Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Sang mantan


__ADS_3

**


"Aku mohon, batalkan pernikahanmu! Aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu ..." ucap seorang gadis diiringi isak tangis memilukan dari bibirnya.


Kedua tangannya menggenggam erat sebelah telapak tangan kekar seorang lelaki dihadapannya. Lelaki itu hanya diam tak menimpali, membiarkan gadis itu menangis tertunduk.


"Aku tahu, aku salah dan aku menyesal. Tapi bisakah kamu memberiku kesempatan untuk kita bersama seperti dulu." lirih gadis itu disela isak tangisnya.


Lelaki itu masih diam, terlalu enggan untuknya menimpali ucapan gadis yang berhasil menorehkan luka dalam dihatinya. Disaat cinta yang ia miliki hanya untuk gadis itu, justru pengkhiatan yang harus ia dapat dari sang gadis.


Lelaki itu melepaskan perlahan genggaman tangan sang gadis. Dan hal itu berhasil membuat gadis itu mendongak menatap wajah tampan lelaki yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu. Ia menggelengkan kepala kala tangannya benar-benar terlepas dari lelaki itu.


"Maaf! Aku gak bisa," ucapnya menatap gadis itu.


"Kenapa, Der? Bukannya kamu hanya mencintaiku? Kenapa kamu gak bisa membatalkan pernikahan itu?" cecar sang gadis dengan beberapa pertanyaan.


"Aku tahu, kamu gak pernah mencintai Sena. Iya 'kan? Bagimu Sena hanya adek, aku tahu itu." lanjutnya dengan isak yang masih tersisa dari bibir ranum itu.


"Aku mohon, kembalilah padaku!" tangis gadis itupun pecah. Kepalanya tertunduk pada bahu lelaki itu dengan tubuh bergetar hebat.


Lelaki itu hanya menghembuskan napas pelan, seraya memejamkan mata. Rasa sakitnya mengalahkan rasa cinta yang begitu besar pada gadis itu. Tubuhnya bergerak ingin mencoba menggapai sang gadis, namun hatinya menolak keras untuk kembali luluh pada sosok yang tengah mengungkapkan penyesalannya.


Ia menarik dan menghembuskan napas secara teratur untuk menetralkan segala emosi yang memenuhi hati dan pikirannya. Kemudian, ia memegang kedua bahu sang gadis seraya memejamkan sejenak matanya.


"Apa meminta bagitu mudah bagimu? Apa bertanya begitu sulit?" tanya lelaki itu, hingga sang gadis mendongak.


"Apa gak ada niatan dirimu bertanya, bagaimana keadaan hatiku? Apa kamu gak ingin tahu bagaimana diriku setelah kau pergi begitu saja?" lanjutnya. Setes bulir hangat keluar dari salah satu ujung mata lelaki itu, kala hatinya masih tak bisa diajak berdamai.


Gadis itu hanya terisak lirih. Mengingat kesalahan besar yang pernah ia lakukan. Rasa bersalah menyeruak pada lelaki dihadapannya. Seperti kata maaf saja tidak akan cukup membuat lelaki itu kembali padanya.


Lelaki iti tersenyum kecut. "Apa kamu tahu, seberapa besar cintaku untukmu? Apa kau tahu seberapa besar aku memprioritaskanmu?" tanyanya, hingga berhasil membuat gadis itu semakin kencang menangis.

__ADS_1


"Dengan mudah kau mematahkan hatiku, menorehkan luka yang butuh banyak waktu untuk menyembuhkannya."


"Dan sekarang," pria itu menjeda ucapannya sejenak, dengan mencoba menetralkan dirinya.


"Kamu memintaku kembali. Semudah itukah?" Bagai tertampar, gadis itu menangis sejadi-jadinya.


"Maafin aku, Deril. Maafin aku!" sesal gadis itu disela isak tangisnya yang semakin tak terkendali.


"Aku memang mencintaimu Sisil, tapi itu dulu. Sebelum kau sendiri yang membuatku melupakan rasa itu," ucap Deril.


"Aku memafkanmu, namun tidak untuk kembali. Itu terlalu mustahil. Sekeras apapun memperbaiki sebuah cermin yang pecah, hasilnya tetap saja sama. Tak ada gunanya." lanjutnya. Kemudian lelaki itu berlalu pergi, meninggalkan gadis itu yang terus memanggilnya, disela tangisnya yang tak berkesudahan.


"Der, Deril ....!!!" panggilnya, lalu ia terduduk disebuah bangku panjang ditempat luas itu.


Ia tertunduk seraya memagang baju bagian dadanya. Rasa sesal dan bersalah begitu menyesakannya. Gadis itu tak berhenti menggumamkan kata maaf disela isak tangisnya.


Bayangannya kembali pada kejadian dua hari yang lalu, ketika ia menerima undangan pernikahan mantan kekasihnya itu. Sisil yang memang ingin kembali pada lelaki tampan itu, tentu tak terima jika lelaki itu menikahi gadis lain. Ia pun meminta sang mantan untuk bertemu disebuah taman yang sering mereka kunjungi dulu, saat keduanya masih mengenakan seragam putih abu.


Mendapat julukan pasangan terbucin membuat Sisil tak pernah menduga, jika hubungannya akan berakhir begitu saja dengan Deril, salah satu most wanted yang begitu digilai para sisiwi disekolah mereka waktu itu. Kesalahan yang diperbuatnya, benar-benar membuat lelaki tampan itu terluka. Hingga tak ada kesempatan kedua untuk memperbaikinya.


**


Sementara itu masih ditaman yang sama, Deril berjalan menyusuri taman tersebut. Melihat pemandangan hijau untuk sedikit menyejukkan hatinya. Meraup banyak-banyak oksigen yang masih terasa segar dari banyaknya tumbuhan dan pohon yang tertanam disana. Ia membiarkan kedua tangannya memasuki saku celana. Dengan mata terpejam, menikmati hembusan angin yang menerpa wajah tampannya.


"Kak Deril?!"


Sapaan seseorang berhasil membuat mata lelaki itu terbuka seraya menolehkan wajah, melihat sumber suara yang memanggilnya. Nampak seorang gadis berbalutkan seragam putih abu tengah tersenyum manis padanya. Deril sedikit menaikan sebelah alisnya, kala tak mengenal siapa gadis tersebut.


"Hai kakak!" sapanya lagi, lalu gadis itu mengulurkan tangan kehadapan Deril.


"Kenalin aku Chika. Aku adek kelasnya kak Deril," ucapnya memperkenalkan diri.

__ADS_1


Senyum gadis itu semakin manis kala memperlihatkan gigi ginsulnya, yang sukses membuat Deril ikut tersenyum seraya menyambut jabatan tangan itu.


"Oh iya, aku penggemar kak Deril loh. Aku suka banget saat kakak bermain basket. Kakak kapten paling keren." cerocos gadis itu, bahkan jempolnya terangkat saat memuji lelaki tampan itu.


"Apa boleh aku minta foto sama kakak?" tanya gadis itu dengan antusias.


Deril tersenyum, julukan kapten basket didapatnya kala disekolah dulu. Berbeda dengan sekarang, setelah putus dengan Sisil saat lulus sekolah waktu itu, Deril sudah tak aktif lagi dalam tim basket. Lelaki tampan itu memilih memfokuskan diri untuk mempelajari bisnis dijurusannya sekarang.


"Sekarang aku bukan anggota tim basket," balas Deril.


"Loh kenapa? Kakak gak main basket lagi?" tanya gadis itu shok, lalu dibalas gelengan lelaki itu disertai senyumannya.


"Yah sayang sekali. Padahal kakak sangat berbakat." sesal gadis itu.


"Tapi gak apa-apa? Aku tetap suka sama kakak." lanjut sang gadis dengan kembali bersemangat. Namun hal itu membuat Deril menaikan alisnya sebelah.


"Eh, maksudku, aku tetap penggemarnya kakak. Iya!" lanjutnya dengan sedikit gelagapan. Deril terseyum lebar melihat tingkah gadis itu.


Terlihat kegugupan dari gadis itu, hingga ia dengan cepat mengambil layar pipih dari tas yang digendongnya. Kemudian mengotak atik benda itu hingga kamera depan siap menangkap gambar mereka.


Dengan sedikit ragu, gadis itu mengangakat tangan kanan yang memegang ponsel tersebut dari sebelah kanan, lalu mengangkat jari telunjuk dan tengah hingga berbetuk V dari tangan kirinya. Tanpa diduga Deril ikut melakukan hal yang sama, yang disertai senyuman manisnya. Dan hal itu membuat Chika ikut melebarkan senyumnya, hingga gigi ginsul itu kembali terlihat.


Cekrek!


Satu foto berhasil didapatinya. "Sekali lagi yaa kak!" tawar gadis itu dan diiyakan Deril.


Chika sudah siap mengarahkan kamera itu, kali ini jari tangan kirinya berganti membentuk love ala korea. Begitupun Deril yang melakukan hal yang sama. Namun tanpa diduga, tangan kanan Deril justru merangkul pundaknya. Hingga membuat gadis itu sedikit terlonjak.


Deg!


'Jantung gue!'

__ADS_1


******


Nih, masuk juga kisah Deril yaa🤭 yuk jejaknya jangan lupa! Kita siap ijab kabul😘😘


__ADS_2