Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Budak cinta


__ADS_3

Tring!


Suara notif chat, menghentikan pergerakan kedua jempol tangan Abi yang tengah menari diatas layar pipihnya itu. Ia hendak mengabaikan chat tersebut, namun melihat itu dari sepupunya, Ia pun segera membukanya.


"A...a...ya...ya...yahhhh ...." pekik Rizky disamping lelaki berwajah datar itu. Ia menepuk pahanya sendiri, dengan ekspersi gemas.


"Kenapa berhenti sih Bi? Mati 'kan?" erangnya frustasi.


Bukan menanggapi komentar Rizky, Abi justru terkekeh menatap sebuah gambar yang dikirm Kia. Foto sang calon istri yang nampak begitu lucu terpampang disana. Hal itu tentu saja membuat Rizky berdecak kesal.


"Ck! Lu emang ngeselin, Bi! Gue udah capek-capek lu malah keluar begitu aja," gerutu Rizky yang sama sekali tak ditanggapi lelaki yang sibuk memperhatikan benda ditangannya.


Rizky yang penasaran akan apa yang membuat sahabatnya itu hilang fokus, dengan cepat ia merampas paksa benda itu dari tangan Abi. Kemudian melihat isi didalamnya. Matanya membelakak dengan mulut terbuka lebar, lalu didetik berikutnya tawa pun pecah dari lelaki tampan itu.


"Astaga! Itu Sensen?" tanya Rizky disela gelak tawanya. Seketika ia pun melupakan game nya yang sudah kalah dan berakhir.


Abi merampas kembali ponselnya ditangan Rizky. Senyum tipis terbit dari pria tampan itu, seraya mengotak atik benda tersebut. Ia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, waktu menujukan jam lima sore. Hembusan napas pelan dikeluarkan pria dingin itu, entah kenapa hari ini berlalu begitu terasa lama. Ia tak sabar menunggu mentari segera memasuki peraduannya, untuk segera bisa bertemu kekasihnya itu.


"Ya elah yang bucin. Foto jelek aja dibikin walpaper, ya?" ledek Rizky hingga kembali tergelak.


Seperti yang dikatakan Rizky, Abi menggunakan foto Sena yang dikirim Kia untuk menjadi walpaper ponselnya.


"Dibuat seperti apapun, untukku dia tetap yang tercantik." balas Abi seraya tak lekat menatap foto itu dengan tarikan disudut bibirnya.


"Astaga, cinta memang mengerikan. Apa ini yang disebut cinta itu buta? Ck! Ck! Ck!" Rizky menggelengkan kepala, merasa tak percaya dengan kelakuan sahabatnya itu.


Hingga ia pun berpikir. Apa jika dirinya jatuh cinta, ia pun akan seperti itu? Menjadi budak cinta yang buta segalanya. Banyak hal konyol yang dilakukan Abi demi cintanya pada Sena. Rizky yang belum pernah merasakan jatuh cinta tentu bergidik ngeri mengingat itu. Hingga ia berjanji dalam hati tak akan pernah menjadi budak cinta.


**


Di kediaman Sena...


Para ibu yang sudah membahas persiapan untuk hari-H, tengah mengadakan acara makan malam bersama. Para bapak pun ikut berkumpul setelah mereka pulang dari kantor mereka, kecuali calon besan mereka. Aysa tak ikut serta karena harus mendampingi sang suami ke acara makan malam bersama kolega bisnisnya.


"Ini cuma kita doang? Anak-anak pada kemana?" tanya Devan memulai obrolan mereka disela makan.


"Deril ada tugas kampus sama Shaka, jadi gak bisa ikut ngumpul," balas Rilla.

__ADS_1


"Iky lagi nemenin manten yang lagi dipingit, takut kena culik katanya," celetuk Feby, hingga suasana pun mulai meriuh.


"Terus para gadis kemana ini?" tanya papa Ar.


"Para gadis udah pada makan duluan tadi sore. Katanya mereka diet, pada gak mau makan malam," balas timom Siska.


"Ck! Heleh diet cenah. Terus itu seblak sama baso masuknya kemana? Langsung keluar lagi?" celetuk papih Age yang tahu akan kebiasaan putri dan keponakannya itu. Sontak saja hal itu membuat mereka semakin tergelak.


"Isshh abang nih, jorok banget sih! Kita lagi makan ini," protes mama Ay.


"Yang kata lagi olahraga siapa? Emang kita lagi makan." timpal bang Age dengan entengnya.


"Iya makanya itu kita lagi makan, jadi ngomongnya jangan jorok!" selak mama Ay lagi.


"Jorok paan sii? Emang tadi ngomong apaan?" sangkal bang Age tak mau kalah.


Semua orang disana menghembuskan napas panjang, mendengarkan perdebatan kakak beradik yang tak berkesudahan itu. Hingga dengan kesal timom Siska memukulkan sendong pada piring, hingga memekik suara nyaring dari benda itu. Sontak saja mereka dengan reflek menutup telinga mereka masing-masing.


Teng! Teng! Teng!


Bagai wasit pertandingan, suara itu mampu menghentikan adu argumen kedua kakak beradik itu. Hingga mereka bungkam seketika seraya ikut menutup telinga mereka.


"Kalian ini, masih aja kek anak kecil. Heran deh!" omel Wanita paling muda diantara para wanita dimeja makan itu.


"Gak usah heran Sis, udah mendarah daging itu mah," celetuk Feby.


"Udah nempel ke tulang-tulang," tambah Agel.


"Gak bisa diganggu gugat," tambah Rilla.


Keriuhan pun kembali terdengar diruangan itu. Canda tawa terus terlontar dari mereka. Kehangatan dan kekompakan mereka tak dapat diragukan lagi. Bukan sekedar persahabatan, namun mereka juga sudah menjadi keluarga meski tanpa ikatan darah.


**


Sementara itu, disebuah kamar seorang gadis tengah merebahkan diri dengan posisi tengkurap. Ditemani layar persegi dihadapannya, gadis itu tengah asyik menonton drama kesayangannya.


Ditengah kefokusan menonton drama romantis tersebut, tiba-tiba saja ketukan dari pintu balkon mengalihkan atensinya.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Sena menoleh dengan alis bertaut. Kemudian diketukan kedua, ia mengingat siapa yang kemungkinan mengunjunginya.


"Abi?" gumamnya.


Segera gadis itu bangkit dari posisinya menuju pintu kaca yang tertutup gorden tersebut. Terlihat seluit hitam dari luar yang tembus pada kain tipis itu. Ia mengintip sedikit, melihat siapa sosok yang berdiri disana. Benar saja, Abi sudah berdiri didepan pintu dengan mengenakan hoodie yang menutupi kepalanya.


Gadis itu segera membukakan kunci untuk calon suaminya itu. Lalu membuka pintu tersebut, hingga tampaklah sosok jangkung sang pujaan hati. Sena tersenyum melihat Abi yang sudah menyunggingkan senyuman manisnya.


"Aisshh, gak usah senyum kek gitu. Ngeri tahu gak," ledek Sena.


Abi semakin melebarkan bibirnya, lalu tanpa aba-aba mendekap tubuh ramping Sena. "Aku merindukanmu!"


Suara berat itu sungguh membuat hati Sena bergetar. Ia ikut membalas memeluk tubuh tegap itu. "Aku juga."


Lama sepasang insan itu menyalurkan rasa rindu dan kehangatan dari hembusan angin malam yang menusuk, menembus pori-pori kulit mereka.


Sena melonggarkan pelukannya, seraya mendongak melihat wajah calon suaminya itu. "Kamu ngapain kesini? Kalo ketahuan papa, gimana?" tanya Sena khawatir.


Abi kembali menyunggingkan senyumnya. "Itu lebih baik, Mungkin malam ini kita bisa sah menjadi suami istri," kekeh Abi dan dibalas decakan oleh gadis itu.


"Ck! Jangan ngada-ngada deh, tinggal nunggu bentar lagi," protes Sena. "Lagian kenapa sih, ngebet banget?" godanya.


Abi kembali mendekap tubuh Sena, "Aku hanya ingin dirimu segera sah menjadi milikku," ungkapnya.


Sena tersenyum mendengar itu. Ia hanya membalas pelukan itu dengan hati bahagia. Ditengah pelukan hangat mereka, suara pintu terbuka membuat dua insan itu terlonjak. Dengan cepat mereka saling melepaskan pelukannya, terlalu panik Sena segera masuk dan menutup pintu balkon tersebut rapat-rapat, hingga melupakan calon suaminya.


"Kamu ngapain diluar?" tanya mama Ay heran.


"Emm itu, aku, aku cari angin." balas Sena dengan gugup.


Tentu saja hal itu membuat mama Ay curiga. Ia mendekat kearah pintu itu dan hendak menyibak gorden tipis itu, namun gerakannya terhenti dengan pekikan keras dari gadis itu.


"Jangan!!!"


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss🤗 yang belum kasih ratting, yuk kasih juga ratting diberanda yaa!!! Next up malam yaa gaiss🤗


__ADS_2