
"Hello epribadeh?!"
Pekikan seorang gadis yang berbalutkan seragam putih abu, berhasil membuat kedua gadis itu tersentak kaget. Decakan kesal keluar dari sang calon pengantin yang tengah menyalurkan rasa bahagianya pada sang sahabat.
"Bisa gak sih, masuk kamar itu ketuk pintu dulu. Kebiasaan deh!" omel Sena.
Gadis belia itu hanya cengengesan dengan menampilkan deretan giginya. Tanpa dosa ia menghampiri, lalu ikut mendaratkan bokong disamping kedua sahabat itu.
"Ya elah, biasanya juga gitu," selaknya seraya menyimpan sebuah kotak besar kehadapan mereka.
"Ck!" Sena kembali berdecak, medapati kelakuan sepupunya itu.
Jingga hanya terkekeh, tingkah gadis SMA itu sungguh sama persis dengan Sena. Sungguh ikatan darah memanglah tak dapat dibohongi, keduanya begitu memiliki sifat dan tingkah yang sama. Sama-sama gesrek pula.
"Kamu bawa apa, Kiy?" tanya Jingga meraih kotak yang dibawa gadis itu.
"Coba tebak aku bawa apa?" tanyanya seraya mengambil alih apa yang ia bawa.
Belum juga kedua gadis itu menebak, Kia sudah membukanua terlebih dahulu dengan wajah antusias. "Tada!!!" pekiknya kegirangan.
Jingga kembali terkekeh melihat isi didalamnya, berbeda dengan Sena yang sudah membelakkan mata merasa tak percaya.
"Ini?" tanya Sena shok.
"Yappss!! Ini adalah hari bridal shower untuk kak Sensen. Yey!!" pekik Kia girang yang disertai tepukan tangan. Begitupun Jingga yang ikut bertepuk tangan dengan senyuman lebarnya.
"Ya ampun, harus buat beginian? 'Kan cuma kita bertiga?" tanya Sena keheranan.
Pasalnya, acara seperti ini biasanya akan dirayakan oleh banyaknya para sahabat. Namun itu tak berlaku untuk Sena. Terlahir terlalu cantik, membuatnya kesusahan mendapatkan teman. Hanya Jingga dan Rizky lah sahabat gadis itu, bahkan dari kecil. Banyak wanita yang tak suka dan memutuskan menjadi rivalnya, apalagi setelah banyaknya lelaki yang mereka sukai justru terang-terangan menyatakan cinta pada Sena.
"Kenapa? Gak ada salahnya 'kan? Apa perlu aku ajak aka Sha sama kak Rizky juga?" tanya Kia dengan cerocosannya.
"Sekalian aja ajak kak Deril juga," ledek Jingga.
"Nah, boleh juga tuh. Siapa tahu kak Deril mau ya?" celetuk Kia dengan polosnya.
Boneka beruang pun mendarat diwajah Kia dari sepupunya itu. Kia memekik seraya mengusap hidung mancungnya yang sedikit sakit.
"Ya ampun! Kak Sen, ihh sakit tahu," rengek gadis itu dengan manjanya.
"Dasar manja!" ledek Sena.
"Ini sakit, ihh ... Mau cobain nih!" Kia membalas memukul gadis itu, hingga canda tawa mereka menggema diruangan luas itu.
Jingga hanya ikut tertawa seraya menggelengkan kepala. Terkadang ia bingung, kenapa dia bisa bersahabat dengan mereka yang bersifat berbanding terbalik dengannya. Namun sepertinya itulah yang disebut saling melengkapi. Jika mereka gesrek, bukankah harus ada yang waras?
__ADS_1
"Aww! Aww! Sakit," pekik kedua gadis itu yang sukses membuyarkan lamunan Jingga.
"Astaga, apa yang kalian lakukin?" tanya Jingga kaget, ia turun dari ranjang menghampiri keduanya yang sudah bertumpuk dilantai.
Pekikan Kia paling keras. Bagaimana tidak? Gadis itu terjatuh sebelum Sena, yang otomatis tertindih sepupunya itu.
"Aaaa timom, pinggangku!" jeritnya kesakitan. Gadis itu memegang pingganya yang kemungkinan keseleo.
"Ya ampun! Sini-sini, bangun!" Jingga membantu kedua gadis itu bergantian.
"Lagian ngapain sih? Pake jungkir balik segala. Apa kalian lagi belajar bikin akrobat?" gerutu Jingga merasa tak percaya dengan kelakuan keduanya.
Sena tak menimpali, ia hanya mendengus kesal seraya kembali mendudukan diri diatas kasur king sizenya. Begitupun Kia, yang melakukan hal sama dengan tangan masih stay dipinggangnya.
"Ck! Kalian ini, berhentilah seperti anak kecil," Jingga memulai ceramahannya pada kedua gadis itu. "Terutama kau!" tunjuknya dengan dagu pada Sena.
Yang ditunjuk hanya memberenggut seperti biasa. Ceramahan Jingga mengalahkan ceramahan sang mama, bahkan Sena akan tunduk dan turut pada sahabtanya itu. Nasihat Jingga bagai petuah dari leluhur yang masuk ke hati dan otaknya.
"Tinggal menghitung hari, kau akan menjadi seorang istri. Jadi berhentilah bertingkah seperti anak kecil. Jika tidak, Abi bisa terbang kepelukan orang." celetuk Jingga.
"Isshh jangan gitu dong doanya! Yang baik aja gitu," protes Sena tak terima. Jingga terkekeh menanggapi, begitupun Kia yang sudah tergelak.
"Makanya kak Sen, mau nikah tu kudu mau juga dewasa." celetuk Kia.
"Idihh, anak kecil tahu apaan." ledek Sena.
"Ppttt!!" Sena menahan bibirnya agar tawanya tak pecah, begitupun Jingga yang sudah tersenyum lebar. Namun seketika Sena tak dapat menahannya kala melihat ekspresi wajah gadis belia itu.
Tawa kedua gadis itu pecah. Sontak saja hal itu membuat lamunan gadis belia itu ambyar. Kia berdecak kesal mendapati tawa mengejek dari kedua gadis itu.
"Ck! Gak usah pada ketawa. Kalian gak percaya? Kalian lihat aja, aku bakal dapatin cintanya om Rei dan aku bakal nikah sama dia." tegas Kia.
Keduanya menghentikan tawa itu, bahkan rembasan air ikut keluar dari sudut mata mereka. "Ya ampun, Kiy, Kiy! Sebelum kamu masuk perguruan tinggi, mungkin kak Rei udah nikah duluan," celetuk Sena.
"Gak akan pernah!" selak Kia. "Aku gak akan biarin siapapun jadi istri om Rei. Pokoknya hanya aku yang akan menjadi istrinya. Titik," lanjutnya menegaskan.
"Aisshh itu cinta apa obsesi?" ledek Jingga.
"Ishh kak Jinjin ini. Coba nanti kalo kak Jinjin balikan sama kak Sha, dan mencoba mencintai dia. Aku yakin kakak juga bakal merasakan hal yang sama," cerocos Kia tanpa jeda.
Namun hal itu justru membuat Jingga terdiam. Membahas kisah asmaranya membuat Ia megingatkan kembali pada perpisahannya dengan sang mantan, Shaka. Sentuhan yang menjadi genggaman tangan Sena sukses membuat gadis itu terkesiap. Kemudian gadis itu menatap Sena dan menyunggingkan senyuman tipis padanya.
"Sudahlah gak usah dipikirin! Bagaimanapun aku hanya percaya sama kamu." ucap Sena memberi semangat, dan hanya ditimpali senyum oleh Jingga.
"Nanti juga tuh si aka nyadar. Kalo apa yang dia pikirkan tentangmu itu salah." lanjut Sena.
__ADS_1
"Iya kak Jin, aka Sha itu emang tempramen, ngeselin juga." balas Kia.
"Kek Papih ya, Kiy?" tanya Sena dengan nada menggoda.
"Iya!" balas Kia. Namun didetik berikutnya ia tersadar satu hal, "hei, papih gak kek gitu, ya!" protesnya tak terima.
Sena tergelak mendengar pembelaan gadis itu terhadap papihnya meski itu sebuah kenyataan, baginya tak ada yang boleh menjelekan kedua orang tuanya. Begitupun Jingga, ia melupakan sedikit pemikiran tentang kisah asmaranya.
"Ya udah, kita mulai aja. Ini kita gimana dulu?" tanya Jingga.
"Kita hias dulu kamar ini dong!" sahut Kia.
Mereka pun mulai menghias kamar Sena dengan berbagai pernak pernik yang sudah Kia siapkan. Alih-alih seorang pengantin akan menjadi ratu dan akan memandori mereka. Justru itubtak berlaku untuk Sena, ia harus pasrah ikut membantu kedua gadis itu yang kewalahan.
Canda tawa terdengar disela aktifitas mereka. Celotehan demi celotehan terlontar dari ketiga gadis itu, bahkan ruangan itu lebih rame dari mereka yang memiliki banyak sahabat.
"Dah! Selesai ...." pekik Kia dan disambut tepuk tangan ketiganya.
"Sekarang apa lagi?" tanya Sena yang kurang memahami arti acara itu.
Kia dan Jingga saling melempar pandang, kemudian menyeringai menatap sang calon pengantin. Sena yang ditatap aneh tentu mengerenyit heran. Hingga ia terlonjak kala Kia dan Jingga tiba-tiba mendudukan dirinya.
"Sekarang giliran kita," ucap Kia menjeda kalimatnya sejenak.
"Apa?" tanya Sena waswas.
"Bikin kak Sen jelek!" pekik Kia antusias.
Sena membelakak dan dengan cepat hendak kabur, namun kalah cepat dengan gerakan kedua gadis itu.
"Oh nooo!!!!!"
\*\*\*\*\*\*
Yuk jejaknya jangan lupaa yaaš¤ kasih kopi lah, biar semangat iniš
Ini si calon mantenš¤
Ini Kiy si manja, partner gesrekš
__ADS_1
Ini Jinjin si bijakš