Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Senam menggemparkan


__ADS_3

Sena merentangkan tangan, meraup dalam-dalam oksigen yang begitu menyejukan saluran pernafasannya. Semilir angin kecil mampu memainkan rambut panjang yang tergerai itu hingga berterbangan.


Greepp!!


Pelukan dari belakang yang disertai kecupan dipipi membuat senyum manis terukir dari gadis itu.


"Mau kopi?" tawar Abi menyodorkan satu cangkir kopi ditangannya kehadapan sang istri.


Sena dengan cepat menyambar cangkir itu untuk menyecapnya sedikit. "Emm manis banget," pekik Sena berbinar.


"Apa ini buatanmu?" tanya Sena seraya menolehkan wajah melihat sang suami.


"He'em. Kamu suka?" tanya Abi dan diangguki mantap oleh Sena.


"Kalo gitu, setiap pagi aku akan buatkan ini untukmu," ucap Abi.


"Aisshh, kebalik. Harusnya aku yang buatin buat kamu," protes Sena.


"Emang bisa?" goda Abi terkekeh.


"Isshh. Ngeremehin banget sih," protes Sena lagi dengan wajah cemberut, seraya mencubit hidung mancung Abi yang tertawa kecil itu.


"Harusnya tuh dinasi in biar kenyang," tambah Sena yang berujung candaan. Hingga Abi semakin tertawa.


"Lapar ya?" tanya Abi mengusap perut rata istrinya itu.


"He'em. Kenapa ya jam segini udah lapar. Apa karena cuaca dingin ya?" tanya Sena heran. Pasalnya, jarang sekali ia lapar dipagi hari jika malamnya tidak melakukan ritual wajib mencari pahala.


"Mungkin karena kita gak olahraga," celetuk Abi.


"Kalo gitu, kita jogging dulu gimana? Keknya cuaca disini mendukung," saran Sena.


"Gak perlu jogging, kita olahraga didalam saja," balas Abi.


Sena menautkan alisnya heran, "Olahraga apa? Senam?" tanyanya.


"Iya. Senam sambil mandi," balas Abi. Wajahnya sudah tenggelam diantara ceruk favoritnya itu.


Hal itu tentu saja membuat Sena memejamkan mata. Setiap jengkal perlakuan Abi sukses membuat perempuan itu mendesis, menahan sesuatu yang memberontak dalam dirinya.


"Ahh Biii ...!!" rengek Sena seraya membalikan tubuhnya dengan tangan menggantung dileher pria tampan itu.


"Kenapa, hem?" goda Abi.

__ADS_1


"Jahat ihh," rengeknya manja seraya menundukan kepala. "Aku 'kan jadi pengen," lanjutnya bergumam pelan seraya menggigit bibir bawahnya.


Abi menarik satu sudut bibirnya. Ia menyimpan cangkir ditangannya keatas meja disamping mereka berdiri. Kemudian menarik pinggang istrinya itu, memeluknya posesif. Perlakuan itu tentu membuat Sena mendongaak menatap wajah sang suami.


"Mau coba senam dikamar mandi?" goda Abi dan diangguki Sena dengna senyumnya.


Tanpa aba-aba Abi segera menyambar bibir manis itu. Mengangkat tubuh ramping sang istri, menggendongnya seperti koala untuk ia bawa memasuki ruangan. Tanpa melepaskan pagutan mereka Abi benar-benar membawa Sena memasuki kamar mandi.


Gelora cinta berpadu napsu menyelimuti sepasang pengantin yang masih terbilang baru itu. Tak ada alasan untuk menolak apa yang hati dan tubuhnya inginkan. Keduanya begitu menikmati masa-masa pengantin yang disandangnya.


De sa han mengalun merdu dari ruangan sempit tersebut. Meski ruang gerak tak begitu memadai, namun hal itu sama sekali tak menyurutkan gairah pasangan halal tersebut. Bahkan mereka melupakan penghuni lain ditempat itu.


Seorang gadis terpaku diambang pintu kala mendengar suara sexy yang bersahutan yang entah berasal dari mana. Ia mengedarkan pandangannya, namun tak nampak siapapun diruangan itu. Hingga ia menyimpulkan jika suara itu berasal dari kamar mandi dipojok ruangan. Segera ia berbalik dengan memegang dadanya.


"Oh my god! Oh my god!" gumamnya sedikit ketakutan. Segera ia berlalu mneinggalkan posisinya dengan wajah memucat.


Hingga tanpa sadar, ia menabrak seseorang dihadapannya.


Brukkk!!!


"Ya ampun, de. Hati-hati dong!" seorang pria menangkap tubuh gadis yang menabrak tubuhnya itu.


"Kamu kenapa San? Kek abis lihat hantu aja," tanya pria itu heran kala melihat wajah pucat gadis itu.


Tiba-tiba saja gadis itu menangis, mengagetkan orang-orang yang sudah siap bertugas. Hingga mereka menghampiri.


"Kak Susan!" Gadis itu berhambur memeluk tubuh perempuan yang sudah seperti kakaknya.


"Aku udah gak suci lagi," ucapnya disela tangisnya.


Sontak saja mereka semua membelakak, lalu tatapan mereka mengarah pada Andi. Pria yang tadi sempat mereka lihat tengah memeluk Santi.


"Kenapa kalian lihatin aku? Aku gak ngapa-ngapain Santi beneran, suer!" sangkal Andi seraya mengangkat jari tengah dan telunjuknya membentuk V. Semua orang hanya menggelengkan kepala sebagai tanggapan.


"Kamu tenang dulu San, sebenarnya ada apa?" tanya Adel menepuk bahu Santi.


Gadis itu pun mendongakan wajah, Susan ikut membantu mengusap wajah Santi yang berantakan. Ikut mencoba menenangkan gadis tersebut.


"Ada apa? Coba kamu ceritakan sama kita," tanya Susan.


Ditengah penenangan itu, Andi dan Gilang tengah sibuk bisik-bisik sendiri. Hingga sukses dapat tampolan dari Susan.


"Diem!"

__ADS_1


Akhirnya dua pria itu diam dan ikut fokus pada Santi yang sekarang mulai tenang. Kembali Susan dan Adel menanyakan apa yang terjadi.


"Jadi, a-aku tadi. Keatas ya," ucapnya dengan suara msih terbata-bata dan didengrkan baik-baik ke empat orang disana.


"Rencananya, aku mau ajak kak Sena buat bikin sarapan," ucapnya lagi terjeda.


"Ya ampun, de. Ngomongnya jangan dipotong-potong dong. 'Kan makin penasaran," celetuk Andi.


"Andi!" peringat Susan, hingga lelaki itu diam kembali.


"Terusin San," titah Adel.


"Terus, pas aku masuk. Kak Sena nya gak ada," lanjut Santi.


"Kok gak ada. Perasaan si boss belum keluar?" tanya Andi heran.


"Bentar dulu, ini masalah kamu gak suci lagi gimana maksudnya. Kamu diapa-apain si boss?" celetukan Gilang tentu saja membuat mereka membelakak.


"Ihh kak Gilang, apaan sih? Nggaklah. Si bos boro-boro ngapa-apain. Nanya aja kagak!" selak Santi.


"Terus kamu gak suci kenapa?" tanya Andi yang sudah gereget.


"Aku, aku udah gak suci. Telingaku sudah ternodai," balas Santi kembali terisak dengan bayangan kembali pada kejadian beberapa menit yang lalu.


Semua orang disana sungguh dibuat penasaran oleh gadis paling muda diantara mereka itu. Meski gereget namun dengan sabar mereka mendengar jawaban gadis tersebut.


"Aku mendengar suara-suara itu, dari kamar mandi," lanjut Santi hingga mereka melongo mendengar penjelasan itu.


"Maksudmu. Kamu denger suara orang lagi," Gilang tak meneruskan ucapannya. Ia hanya memperagakan dua tangannya membentuk moncong yang diadukan dan diangguki Santi berulang kali.


Seketika tawa Andi pecah. Begitupun Susan yang terkekeh geli. Sungguh gadis yang dianggap adik oleh mereka itu masih sangatlah polos. Hingga mampu menggemparkan orang-orang disana. Mereka yang sudah begitu khawatir akan terjadi sesuatu pada gadis itu, ternyata hanya suara panas dari sepasang insan yang tengah memadu kasih lah yang membuat telinga gadis itu dianggap tak suci lagi olehnya.


Seperti sebelumnya, hanya Adel lah yang tak menanggapi itu. Setelah ia melihat dengan mata kepalanya, kini ia juga harus mendengar penjelasan itu.


"Ya ampun gak kebayang. Gimana suara mereka. Pasti sexy banget ya?" celetuk Andi.


"Emang ya, pengantin baru. Gak kenal cape, gak kenal tempat, gak kenal waktu pula," tambah Susan.


"Ihh kalian dengarin aja gih! Kakiku sampe gemeter mendengarnya. Apalagi suara kak Sena keras banget," kesal Santi.


"Wih serius, perkasa banget si boss," celetuk Andi lagi.


Mereka pun kembali tergelak. Membayangkan aktifitas yang tengah kedua insan itu kerjakan didalam ruangan itu. Tanpa mereka sadari Adel berlalu begitu saja, dengan tangan mengepal kuat menahan kekesalan dihatinya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Ayo gaisss jangan ikut panas! Jangan lupakan jejaknya! Tunggu lagi up nyaa😘😘


__ADS_2