Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Jangan baper! Jangan oleng!


__ADS_3

Mentari bersinar menembus kelopak mata yang menutupi retinanya. Hal yang sukses memaksa seseorang keluar dari mimpi indahnya. Sena mengerjapakn mata kala sinar itu begitu menusuk indera penglihatannya.


Ia bergeliyat kecil kala mengetahui sang suami tengah memeluk tubuhnya dari belakang. Jika ia bergerak sedikit lebih keras, kemungkinan sang suami akan terjengkang kebawah.


Perempuan itu membalikan tubuhnya pelan-pelan, kemudian tersenyum kala melihat wajah tenang suaminya itu. Satu hal yang selalu ia tunggu setiap pagi. Tangannya terulur untuk mengabsen lekuk wajah yang begitu sempurna itu.


Grepp!!


Abi membuka mata seraya mencekal tangan itu, kemudian mengecup punggung tangan tersebut. Sena tersenyum mendapat perlakuan sensual yang diberikam suaminya itu.


"Morning my Owl?"


"too my Lovely,"


Suara berat nan serak khas bangun tidur milik Abi selalu membuat hati Sena bergetar. Ia mengecup bibir sexy itu sekilas, hingga membentukkan senyum diwajah tampan itu.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Abi seraya merapihkan anak rambut yang menjuntai menutupi wajah cantik itu.


"Emm ... tentu, tidur dipelukanmu adalah hal paling nyaman," balas Sena.


Mendengar itu membuat tangan Abi gemas, hingga menarik hidung mancung itu. Sebelum Sena protes Abi segera menyambar bibir ranum itu, menyecapnya lembut penuh perasaan.


"Morning kiss," ucap Abi tersenyum seraya menghapus jejak kebasahan itu.


Sena tersenyum lebar seraya membalas mengecup kembali bibir sexy itu, Abi yang gemas beralih mengukungnya, lalu mendaratkan kecupan itu tertubi-tubi diwajah dan ceruk sang istri. Hingga Sena tergelak kegelian.


Dari luar seseorang yang hendak mengetuk pintu kaca itu menghentikan aksinya kala melihat Abi yang berada diposisi intim diatas istrinya. Meski terdengar gelak tawa Sena yang menggema. Namun ia tak berani untuk mengganggu mereka. Hingga ia memutuskan berbalik dan kembali turun.


"Gimana Del, si boss udah pada bangun belum?" tanya Susan dan hanya dibalas gelengan oleh perempuan itu.


"Wah, ini mah si boss jaga malamnya kebablasan. Ampe jaga lembah segala kek nya," celetuk Andi.


"Heleh so tau lu! Kek pernah ngalamin aja," ledek Gilang.


"Ya elah yang kek gitu gak perlu ngalamin, semua orang tau pengantin baru itu gak kenal waktu. Ingat gak kemarin di cctv itu?" sergah Andi.


Susan terkekeh mendengar itu, "Iya bener, si boss dingin-dingin garang juga ya!" celetuknya.


"Eh Del kamu belum tau ya, kemarin kita abis nonton adegan live. Sayang sekali kamu malah gak masuk," jelas Andi.


Adel hanya diam tak menanggapi, begitupun Gilang yang mengerti akan keadaan perempuan itu, ikut tak menanggapi.

__ADS_1


"Ntar dah kapan-kapan kita puter lagi. Kita lihat apa bener, orang kek si boss itu paling agresif?" lanjut Andi ngasal.


"Ishh kau ini, mau dipecat?" ancam Susan hingga pria itu cengengesan.


"Udahlah gak usah ngimongin itu. Aku kan masih cupu," celetuk Santi yang baru bergabung keluar dari dapur.


"Anjay cupu," ledek Andi. "Tapi gak apa-apa de, nanti abang ajarin, sampe jadi suhu!" lanjutnya hingga sukses dapat tampolan dari Santi.


Tentu hal itu membuat mereka tergelak. Namun tidak dengan Adel yang berlenggang begitu saja meninggalkan ruangan itu. Gilang hanya menatap prihatin pada teman kerjanya itu. Tidak mudah memang melupakan rasa yang sudah terlanjur. Membutuhkan waktu untuk melakukan semua itu.


'Smoga kamu bisa move on Del,' batin Gilang.


**


Seorang gadis berseragam putih abu tengah berdiri disebuah halte yang tak jauh dari ruamhnya. Rencananya gadis itu hendak pergi kesekolah, namun sebelumnya akan menjemput dulu si opi kesayangannya yang kemarin mondok dibengkel.


Waktu sudah menunjukan jam tujuh, namun angkot belum juga nampak melewati halte tersebut.


"Apa ini terlalu siang ya?" tanya Chika bermonolog sendiri.


Pasalnya gadis itu jarang menumpangi kendaraan umum. Ia sudah biasa memabawa si opi dari semenjak duduk dibangku SMP. Mungkin karena alasan itu pula, si opi sudah sering manja pada sang majikan.


Ditengah kegelisahannya, tiba-tiba saja sebuah motor berhenti dihadapannya. Chika tersenyum, ia sudah bisa menebak siapa pria dibalik helm tersebut.


"Kenapa gak DM? 'Kan udah dibilangin kalo gak ada kendaraan DM aku," bukan membalas sapaan, Deril justru mengomeli gadis tersebut.


Chika hanya cengengesan mendapat omelan itu. Berasa diomelin ayang, pikirnya. "Maaf kak, aku pikir angkotnya bakal datang," ucapnya.


"Ayo naik!" ajaknya seraya menyerahkan helm. Mengingat helmnya kemarin tertinggal bersama si opi dibengkel, ia pun mengenakan helm yang diberikan Deril.


Gadis itu pun naik setelah mengenakan helmnya terlebih dahulu. Deril menarik tangannya hingga ia kembali memeluk tubuh tegap itu. Lagi-lagi jantung Chika berdegup begitu kencang merasakan itu.


'Jangan baper, jangan oleng! Santai oke,' gumamnya mengingatkan dalam hati. 'Rileks, nikmati dan syukuri,' lanjutnya cekikikan.


Kuda besi itu pun melesat meninggalkan posisinya. Dengan posisi Chika memeluk tubuh tegap itu erat, bahkan sesuai instruksi hatinya untuk rileks dan menikmati kesempatan tersebut. Hingga ia dengan tak sungkan menyenderkan kepala dipunggung bidang itu.


Tak membutuhkan waktu lama, motor sampai dibengkel yang dimaksud.


"Pagi mas, gimana motornya sudah beres?" tanya Deril pada montir yang kemarin menangani kasus si opi.


"Udah mas," balasnya. "Saya jumlahkan dulu," lanjutnya seraya mengambil kalkulator dan mulai mengotak atiknya.

__ADS_1


"Semuanya jadi empat ratus lima puluh ribu," tambahnya.


Chika hendak mengambil dompet dari ranselnya, namun tiba-tiba saja suara Deril menghentikannya. "Nih, Mas!"


Sontak saja Chika langsung menoleh dan menghadang tangan Deril. "Eh gak usah kak, aku bawa uang sendiri kok!"


Namun sayang sang montir sudah menerima uang dari Deril seraya tersenyum. "Udah neng, gak apa-apa. Udah kewajiban pacar yang bayar," celetuknya.


"Bu-bukan Mas, kita bu-" Chika hendak menyelak, namun sang montir kembali menyelak.


"Lah si neng ini. Harusnya bersyukur punya pacar kek mas nya. Udah cakep, baik lagi. Jarang-jarang loh ada yang mau bayarin pacar," selaknya. "Saya doain deh, smoga rezeki mas nya selalu mengalir. Terus hubungan kalian langgeng sampai dijenjang pernikahan, aminn!" lanjutnya, bahkan pria yang diperkirakan sudah memasuki kepala tiga itu mengadahkan tangan. Seolah mendoakan tulus dua manusia tersebut.


Deril tersenyum kikuk seraya mengusap tengkuknya. Begitupun Chika, ia hanya tersenyum malu seraya menampilkan deretam giginya. Disebut pacar bahkan didoakan sampai menikah tentu membuat perasaan kedunya aneh.


"Emm ya udah mas, makasih! Kita pamit dulu!" ucap Deril dan diiyakan pria tersebut. Deril mengeluarkna motor itu hingga sampai didepan bengkel.


"Kak, aku bawa uang kok. Ini aku ganti," Chika mengambil dompetnya dan hendak membuka isinya, namun Deril justru menahan tangannya.


Hingga tangan Chika tergenggam oleh Deril. Kembali keduanya saling tatap dengan perasaan aneh yang menyerauk dihatinya.


"Ehmm!! Gak usah, gak apa-apa. Itu uang buat kamu jajan aja," tolak Deril.


"Tapi 'kan, itu juga mungkin uang jajan kakak," selak Chika tak enak hati.


"Aku udah gede, gak jajan," kekeh Deril.


"Ishh!" Chila menampol lengan Deril hingga pria itu tertawa.


"Serius ini kak, nanti aku dimarahin Bunda. Ntar dicurigain aku ada main-main lagi sama om-om hot dady gitu. Gak banget ih!" cerocos Chika.


Deril tersenyum seraya mengusek gemas pucuk kepala gadis itu. "Ya udah gini aja. Kamu anggap itu sebagai hadiah. Semacam give away karena sudah jadi fans aku. Gimana?" tawar Deril, membuat gadis itu berpikir sejenak.


"Emm, ya udah deh boleh," final Chika hingga Deril tersenyum lebar seraya kembali mengusek rambut itu gemas.


"Ihh kak, rambutku," rengek Chika dengan wajah memerah. Jangan tanyakan bagaimana jantungnya yang sudah berdisko sejak diperlakukan seperti itu.


"Tapi ada syaratnya," selak Deril, hingga Chika menautkan alisnya heran.


"Apa?"


"Sore ini, kamu ikut aku kesuatu tempat!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Hayooohhh siapa yang pada baper🤭 jangankan lupakan jejaknya yaa gaisss.. Ramaikan kolom komentarnya biar mak othor semangat up lagi😘😘


__ADS_2