
Disebuah taman, tepatnya dibelakang kafe tersebut. Isak lirih terdengar dari seorang perempuan yang baru saja merasakan patah hati. Sang pujaan yang selama ini didambanya sudah tak bisa ia gapai lagi. Mencintai dalam diam, menjadi penyesalan terdalam bagi perempuan yang pernah mengalami gagal berumah tangga itu.
Ya, Adel bukan seorang gadis. Ia adalah janda rasa perawan. Statusnya janda tapi kenyataan ia masih seorang perawan. Dipaksa menikah dengan pria yang tak dicintainya membuat ia lari dari rumah, hingga suatu kejadian membuat suaminya meregang nyawa dan ia pun berstatuskan janda.
Pertemuan yang tak sengaja dengan Abi dan Rizky, membuat perempuan itu diam-diam menaruh rasa pada pria dingin itu. Ia salah mengartikan perlakuan Abi yang selalu membela setiap kaum perempuan. Dengan sikap dingin yang dimiliki Abi, ia berpikir jika ia bisa menaklukan pria tampan itu. Namun semua pemikirannya salah. Tanpa ia tau, Abi sudah memiliki cintanya sendiri.
Hal yang paling ia sesali, adalah ketika ia tak bisa mengungkapkan perasaannya itu. Sampai ia tau jika Abi sudahlah menjadi milik orang lain. 'Mungkinkah, aku bisa mendapatkannya jika aku mengungkapkannya?' batinnya bertanya-tanya.
Tepukan dibahu berhasil membuat perempuan itu terlonjak kaget. Ia segera menghapus jejak kebasahan dipipinya dengan kasar seraya menengok, melihat siapa yang kini duduk disebelahnya.
"Mengendalikan perasaan itu memang sulit. Kita tak pernah tau pada siapa hati kita memilih. Namun, ada kalanya hati pun harus mengalah pada garis takdir yang sudah Tuhan kehendaki," ucap seorang pria disampingnya itu.
Adel tersenyum miris. Mungkin benar, ia memang harus mengakui itu. Namun apa itu mudah? Hati kecilnya masih bersiteguh pada sebuah harapan yang tak akan pernah menjadi kenyataan.
"Aku tau, kamu suka 'kan sama si boss?" tanya Gilang-pria yang menghampirinya itu.
"Ck! So tau," sangkal Adel.
"Semua orang juga tau," balas Gilang. Adel tak menanggapi, perempuan itu masih menunduk menyembunyikan matanya yang begitu sembab.
"Sikapmu, perlakuanmu, cara bicaramu, tatapan matamu terhadap si boss, itu sudah terlihat jelas. Kamu begitu menyukainya, bahkan mungkin mencintainya," lanjut Gilang.
"Tapi," Gilang menjeda ucapannya, seraya menepuk bahu perempuan itu. "Melupakan itu lebih baik. Mungkin sulit, tapi bisa kau lakukan pelan-pelan," lanjutnya.
Kemudian Gilang berlenggang meninggalkan perempuan itu sendiri dengan pikiran berkecamuk. "Bisakah?"
**
Sementara itu di lain tempat, seorang gadis tengah berjalan menyusuri trotoar jalan. Sesekali gadis itu menendang krikil kecil dihadapannya. Wajahnya terlihat begitu berantakan dengan lelehan air mata, bahkan dengan isak kecil yang masih tersisa dari bibir mungilnya itu.
Kedua jempol tangannya mengait pada tali tas punggung yang dikenakannya. Tanpa melihat arah tujuan, ia berjalan seraya menunduk menatap kedua sepatunya. Seperti Adel, Renata pun merasakan hal yang sama. Kedua perempuan itu kini tengah merasakan patah hati berjamaah. Untuk pertama kali Renata juga merasakan patah hati. Untuk pertama kali juga ia tak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Isshhh ngeselin ...." pekiknya seraya mendendang lagi batu yang sedikit lebih besar dari krikil dihadapannya, hingga terdengar suara memekik kesakitan.
"Aww!! Aww!! Siapa ini yang berani lempar saya batu," omel seorang pria yang berhasil menghentikan langkah Renata.
Gadis itu mendongak, dan betapa terkejutnya ia melihat seorang pria bertubuh kekar bak preman tengah mengusap jidat dengan atensi menatap padanya. Meski jarak mereka cukup jauh, namun Renata yakin jika pria itu menatap padanya.
__ADS_1
"Kau? Kau yang melempar batu padaku ya?" teriak pria itu dengan wajah garangnya.
"Bu-bukan, Pak! Bukan saya," balas Renata dengan sedikit terbata dan telapak tangan yang ia kibaskan.
"Ck! Kalo bukan kamu siapa lagi?" tanyanya dengan nada yang sama.
"Ma-maaf Pak, sa-saya gak lempar. Saya cuma tendang," ucapnya keceplosan. Dengan cepat gadis itu membekap mulutnya.
"Ck! Kurang aja, sini kau!" teriak pria itu, seraya berjalan hendak menghampiri.
"Ma-maaf pak! Saya tidak sengaja," karena takut, ia pun mundur dan berbalik. Lalu dengan cepat berlari meninggalkan posisi.
Aksi kejar-kejaran pun tak dapat dihindari. Renata berlari sekencangnya tanpa tau arah tujuan, hingga ia hendak melewati sebuah gang kecil, tiba-tiba saja tangan seseorang menariknya. Gadis itu terkejut, namun ia tak dapat menghindar. Ia hanya mengikuti orang yang kini mencekal pergelangan tangannya hingga orang tersebut mengukungnya diantara tembok, dengan jarak wajah begitu dekat.
Deg!
Renata terpaku menatap wajah tampan yang berdekatan dengannya itu, mata keduanya terkunci, bahkan hidung keduanya sudah saling bersentuhan. Pria itu memiringkan wajah, dan reflek membuat Renata memejamkan mata.
"Ck! Anak muda jaman sekarang, memang gak tau tempat, padahal sudah disediakan banyak hotel. Dasar gak modal," gerutu seorang pria yang terdengar langkahnya semakin menjauh.
Pletakk!!!
"Ngapain lu pake merem-merem? Ngarep gue cium?" celetuk pria dihadapannya itu.
"Ihh Iky, sakit tau!" rengek Renata mengusap jidatnya yang kemungkinan memerah.
"Siapa juga yang ngarep dicium, idih naj*s!" sangkal gadis itu.
"Heleh, kalo gak ngarep, ngapain merem-merem?" tanya Rizky.
"Ya-ya karena gue takut," sahut Renata sedikit gelagapan. "Eh, itu bapak-bapak udah pergi 'kan?" tanyanya masih dengan perasaan khawatir seraya wajah celingukan melihat kebelakang pria yang jangkung dan lebih besar darinya itu.
Rizky berdecak merasa tak percya, "Ck! Udah, dia udah pergi," ucapnya.
"Atau mau gue panggilin lagi?" godanya, ia hendak membuka mulut. Namun dengan cepat Renata membekap mulut yang menurutnya rombeng itu.
"Isshh jangan! Apaan sih lu, ngeselin deh ihh," protes Renata dengan gerutuan kesal.
__ADS_1
Rizky tertawa seraya membuka bekapan gadis itu, tentu saja hal itu membuat Renata berdecak kesal. "Dah ah, jangan ketawa! Ngeselin lu emang,"
"Iya, iya," Rizky menghentikan tawanya kala melihat gadis itu yang sudah berkaca-kaca lagi. "Lagian mau kemana sih lu? Kek tau daerah ini aja," tanyanya.
"Gue mau pulang!" balas gadis itu diringi isak tangisnya.
Rizky menghembuskan napas panjang, merasa tak tega juga melihat gadis yang terlihat berantakan itu. Ia meraih tangan gadis itu dan digenggamnya.
"Ya udah, yuk pulang!" ajaknya.
Tanpa protes Renata hanya mengikuti langkah Rizky menyusuri jalan kecil itu untuk menuju kafe, dimana mobilnya terparkir.
**
Ditempat yang berbeda, tepatnya dikafe itu. Sena terlelap setelah melakukan ritual mandi wajibnya. Perempuan itu terlelap diatas sofa, bekas pertempuran mereka tadi. Dengan jaket yang bertengger didadanya, Sena tak terusik sama sekali. Sedangkan Abi masih berkutat dihadapan laptop diatas meja kerjanya.
Pria itu melirik jam yang bertengger dipergelangan tangannya. Tak terasa waktu sudah sore, hingga ia memutuskan untuk menghentikan aktifitasnya dan berencana untuk segera pulang.
"Sen, bangun! Kita pulang," Abi mencoba membangunkan sang istri, dengan menoel pipinya.
"Sen?!"
"Lima menit lagi, Ma. Aku masih ngantuk," gumam Sena.
Hal itu tentu saja membuat Abi terkekeh. Tak ingin membangunakan istri kesayangannya itu yang mungkin kelelahan akibat aktifas panas mereka. Akhirnya Abi menggendong tubuh ramping itu untuk dibawanya kedalam mobil.
"Aku pulang!" pamitnya pada para karyawan yang masih berkutat ditemoat mereka masing-masing.
"Iya boss!!" balas sebagian dari mereka dengan bisik-bisik kala melihat keuwuan pengantin baru itu. Hanya Adel yang kembali menatap sendu pasangan itu, dengan hati yang entahlah.
Abi mendudukan tubuh Sena diatas jok, dengan sedikit mengatur posisinya sedikit berbaring, lalu mengenakan sabuk pengaman pada tubuh ramping itu.
Sena tak terusik sama sekali, gadis itu hanya bergeliyat kecil lalu terlelap kembali. Abi mengecup dahi Sena, lalu membelai pucuk kepalanya disertai senyuman manis yang ditunjukan olehnya.
"Selamat tidur, istri agresif-ku!"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Yuk jejaknya gaisss.. InsyaAlloh malam lanjut yaa🤗