dan dapur hanya berjarak beberapa detik saja, seolah mereka masuk dengan begitu mudah. Tanpa harus membobol benda tersebut.


"Yakin jendela itu dikunci?" tanya Rizky.


"Lu lebih tau Andi," balas Abi.


"Jadi?" tanya Sena yang kurang memahami percakapan mereka.


"Ck! Sudahlah anak manja mana ngerti," ledek Rizky.


"Isshh lu ya," Sena gereget seraya melayangkan tangan keatas, namun segera ditangkap Abi dan digenggamnya. Rizky tergelak melihat muka Sena yang menekuk kesal.


Abi mengecup sekilas punggung tangan istrinya itu, lalu mengusek pucuk kepalanya. Hingga Sena tersenyum kembali. Tentu hal itu membuat Rizky brdecih kesal.


"Cih! Dahlah, gue mau makan. Lapar!" pria tampan itu memakan sarapannya dengan wajah kesal menatap mereka dengan hati bertanya-tanya.


'Apa gue juga bisa gitu? Terus siapa jodoh gue?' batinnya.


Tring!


Ditengah lamunannya notif chat masuk mengalihkan lamunannya. Ia meraih ponsel disaku celananya. Lalu melihat isi dari chat tersebut. Satu sudut bibirnya tertarik kala chat dari seseorang berderet disana.


Renata


[Kang ojeg?!]


[Lu dimana?]


[Woy balas!]


[Ihh ngeselin deh🙄]


Rizky tergelak sendiri membaca chat tersebut. Hal yang membuat sepasang manusia yang tengah saling suap-suapan itu terperanjat.


"Lu kenapa?" tanya Sena heran. Namun Rizky tak menajwab dan justru kembali sibuk dengan benda tersebut.


"Dasar aneh!" Sena menggelengkan kepala seraya memakan makanan disendok yang sudah stay didepan bibirnya.


Baru saja makanan itu masuk mulutnya, tiba-tiba saja Abi meraih tengkungknya dan merampas makanan itu dari dalam sana. Sena membolakan mata terkejut.


"Ini lebih enak," ucap Abi tersenyum tipis seraya menghapus jejak dibibir gadis itu. Hingga Sena tertawa dengan tingkah suaminya itu.


Tentu kelakuan mereka tak diketahui oleh Rizky yang sibuk sendiri. Senyum tak lepas dari bibirnya kala melihat foto gadis yang dikirim padanya dengan wajah masam memenuhi layar itu.


'Kenapa dia menggemaskan sekali?'


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa gaiss🤗 Yuk bucin bucinan😂

__ADS_1


__ADS_2