
"Hei kalian!!"
Seketika kedua pria tampan itu menghentikan langkah mereka. Keduanya terdiam tanpa menolehkan wajahnya.
"Kenapa masih disitu? Cepat matikan semua kamera cctv nya!" titah salah seorang dari meja bar.
Ternyata pria itu mengira Rizky dan Abi adalah temannya. Dikeadaan yang gelap dan hanya menyisakn lampu temaram saja, tentu membuat kedua pria tampan itu tak terlihat jelas.
"Woy! Gak lihat apa, ini kita hampir nyungseb. Lu mah enak cuma nyuruh-nyuruh doang!" teriak salah satu temannya dari arah dapur.
Sontak saja mendengar rekannya dari dapur membuat pria itu terkejut. Jika temannya itu didapur, lalu siapa kedua pria itu? Sedangkan ketiga rekannya berada didalam ruangan. Pikirnya.
Cetrek!!
Lampu utama menyala hingga ruangan luas itu menjadi terang benderang. Pria itu terkejut meihat dua pria yang kini berdiri didekat kontakan lampu-lampu tersebut.
"Ka-kalian siapa?" tanyanya tergagap.
Abi menyeringai dengan mata menghunus tajam. Tangannya melipat didada hingga terlihat aura mencekam dari pria tampan itu.
"Justru aku yang harus bertanya, siapa kalian?" tanyanya. "Berani sekali kalian memasuki tempatku," lanjutnya dengan nada penuh penekanan.
Sontak saja mata pria itu membulat terkejut, namun ia berusaha kembalai tenang. Ia keluar dari meja bar seraya bertepuk tangan. "Wah, wah, wah ... Ternyata ini boss kafe ini?" tanyanya dengan nada ledekan.Tak ada tanggapan apapun dari wajah datar Abi.
"Ck! Banyak bacot," Rizky mendekat dan melayangkan bogeman mentah pada pria tersebut. Hingga aksi baku hantam pun dilayang dua manusia itu.
Abi tak menghiraukan mereka, ia memilih untuk membuka pintu ruangannya yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Mendengar kegaduhan disana, kedua manusia didapur yang dapat jatah mematikan setiap kamera cctv tentu dibuat panik. Kedua pria itu segera mendekat kearah sumber suara. Tanpa aba-aba mereka ikut menyerang Rizky.
Sedangkan Abi sudah mmebuka pintu ruangan itu, mengagetkan ketiga pria yang tengah mengacak-ngacak lemari disudut ruangan.
"Apa?" tanya salah satu pria tersebut. Tentu mereka tak menyadari jika itu sang pemilik kafe, karena gelapnya ruangan itu. Hanya senter kecil lah yang menjadi penerangan mereka.
"Kenapa pake nyalain lampu sih? Terus ribut-ribut kenapa?" tanyanya lagi yang melihat cahaya terang dari luar ruangan itu, bahkan terdengar suara bising dari sana.
Cetrek!!
Lampu ruangan menyala hingga menampkan wajah datar Abi. Sontak saja hal itu membuat tiga pria tersebut terkejut.
__ADS_1
"Ka-kamu?" pekik salah satu dari mereka.
"Lanjutkan!" titah Abi dengan wajah datarnya. Ketiga pria itu saling lirik masih merasa terkejut.
"Saya hanya ingin tau, apa yang kalian cari diruangan ini?" tanyanya.
Salah satu pria itu tersenyum tengil. "Baiklah, mumpung ada boss nya kita tanya aja langsung ya," celetuknya. Ketiganya mendekat kearah Abi dengan seringai dari wajah mereka.
"Kami mencari sertifikat kafe ini. Apa bisa anda kasih pada kami?" lanjutnya bertanya.
Abi menyeringai, "Siapa yang menyuruh kalian?" tanyanya.
"Anda gak perlu tau siapa yang menyuruh kami. Yang jelas berikan apa yang kami cari dan anda akan selamat, atau sebaliknya?" Ancam pria itu seraya mengambil sembilah pisau dari saku celananya dan memainkannya.
Abi tersenyum remeh sekejap dan kembali menatap dingin ketiganya, tentu dengan mata elangnya yang menusuk.
"Haruskah saya melakukannya?" tanyanya.
Si pria itu terlihat kesal melihat wajah Abi yang tampak arogan. Lalu segera memberi kode kedua rekannya untuk menyerang pria dihadapanya. Satu tendangan didapati Abi, hingga ia terpental mundur, hingga keluar dari ruangan itu.
Rizky sudah terkapar dengan berbagai luka diwajah, bahkan tangannya. Lelaki itu kini sudah ditangan salah satu pria itu. Begitupun Abi, tubuhnya sudah terkunci oleh kedua pria dari mereka.
"Bukankah sudah saya katakan untuk memilih," ucapnya.
"Cih banc*" umpat Abi.
"Ck! Benar-benar cari mati," kesal pria itu dan hendak mengarahkan benda tajam itu kearah Abi. Namun tiba-tiba saja, pekikan seseorang mengagetkan mereka.
"Jangan!"
Srreettt!!!
"Akkhh!!!"
Sena tersungkur memsluk tubuh suaminya. Ternyata pisau tersebut mengenai punggung Sena. Si pria kaget bukan main. Niat hati hanya ingin main-main pada Abi, namun ternyata pisau itu justru benar mengenai orang.
Ia segera menjatuhkan benda ditangannya yang berdarah itu. Kedua temannya yang memegang Abi segara melepaskanya karena ikut shok.
__ADS_1
"Sen, Sen!" Abi ikut shok dan menangkup wajah Sena.
"Bi, sa-sakit," lirih Sena dengan suara tersenggal.
Sudah sejak Abi babak belur, Sena berdiri dibalik tembok menahan isak tangisnya. Ketika melihat sang suami yang hampir kehilangan nyawanya, tentu membuat ia dengan cepat ingin menyelamatkannya. Namun naas keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Ia harus merasakan sakit dari sayatan benda tajam itu.
"Kita cabut!" Para penyusup itu bergegas hendak keluar dari tempat tersebut lewat depan, namun alangkah terkejutnya mereka kala melihat tiba-tiba banyak kuda besi yang berhenti diparkiran kafe tersebut.
"Sial! Lewat belakang," Mereka pun bergegas kembali hendak memasuki gudang, namun sayang, mereka tak bisa berkutik kala mereka sudah terkepung. Ternyata digudang mereka sudah disambut ketua geng motor yang begitu disegani.
Dengan senyum evil yang menghiasi wajahnya Shaka sudah duduk manis dikursi diruangan pengap itu. Dengan sekali jentikan jari, baku hantaman pun mulai terjadi disana.
Sementara itu diluar, Abi terus membangunkan Sena yang hampir kehilangan kesadarannya. "Bangun Sen, kumohon bertahanlah!" titah Abi.
Giginya menggeretak kala mendapati darah ditangannya. Ia segera membuka hoodie yang dikenakannya dan mengikatkan kain tebal itu pada punggung sang istri. Jika saja tenaga masih ada, ingin rasanya ia me mmenghajar pria yang membuat istrinya seperti itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Deril menghampiri.
Si calon manten ini langsung tancap gas kala dapat panggilan dari Shaka. Mendengar kata 'Pemburuan' dari sahabatnya itu, ia segera menancap gas membawa kijang besi yang mungkin saja dibutuhkan. Dan benar, benda itu sangat dibutuhkan sekarang.
"Sensen terluka," balas Abi.
"Ya ampun! Cepat kita ke mobil!" titah Deril. "Kalian juga tolong bawa Iky ke mobil!" titahnya pada anggota motor tersebut.
"Lu bisa bangun?" tanya Deril yang melihat Abi juga babak belur. "Biar gue yang gendong Sensen," tawarnya.
"Gak usah, gue aja!" tolak Abi, seraya mengangkat pelan-pelan tubuh Sena hingga digendongannya. Tenaganya begitu terkuras melawan mereka, bahkan Rizky sudah tak sadarkan diri.
"Suruh mereka membersihkan ini. Pastikan mereka mendekam dibalik jeruji!" titah Abi menatap salah satu dari mereka.
"Baik, Bi!" balasnya.
Berulang kali Deril menawarkan diri untuk mengambil alih Sena, namun tetap ditolak Abi. Hingga ia pasrah dan hanya menggiring mereka menuju mobil. Setelah ke empat orang itu siap didalam mobil. Benda itupun bergerak, melesat meninggalkan tempat tersebut.
\*\*\*\*\*\*
Yuk jejaknya gaisss😘
__ADS_1