Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Gagal jadi mantu


__ADS_3

Flash back off~


**


Tatapan semua orang mengarah pada kedua manusia yang tengah kena sidang itu. Seluruh anggota keluarga nampak hadir disana tak terkecuali satu keluarga yang akan menjadi besan mereka.


Sena menunduk. Rasa takut disertai malu menyeruak dihatinya. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Ingin menampik tuduhan itu, namun Abi justru memperkeruh suasana dengan menyelak ucapan sang mama tadi pagi.


"Sekarang, siapa yang akan jelasin tentang kejadian semalam?" tanya papa Ar.


Kedua manusia itu masih diam. Abi hanya menatap datar kedepan, tanpa ingin menjawab. Berbeda dengan Sena yang hanya menunduk dengan tangan bergerak gelisah.


Abi yang menyadari kegelisahan Sena, meraih tangan gadis itu dan membawanya berdiri. Sena pun mendongak shok, menatap tak percaya kearah Abi. Semua orang pun dibuat terkejut, hingga mendongak mentap kearah sejoli itu.


"Kalian sudah tau dan gak perlu ada penjelasan." ucap Abi masih dengan air muka yang sama.


"Kenapa kalian lakuin itu? Kita ini keluarga?" tanya mimih Asti sendu. Kini wanita baya itu tengah dirangkul oleh sang adik, oma Asmi.


"Tanyakanlah pada cinta yang membawa kami sampai dititik ini!" balas Abi, seraya berlenggang menggandeng tangan Sena keluar dari ruangan itu.


Meninggalkan orang-orang dengan hembusan napas panjang. Suasana masih hening tak ada komentar apa pun dari orang-orang disana. Hingga Mimih Asti memilih untuk pergi kekamar bersama oma Asmi.


"Maaf ya, Van. Ini diluar dugaan kita." sesal papa Ar.


Sungguh Ia merasa malu pada sahabatnya itu. Ia yang memaksa Devan untuk menjodohkan Sena dengan Deril. Namun kenyataan Ia pula yang harus memutuskan itu semua. Bukan karena Ia percaya Sena dan Abi berbuat seperti itu, namun sepertinya Ia tak bisa menghentikan cinta diantara kedua anak manusia itu.


"Gak apa-apa, bang! Santai aja." balas Devan yang masih saja selalu santai saat bicara.


"Maaf ya, Der!" Kini pria paruh baya itu beralih meminta maaf pada mantan calon mantunya itu.


"Yah, aku gagal jadi mantu Papa." kekeh Deril yang membuat mereka tersenyum.


"Ini sudah aku prediksi dari awal, Pa. Jadi, it's so have fun! Sensen tetap jadi adek ku dan itu gak akan berubah." terang Deril.


Papa Ar tersenyum, Ia tahu betul memang tak ada perasaan apa pun antara Deril dan Sena. "Makasih ya, Nak!"


"Ck! Bang Ar sih, ngeyel! Aku 'kan udah peringatin dari awal. Ini tuh gak bisa dilanjutin. Kita juga 'kan pernah muda." protes Rilla.


"Iya, bener tuh!" balas Devan, "gimana menurutmu Ren?" tanyanya pada Rendi.


"Entahlah. Sejujurnya, aku ogah besanan sama dia." ucap Rendy seraya menunjuk Papa Ar dengan dagunya.


"Cih! Percaya diri sekali." balas papa Ar dengan nada ledekan.

__ADS_1


"Dah lah kalian ini, udah tua juga. Sekarang pada gak mau besanan. Terus kemarin-kemarin kenapa pada mau jadi keluarga?" selak papih Age.


"Iya. Aneh kalian ini. Udahlah sekarang bukan waktunya bahas itu lagi. Gimana ini rencana pernikahannya?" tanya Timom Siska.


"Ya gimana, pernikahan tetap berlanjut. Cuma mempelai prianya aja mungkin diganti." kekeh Rilla.


Mama Ay menunduk seraya memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Ia lebih memilih meninggalkan mereka untuk mengambil obat didalam kamar. Sungguh Ia masih belum bisa menerima ini, baginya Abi dan Sensen adalah putra putrinya. Mungkin akan sedikit terasa aneh kala harus melihat mereka menjadi mempelai pengantin.


"Menerima mungkin lebih baik Ay." Suara Aysa mengalihkan lamunan Mama Ay.


Wanita itu tersenyum pada sepupu yang sebentar lagi akan menjadi besannya itu. Aysa mendudukan diri disamping Mama Ay, seraya menepuk bahunya.


"Apa menurutmu ini gak aneh Sa?" tanya mama Ay.


"Tidak juga." balas Aysa tersenyum simpul.


Mama Ay memeluk tubuh wanita yang hampir mirip dengannya itu dari samping. "Kita besanan Sa?" tanyanya.


"He'em!" balas Aysa seraya mengusap tangan Mama Ay yang bertengger di bahunya.


"Oh ya ampun! Aku gak bisa bayangin bagaimana wajah cucu kita." desah Mama Ay yang nampak frustasi.


Aysa terkekeh, Ia pun memikirkan hal yang sama. Dirinya dan sepupunya itu saja sudah memiliki wajah yang sama. Belum lagi Abi dengan Sensen sendiri yang memiliki banyak kemiripan, sudah dapat dipastikan bagaimana keturunan mereka kelak.


**


Abi menoleh dengan tangan yang sudah memegang helm ditangannya. "Kenapa?" tanyanya.


Sena sedikit ragu untuk bicara, namun Ia harus tetap mencoba untuk bicara. "Apa keputusan kita ini benar?" tanyanya.


Abi menghembuskan napas pelan, "kenapa? Apa kau ragu padaku?" tanya Abi.


"Bukan gitu, tapi apa ini tidak aneh?" sergah Sena seraya menundukan kepala.


Abi menyimpan kembali helm nya, lalu memegang kedua bahu kekasih hatinya itu. "Tatap aku!" titahnya.


Seketika Sena mendongakan wajah ke arah Abi. Mentap dalam mata elang itu yang juga tengah menatapnya.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Abi dengan nada lembut. Sena terpaku mendapati tatapan penuh cinta yang dilayangkan Abi.


Hatinya menghangat, hingga matanya pun ikut memanas. Tanpa menjawab Sena memeluk tubuh tegap itu. Bulir air itu ikut luruh bersama dengan rasa lega didada. Beban yang seakan tertanam disana hilang terhapus rasa bahagia yang sulit Ia ungkapkan dengan kata.


Abi menyunggingkan senyum seraya membalas mendekap tubuh tinggi nan ramping itu. Dengan kecupan yang Ia daratkan bertubi-tubi diatas pucuk kepalanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Sena, dan itu takan pernah berubah." ungkap Abi.


"Cukup dengarkan aku dan hatimu! Abaikan kata mereka!" titah Abi dan diangguki Sena.


**


"Seleramu gak berubah 'kan?" kekeh Sena ketika dirinya memindahkan baso-baso dari mangkuknya keatas mangkuk Abi.


Abi terkekeh, "tidak ada yang berubah padaku. Mungkin kau yang berubah?"


"Aishh apa yang berubah dariku? Aku tetap aku," protes Sena tak terima.


Abi yang duduk di kursi berhadaapn dengan gadis itu mencondongkan wajahnya, mendekat hingga mengikis jarak.


"Kamu berubah. Semakin cantik!" ucap Abi yang disertai senyuman yang jarang Ia tampilkan itu.


"Isshh apaan sih?!" protes Sena dengan memalingkan wajahnya yang tiba-tiba saja memerah.


Abi terkekeh dengan tatapan tak lepas menatap wajah yang begitu Ia puja itu. Sena yang merasa malu mengusap wajah tampan itu.


"Udah deh, jangan lihatin terus!" gerutu Sena. Jujur terlalu malu untuk gadis itu mendapat perlakuan seperti itu.


Abi kembali tersenyum bahkan lengkung itu terlihat semakin lebar. Nampak jelas, pria tampan itu enggan melunturkan senyumnya. Rasa bahagia yang menyeruak dihatinya tak dapat Ia sembunyikan begitu saja.


"Makanlah! Setelah itu kita akan kesuatu tempat." titah Abi seraya menegakan diri.


"Kemana?" tanya Sena menaikan alis, karena terlalu penasaran.


"Nanti kau tahu." balas Abi.


Sena berdecak kesal karena tak mendapat jawaban dari mantan yang sekarang menjadi kekasihnya lagi itu. Tak ingin ambil pusing, Ia pun lebih memilih memakan seblaknya daripada harus memikirkan itu.


Abi terkekeh melihat ekspresi menggemaskan sang gadis. Ia pun ikut menikmati makanan yang sudah lama baru Ia cicipi lagi.


******


Holla, Abi Sensen back😍 Jangan lupa jejaknya yaa..!! Tunggu malam satu bab lagi😅



Ada yang kangen?


__ADS_1


Yang kangen acungkan jempol😍


__ADS_2