Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Penyesalan


__ADS_3

Diruangan bercat putih, seorang perempuan tengah terbaring lemah diatas brankar. Ditemani seorang pria yang senantiasa duduk dikursi, disamping brankar tersebut. Tangan pria itu tak lepas menggenggam tangan sang perempuan yang masih memejamkan mata.Tatapan datar dengan lingkar mata yang menghiasi dan nampak sayu itu, tergambar jelas jika pria itu tak memejamkan mata sama sekali.


Ia tak berhenti merutuki dirinya dalam hati, merasa tak bisa melindungi istrinya sendiri. Ia merasa gagal untuk menjaga sang pujaan hati sesuai janjinya dihadapan Tuhan. Kata maaf tak henti digumamkan pria tampan itu, bahkan ia melupkan luka yang sudah mengering di bagian wajahnya.


"Maafin aku Sen, maaf!" gumamnya.


Abi membawa tangan lembut sang istri kedepan bibirnya, lalu mengecup punggung dan telapak tangan itu berulang kali. Penyesalan begitu dirasa pria tampan itu, bagaiamana ia bisa membawa sang istri dalam masalah besar seperti itu? Sungguh dirinya merasa bodoh sudah melibatkan wanita tercintanya dan hampir membuat ia kehilangan sosok berharga dalam hidupnya itu.


Abi yang tengah menundukan kepala, dibuat mendongak kala merasakan tangn lembut itu bergerak. Sena membuka matanya perlahan. Efek dari obat bius yang diberikan dokter membuat perempuan cantik itu terlelap hingga pagi. Luka dibagian punggungnya tidak terlalu dalam, namun tetap mendapat jahitan karena goresan panjang yang membuat kulit perempuan itu mengelupas.


"Bi ...." cicit Sena.


Abi segera mendekat, seraya mengelus rambut sang istri. "Iya, sayang?"


"Hissh sayang," ledek Sena pelan. Meski dalam keadaan seperti itu Sena masih saja terlihat baik-baik saja.


Abi tersenyum merasa lega, kemudian mengecup dalam kening istrinya itu. "Apa Sensen?" godanya.


"Ishhh udah bagusan sayang," kekeh Sena dan hanya dibalas usekan dipucuk kepala dari Abi.


"Ssttt!!" Sena meringis kala merasa perih dipunggungnya.


"Apa sakit?" tanya Abi khawatir dan hanya diangguki Sena.


"Aku mau minum," pinta Sena. Abi segera membantu sang istri untuk duduk. Lalu menuangkan air diatas nakas untuk istrinya itu dan memberikannya.


Sena mengerenyitkan dahi kala baru menyadari penampilan Abi. Ia segera menangkup wajah suaminya itu.


"Ya ampun! Kenapa ini gak diobatin?" tanya Sena, mengusap pelan darah yang sudah mengering diujung bibir Abi.


"Terus ini?" tanyanya lagi mengusap bawah mata sang suami yang nampak lingkaran. "Kamu gak tidur?" lanjutnya.


Sena pun memindai penampilan Abi dari atas hingga bawah, hingga ia dibuat shok. Ternyata suaminya itu masih berpenampilan seperti kemarin. Bahkan terlihat begitu berantakan, hingga tak menampilkan Abi yang selalu terlihat cool.

__ADS_1


Abi tersenyum menanggapi setiap pertanyaan sang istri, "Melihat keadaanmu seperti ini, kamu pikir aku ingat hal lain?" tanyanya.


Abi pun menggengam kedua tangan istrinya itu dan mendarat kecupan pada tangan tersebut. "Aku takut Sen, sungguh aku sangat takut," ucapnya tertunduk.


Sena melepaskan tangan mereka dan memeluk tubuh tegap yang kini duduk ditepi brankar. Menyembunyikan wajahnya didada bidang itu. Abi pun membalas mendekap tubuh istrinya itu.


"Tapi setidaknya, kamu mengobati lukamu. Aku gak suka lihat wajah tampan mu kek gini," ucap Sena membelai rahang Abi, setelah ia melepaskan dekapannya.


Abi tersenyum, "Iya, nanti aku obati," balasnya seraya mengusap lembut punggung tangan yang bertengger di rahangnya itu. Hingga keduanya tersenyum bersama.


Ditengah keuwuan kedua insan tersebut, tiba-tiba saja pintu terbuka. Hingga mengalihkan atensi mereka.


Ceklek!


"Sensen!" Dua orang wanita memasuki ruangan tersebut.


"Mama!" pekik Sena kaget.


Segera mama Ay mendekat, hingga Abi berdiri dari posisinya. Kemudian wanita paruh baya yang masih saja cantik diusianya itu duduk ditepi ranjang bekas Abi tadi dan segera mendekap tubuh putrinya. Isak tangis pun terdengar dari ibu dua orang anak itu.


"Kita gak apa-apa Ma," balas Sena meyakinkan.


Mama Ay pun semakin mengeratkan pelukannya kala rasa khawatir yang disertai rasa lega juga terasa dihatinya. Namun hal itu justru membuat Sena meringis, kala lukanya tertekan oleh tangan sang mama.


"Ssstt aw, aw! Jangan kenceng-kenceng, Ma. Sakit," ringisnya.


Segera mama Ay melerai dekapannya itu, "Astaga! Maaf, maaf sayang. Mama lupa," ucap mama cengengesan dan hanya dibalas wajah cemberut sang putri.


"Emang sebelah mana?" tanya mama Ay dan ditunjuk Sena, hingga ibu dan anak itu sibuk berdua.


Sementara itu, satu wanita lagi mencekal pergelangan tangan Abi. Tanpa bicara wanita itu menyeret Abi untuk duduk disofa panjang ruangan itu. Ia membuka kotak p3k yang entah sejak kapan sudah bertengger dimeja didepan sofa tersebut. Kemudian menuangkan cairan alkohol pada kapas untuk membersihkan luka diwajah Abi.


"Harusnya kamu juga memperhatikan dirimu sendiri," ucapnya dengan telaten membersihkan darah yang mengering itu.

__ADS_1


"Jika tidak, bagaimana kamu bisa menjaga istrimu?" lanjutnya yang terdengar sebuah omelan.


Abi mnecekal pergelangan wanita yang diketahui ibunya itu, "Maaf!" ucapnya.


"Ck! Buat apa?" tanya momny Sa yang kembali melanjutkan aktifitasnya itu.


"Sudah menyembunyikan ini dari kalian," balas Abi. Ia tau pastilah mereka sudah tau kejadian ini. Dan hal itu membuat momy Sa menarik satu sudut bibirnya.


Ia mengoles salep dibagian luka-luka itu untuk tahap terakhir pengobatan. Kemudian wanita itu menghembuskan napas panjang setelah selesai dengan aktifitasnya. Lalu memegang kedua bahu sang putra, dengan menatap dalam matanya.


"Kamu tau? Mommy kecewa sama kamu. Apa menurutmu, mommy tidak begitu berarti. Hingga tidak mengetahui aktifitas putranya sendiri?" Satu tetes dari ujung matanya jatuh begitu saja.


"Maaf!" Hanya satu kata yang keluar dari Abi seraya menunduk.


Mendengar pertanyaan sang mommy, membuat hati kecinya tersentil. Sang mommy seolah mempertanyakan dari mana dirinya lahir. Padahal ia tak bermaksud menyembunyiakan itu dari kedua orang tuanya. Ia hanya ingin membuktikan jika ia bisa mandiri dan bisa menafkahi Sena yang dulu sempat terhalang restu mereka.


Mommy Sa menangkup kedua pipi putranya itu. "Tapi mommy bangga sama kamu," ucapnya yang berhasil membuat Abi mendongak menatap wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya itu.


Mommy Sa tersenyum. Senyum langka yang wanita itu berikan. "Putra mommy sudah gede," lanjutnya.


Abi ikut tersenyum meski tipis. Ia berhambur mendekap wanita yang sudah memberikannya kehidupan itu. Menyalurkan rasa terima kasih dan syukur pada wanita hebat tersebut, yang tak mampu ia ucapkan dengan beribu kata.


"Makasih Mom! Makasih!" lirih Abi yang ikut meneteskan air matanya. Momny Sa hanya mengangguk seraya mengusap punggung putra satu-satunya itu.


Tentu saja pemandangan itu menjadi tontonan haru untuk ibu dan anak diatas brankar itu. Sena memeluk tubuh sang mama seraya menonton suami dan mertuanya disana.


"Ahh, mereka sweet banget ya, Ma?" celetuk Sena dan ditanggapi kekehan mama Ay.


"Kenapa? Kamu ngiri?" ledek Mama Ay dan dibalas decakan kesal putrinya itu.


"Isshh, Mama gak peka," protes Sena.


Mama Ay tertawa dan mendekap tubuh sang putri seraya membelai lembut kepalanya. "Kita itu selalu sweet, Sen. Dan akan selalu gitu," ucapnya dan dibalas senyum manis oleh Sena. Hal itu lah yang Sena inginkan, mendapat dekapan hangat dan belaian lembut sang mama adalah hal paling membuat hatinya nyaman, selain dari Abi.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknyaa ya gaiss😘 yuk ramaikan!!!


__ADS_2