Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Sedang sibuk live


__ADS_3

Pagi menjelang, sinar mentari menyapa dua insan yang masih terlelap dibalik selimut. Kedua tubuh polos itu masih menempel tak sedetik pun saling melepaskan satu sama lain.


Sena bergeliyat kala pundaknya terasa kram. Bagaimana tidak? Setelah selesai dengan part malam pertamanya, ia tertidur diatas tangan Abi sebagai bantal. Terlalu lelah, hingga ia tak merubah posisinya hingga pagi.


Gadis cantik yang sudah melepas keperawanannya itu, mengerjapkan mata berulang kali. Matanya terasa sepet hingga sulit untuk terbuka. Hingga saat terbuka, pemandangan pertama yang ia tangkap adalah wajah tampan yang ternyata masih terpejam.


Sena tersenyum manis, bayangannya kembali pada malam tadi. Dimana pengalaman pertama yang baru ia rasakan diseumur hidupnya, sukses membuat ia merasakan surga dunia. Bahkan gadis itu terkekeh kala mengingat dirinya meminta pengulangan yang membuat Abi benar-benar terkapar.


Jarinya bergerak menyusuri lekuk wajah tampan itu, dengan pikiran yang masih belum percaya jika mereka benar-benar sudah bersatu dalam ikatan halal yang selalu ia yakini mustahil itu. Ia masih takut jika itu sebuah mimpi yang mungkin tengah mempermainkannya. Hingga cekalan dipergelangan tangan membuyarkan lamunannya.


Sena sedikit terkesiap, hingga didetik berikutnya senyum kembali terukir dari bibir manis itu kala melihat pria yang sudah berhasil merenggut kesuciannya tengah menatap teduh padanya.


"Selamat pagi, suami!" sapa Sena.


Abi menarik satu sudut bibirnya, lalu menarik kepala sang istri dan mendaratkan kecupan hangat dipucuk kepala itu.


"Pagi juga," balas Abi.


"Ishh cuma gitu aja!" protes Sena dengan bibir yang sudah maju kedepan.


Abi terkekeh seraya menyambar bibir manyun itu, mengecupnya singkat.


"Pagi juga. Istriku!"


Abi mengulang balasan selamat pagi itu. Hingga Sena melebarkan senyumnya seraya memeluk tubuh tegap itu. Abi pun membalas mendekap tubuh ramping itu.


"Aku mencintaimu Sena."


"Aku juga, sangat mencintaimu Bi."


Pelukan pun kian erat, disertai dengan Abi yang melabuhkan kecupannya bertubi-tubi dipucuk kepala Sena.


"Bi..."


"Hem?"


Sena mendongak menatap wajah tampan itu. "Kamu ingat gak, waktu kita tersesat ditaman bermain waktu kecil itu?" tanya Sena.


Abi menarik satu sudut bibirnya, "tentu, kenapa?" tanya Abi yang ikut menatap Sena.


"Waktu itu aku pernah berdoa, kamu tau gak doaku apa?" tanya Sena dan dibalas gelengan Abi dengan mengangakat satu alisnya.


"Apa?" tanya Abi.


"Gini nih doaku," Sena mengadahkan kedua tangan, dengan mengingat kembali kalimatnya waktu itu.

__ADS_1


"Ya Allah keluarkan aku sama Abi dari sini. Setelah keluar aku janji deh. Aku akan sayang sama Abi. Biar dia ngeselin tapi aku akan hidup sama dia sampai tua sama-sama," ucap Sena yang benar-benar mempraktekan waktu kecil dulu.


Sontak saja hal itu membuat Abi tertawa, tangannya reflek mengusek pucuk kepala sang istri gemas.


"Jadi sebelum kejadian itu, kamu gak sayang sama aku?" ledek Abi.


"Nggak lah, kamu 'kan ngeselin," ledek balik Sena.


"Oh, ngeselin."


Abi bangkit dari posisinya, lalu tiba-tiba saja menyerang pinggang istrinya itu. Seketika Sena tergelak dengan telapak tangan menahan tangan Abi.


"Hentikan, Bi. Geli ...." pekik Sena. Namun tak dihiraukan suaminya itu.


"Abi ihhh ..."


"Kenapa? Aku 'kan ngeselin." goda Abi dengan tangan yang tak mau berhenti.


"Iya, iya kamu gak ngeselin. Udah!" jerit Sena hingga Abi pun menghentikan aktifitasnya.


Terlihat gadis itu menarik dan membuang napasnya tak beraturan. Abi terkekeh melihat ekspresi itu. Sena yang baru tersadar jika dirinya polos segera mendekap dadanya.


"Kenapa ditutup, hem?" tanya Abi dengan tatapan menatap penuh cinta pada istrinya itu. Satu tangannya meraih tangan yang bertengger menutupi dua buah sintal nan padat itu.


Abi meraih tangan lembut itu, lalu mengecup bagian punggungnya. "Jangan malu! Status kita sekarang, justru mewajibkan itu," ucapnya.


Sena tersenyum dengan semburat merah yang nampak enggan menghilang dari pipi putih itu. Abi kembali keposisi, seraya meraih tubuh Sena untuk didekapnya.


"Apapun yang ada didirimu, semua ku tau. Termasuk pikiranmu," celetuk Abi hingga Sena menautkan alisnya.


'Pikiranku?' batinnya bertanya.


"Aku pun memikirkan apa yang kau pikirkan," Abi melonggarkan dekapannya seraya menatap kembali wajah cantik itu. Ia menunduk hingga wajah mereka sejajar.


"Tapi, itu gak akan kulakukan sekarang, karena ... Aku takut kamu sulit untuk berjalan," jelas Abi dengan nada menggoda.


"Isshh apaan sih?" protes Sena yang lagi-lagi dibuat malu.


Abi bahkan bisa menebak pikiran Sena yang sudah traveling jauh melanglang buana hingga ke nirwana. Sena pun segera menghindar dan menarik selimut, hingga menutupi wajahnya. Menyembunyikan wajah yang sudah seperti kepiting rebus itu.


Abi hanya terkekeh menanggapi. Ia hendak meraih kain putih itu, namun suara dering ponsel mengalihkan atensinya. Suara nyaring itu terdengar dari layar pipih miliknya.


Ia pun menggapai benda yang terletak diatas nakas itu. Dahinya berkerut kala tau siapa yang menghubunginya. Abi masih nampak diam, terlihat ragu untuk pria itu mengangkat panggilan tersebut.


Sena yang merasa terganggu dengan suara itu, segera membuka kain yang menutupi wajahnya. Ia yang melihat Abi hanya diam, merasa bibirnya gatal untuk tak bertanya.

__ADS_1


"Kenapa gak diangkat?" tanya Sena heran.


"Apa kamu mau mengangkatnya?" bukan menjawab Abi justru menyodorkan benda itu pada Sena. Tentu saja hal itu membuat Sena bingung.


"Aku? Kenapa harus aku?" tanyanya bingung.


"Ini dari Adel," balas Abi.


Mendengar nama wanita yang menghubungi, sontak saja membuat gadis itu bangkit dari tidurnya dan segera merampas ponsel tersebut. Untuk apa pagi-pagi wanita itu menghubungi suaminya? Pikirnya.


Wajah cantik itu seketika masam. Ia mengotak-atik benda itu dengan bibir komat kamit tak jelas.


"Nih!"


Sena memberikan ponsel itu kembali pada sang suami. Abi tak tau apa yang dilakukan sang istri pada benda itu. Yang jelas dari raut wajah cantik itu dapat ditebak, jika istrinya itu kemungkinan tengah cemburu.


Hingga saat benda itu berpindah ketangannya, tiba-tiba notif chat masuk membuat ia mengerenyit setelah membaca isi didalamnya.


[Maafkan aku sudah mengganggu!]


Hingga ia membaca pesan sebelumnya yang dapat ditebak dari istrinya itu.


[Jangan ganggu! Sedang sibuk live!]


Abi tertawa kecil membaca isi teks itu. Ia menyimpan kembali benda itu keatas nakas dan kembali memeluk tubuh berbalutkan selimut yang menutupi sekujur tubuh istrinya itu.


"Live apa hem?" tanya Abi.


"Au ah!" ketus Sena.


"Apa live seperti ini?" tanya Abi dengan tangan sudah begeliyara pada paha mulus itu.


Reflek Sena membuka kain yang menutupi wajahnya itu. Hingga dengan cepat Abi menyambar bibr menekuk sang istri yang tampak menantangnya.


Alih-alih hanya ingin mengecap sebentar, namun justru ciuman itu kian dalam. Hingga keduanya hanyut dan siap mengulang candu itu. Namun belum juga sejoli itu saling menyapa, tiba-tiba saja dering ponsel kembali terdengar dan membuyarkan konsentrasi mereka.


"Ck! Ambyar ...."


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknyaa yaa gaisss😙 nih kasij bonus yang seger-seger🤤



__ADS_1


__ADS_2