Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Bergerak mengintai


__ADS_3

Satu minggu berlalu, keadaan kafe kini kian ramai. Bahkan omset kian melesat. Si penyusup bahkan tak nampak batang hidungnya, hingga si pemilik kafe dan istrinya tidak harus berjaga malam lagi.


"Rasanya seneng deh, si penyusup itu udah gak kelihatan lagi," celetuk Sena.


Abi hanya tersenyum menanggapi. Memanglah ia harus bersyukur mereka tak kembali meresahkan penghuni kafe tersebut. Abi mendekat seraya memeluk tubuh sang istri dari belakang.


"Apa tugas kuliahmu sudah selesai?!" tanyanya.


"Akhir minggu ini mungkin selesai. Kenapa?" tanya Sena balik.


"Baiklah minggu depan ajukan cutimu!" titah Abi.


"Buat apa? Mau ikut nyiapin pernikahan kak Deril sama Chika?" tanya Sena heran.


"Honeymoon, bukankah kita juga belum melakukan itu?"


"Aishh belum melakukan. Terus yang kita lakuin tiap malam apaan?" ledek Sena seraya menggelengkan kepala. Ia tau honeymoon adalah kegiatan yang didominasi untuk melakukan aktifitas itu.


"Apa kamu gak mau mencoba gaya baru?" goda Abi.


"Gaya apa?" tanya Sena heran.


Abi semakin mengeratkan pelukannya kala angin berhembus kian kencang seraya dagu tetap bertengger dibahu sang istri.


"Kita cari tau dipantai," balas Abi.


Sena tergelak, haruskah mereka melakukannya? Sedangkan ditengah kesibukan pun, Abi tidak pernah melepaskannya. Pria tampan itu senang sekali mengganggu tidurnya, hingga Sena harus begadang setiap malam.


"Baiklah, ntar kita coba gaya apa, kura-kura menyelam, ikan minum air atau apa ya?" kekeh Sena yang kemudian tergelak. Abi hanya ikut terkekeh seraya tak henti melayangkan kecupan diwajah sang istri.


"Kau mau kopi?" tawar Abi.


"Kau mau buatkan?" goda Sena, hingga pria yang tak melepas pelukannya itu kembali terkekeh. Dengan gemas ia mengacak ranbut Sena.


"Oke, tunggu disini!" titah Abi dan diangguki Sena.

__ADS_1


Setelah Abi berlenggang pergi untuk membuat kopi, Sena mendaratkan bokongnya dikursi santai yang tersedia di balkon itu. Ia meraih laptop untuk melihat sesuatu.


"Aku penasaran sama videoku dan Abi diruang kerja waktu itu. Abi selalu meledekku garang, emang aku se-garang itu ya?" tanyanya bermonolog sendiri.


Tentu Sena merasa keki saat disebut agresif. Meski kenyataannya seperti itu. Namun perempuan itu ingin menampik tudingan suaminya, dengan melihat kembali video panas tersebut. Ia mulai mencari tanggal dimana kejadian itu terjadi, namun ia melupakan tanggal berapa kejadian itu? Hingga ia terlihat masih berpiikir untuk mengklik kolom pencarian dan memasukan tanggalnya.


Ditengah memorinya yang berputar, sesuatu dari kamera yang tengah menayangkan keadaan sekarang dari setiap sudut, justru menarik perhatiannya. Perempuan itu mempeebesar salah satu kamera yang terdapat digudang.


"Ngapain dia masuk gudang?" tanya Sena heran. Ia terus memperhatikan gerak gerik seseorang dari video tersebut, hingga tak menyadari kedatangan Abi yang sudah duduk disampingnya.


"Menurutmu apa yang akan dilakukannya?" tanya Abi yang sukses membuat Sena terlonjak kaget, hingga mengusap dadanya.


"Isshh kamu ngagetin aja deh," kesal Sena dan hanya disambut senyum pria itu.


"Apa dia yang kamu curigai?" tanya Sena memastikan dan diiyakan Abi.


"Aku sudah memprediksi ini. Mereka pasti bergerak kembali setelah kondisi mulai kondusif," jelas Abi dan diangguki Sena.


"Ini gak bisa didiemin, kita harus interogasi dia," ucap Sena menggebu. Namun dibalas kekehan oleh Abi.


"Jangan sekarang!" tolak Abi. "Dia baru saja menaruh umpan. Biar kita ikuti alurnya. Tanpa kita bertindak, dia akan menyerahkan diri," jelasnya dengan seringai yang nampak diwajah tampannya. Lalu menegak kopi yang dibawanya.


"Hemmm manisnya," gumam Sena. Lingakran creamy foam dari kopi tersebut terlukis jelas disepengunjung bibir atasnya.


Hal itu tentu menjadi perhatian Abi. Ia menarik tengkuk sang istri, menjulurkan benda tak bertulang dari dalam mulutnya untuk menghapus jejak putih dari atas bibir ranum tersebut. Hingga noda itu benar-benar tersapu bersih.


"Ini jauh lebih manis," ucap Abi menarik satu sudut bibirnya.


"Ishhh kamu mah emang paling bisa," ledek Sena seraya menarik hidung mancung suaminya itu. Hingga keduanya terus bercanda dibawah langit yang kian menguning.


**


"Kita pulang duluan, ya!" pamit Santi pada ketiga orang disana.


"Iya, kami juga akan segera pulang," balas Sena dan diiyakan para karyawannya itu.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Rizky setelah mereka semua keluar dari kafe.


"Seperti yang sudah kita rencanakan. Kita akan mengakhirinya malam ini juga," balas Abi dan diiyakan keduanya.


"Aku udah hubungi aka. Dia akan datang bersama teman-temannya, " jelas Sena dan diangguki kedua pria itu.


"Baiklah, kita bergerak," intruksi dari Abi membuat mereka siap-siap untuk keluar dari kafe.


Seperti biasa beberapa lampu kafe dipadamkan. Hingga terlihat tak ada penghuni dari tempat tersebut. Ketiganya keluar dari kafe, setelah selesai mengunci pintu terlebih dahulu. Kemudian mereka melesat meninggalkan tempat tersebut dengan kuda besi yang ditumpanginya.


Bukan rumah tujuan mereka. Saat persimpangan, kedua kuda besi yang harusnya berjalan lurus justru berbelok ke jalanan kecil menuju rumah padat penduduk yang akan membawa mereka kembali menuju kafe. Hingga mereka sampai ditaman yang terletak tak jauh dari kafe, tepatnya dibelakang bangunan tersebut.


"Apa ini akan aman?" bisik Sena dengan perasaan waswas.


"Pasti aman, tenang saja. Mereka pasti mengira kita sudah pulang," jelas Rizky.


"Apa mereka benar-benar mengawasi kita dari semenjak keluar dari kafe?" tanya Sena dan diangguki kedua pria itu.


"Aku melihat salah satu dari mereka ada diujung kafe tadi," jelas Rizky.


"Smoga mereka gak melihat kita, agar kita bisa menangkap mereka," ucap Sena dan diangguki kedua pria itu.


"Kita lihat cctv nya sekarang!" titah Abi dan diiyakan Sena. Segera perempuan itu mengeluarkan laptop dari tas Abi dan mulai mengotak atik benda tersebut.


Layar datar itu memperlihatkan beberapa gambar dari tangakapan kamera dari sudut kafe tersebut. Dan tak membutuhkan waktu lama mereka melihat segerombolan orang memasuki area gudang. Bukan hanya dua atau tiga orang. Kali ini mereka terlihat lebih banyak, ada sekitar enam orang yang memasuki tempat tersebut. Sena segera mengirim pesan pada Shaka untuk segera datang.


"Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana! Cukup pantau dari cctv," titah Abi mengusap kepala Sena dan diiyakan olehnya.


Abi dan Rizky bergerak memasuki tempat tersebut dari gudang dimana keenam orsng tadi masuk. Sedangkan Sena tampak tegang menunggu disebuah bangku panjang. Bukan karena masalah itu saja, suasana gelap membuat nyali perempuan itu menciut. Hingga sekuat mungkin Sena menahan rasa takutnya itu.


Sementara itu, Abi dna Rizky sudah sampai didalam. Mereka berjalan pelan menuju sebuah pintu dimana orang-orang itu berada, ruangan Abi lebih tepatnya.


Belum juga mereka sampai didepan pintu tersebut, tiba-tiba saja suara seseorang membuat kedua pria itu terkejut.


"Hei, kalian!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya gaisss😘


__ADS_2