
Greeppp!!!
Buket bunga tertangkap salah satu gadis yang tampak diam dan tak seheboh gadis-gadis lain. Ia hanya mengacungkan buket itu, hingga tepuk tangan terdengar menggema diruangan luas itu.
"Wah keren, Jin! Siap di halalin si aka dong, ya?" goda Sena medekati sahabatnya itu.
Jingga hanya terkekeh. Ia pernah mendengar mitos itu, namun bukan Jingga namanya jika percaya hal tahayul seperti itu. "Cuma buket bunga," balasnya yang terlihat tak tertarik sama sekali pada bunga itu. Bahkan gadis itu memberikannnya pada Sena begitu saja.
"Ya ampun Jin. Ini tuh jodohmu. Kenapa dikasih aku? Aku udah nikah, gak mau nikah lagi," celetuk Sena seraya mengembalikan buket bunga itu pada Jingga.
"Tapi a-" Belum juga uacapannya selesai buket bunga itu dirampas seseorang, hingga membuat gadis itu menjeda ucapannya.
"Kalo gak mau, buat aku aja," Shaka merampas buket bunga itu dari tangan Jingga.
"Cih! Kardus," ledek Sena.
"Kardus lebih baik dari plastik. Setidaknya aka gak mencemari lingkungan sekitar dengan suara-suara meresahkan tiap malam," cerocos Shaka dengan mata bergulir malas.
Sena terdiam sejenak mencerna ucapan Shaka yang terasa menyindir dirinya. Shaka yang mengerti sang adik terlihat lemot, segera menyambar tangan Jingga untuk membawanya keluar dari keramaian.
"E-eh mau kemana?" teriak Sena. "Ishh ngeselin, bisa-bisanya si aka nyindir-nyindir," gerutunya kesal.
"Emang iya, ya?" tanyanya seraya berpikir kembali, mengingat apakah benar suaranya tembus ke kamar sang kakak? Pikirnya. Hingga rangkulan seseorang berhasil membuatnya terlonjak.
"Astaga!" pekiknya seraya memegang dada. "Isshh ngagetin aja deh," gerutunya menampol lengan suaminya itu.
Abi menarik satu sudut bibinya, "kenapa?" tanyanya.
Sena melirik kanan dan kiri, memastikan tak ada siapapun yang akan mendengarnya. Ketika dirasa aman, ia pun sedikit berjinjit mendekatkan wajah ke telinga sang suami.
"Emang iya, kalo kita lagi cari pahala, suaraku tembus sampai ke kamar aka?" bisik Sena.
"Iya. Bahkan sampai tembus ke kamar gue," bukan Abi tapi suara dari belakang yang nyeletuk begitu saja.
Sontak Sena kembali teerlonjak. Hingga tangannya mendarat diwajah pria yang kini tertawa dibelakangnya.
"Ishh ngeselin banget sih," gerutu Sena. Rizky sipelaku yang berdiri dibelakang pasangan itu tergelak.
"Diem lu!" kesal Sena namun tak dihiraukan pria tengil itu. "Eh lu masih bocil, gak baik mikirin masalah orang dewasa. Kata sesepuh tuh 'pamali'," ledeknya, lalu terkekeh.
__ADS_1
"Heleh! Kek lu percaya aja hal gituan," ledek balik Rizky.
"Heh itu perlu dipercaya. Secara teori juga emang bener. Kalo lu keseringan mikirin aktifitas orang dewasa, lu bisa gila. Karena gak bisa nyalurin," jelas Sena dan hanya dibalas cebikan bibir pria itu.
"Sen, ayo! Kita kasih selamat dulu sama mantennya!" ajak mama Ay dan diiyakan Sena.
"Dah ah, kita nyamperim manten dulu!" ajak Sena menggandeng tangan Abi setelah mama Ay dan papa Ar berjalan lebih dulu.
Rizky menghembuskan napas panjang. Ia melirik sang kekasih yang jauh dipojok sana. Biarpun mereka sudah terbuka, bahkan seluruh penghuni kampus sudah mengetahui itu. Namun mereka belum bisa terbuka pada keluarga mereka.
Mereka tau betul, jika kedua ibu mereka adalah musuh bebuyutan yang tak pernah akur dimanapun. Hingga mereka memutuskan untuk pacaran tanpa sepengetahuan orang tua mereka.
"Hadehh nasib gue gini amat, ya!" Pria tampan itupun berlenggang pergi untuk menjauhi keramaian.
Berbeda dengan Sena dan Abi yang sudah siap mengntri di belakang mama dan papanya. Merasa sudah sepi, mereka pun siap untuk memberi selamat. Awalnya berjalan lancar mereka salaman dari orang tua Deril terlebih dahulu. Lanjut pada kedua mempelai yang nampak serasi itu. Dan terakhir papa Ar sedikit dibuat kaku kala sudah terlalu lama, ia tak pernah bertemu lagi dengan sang mantan.
Ia mengulurkan tangan dengan senyum hangatnya seperti biasa, dan disambut Rara dengan senyuman juga.
"Selamat ya, Ra!" ucap papa Ar tulus.
"Makasih, Ar! Aku gak nyangka, ternyata kita bisa bertemu lagi dengan cara yang tak terduga seperti ini," balas Rara.
"Hai, mbak Rara! Apa kabar? Lama ya, gak ketemu?" tanya mama Ay dengan wajah dibuat semanis mungkin. Meski hatinya kesal, karena jabatam tangan itu tak kunjung lepas.
"Hai, Ay! Aku baik. Iya lama ya gak ketemu," balas Rara.
Mama Ay pun semakin mengencangkan cubitannya, hingga papa Ar terlonjak dan dengan sedikit memaksa pria itu menarik tangannya sedikit kasar. Ia tak memedulikan tatapan aneh anak-anak mereka. Ia lebih peduli pada nasibnya yang kemungkinan kehilangan semalam bersama istrinya itu. Dan hal itu lebih menakutkan bagi pria bucin itu
"Eh, maaf-maaf!" sesal Rara dan hanya ditangggapi senyum oleh papa Ar.
"Mereka kenapa sih, aneh banget?" Bisik Sena yang kini masih berdiri dihadapan pengantin tersebut.
Abi mengedikan bahunya tak mnegerti. Begitupun Chika yang juga menggelengkan kepala. "Entah ...."
"Eh, kalian gak tau ya?" tanya Deril ikut berbisik, hingga ketiga orang itu sedikit mendekatkan telinga untuk mendengar ucapan Deril yang membuat mereka peenasaran.
"Apa?" tanya Sena yang begitu kepo.
"Papa Ar 'kan mantannya Bunda," jelas Deril masih dengan suara pelan.
__ADS_1
"Whatt???" kedua perempuan itu memekik kaget. Hingga atensi orang-orang teralihkan pada mereka.
"Ada apa?" tanya mama Rilla shok.
"Hah? Oh gak apa-apa Ma," balas Sena kikuk. Begitu pun Chika yang tersenyum menampilkan dereta gigi.
"Kamu tuh bikin oramg jantungan aja," gerutu mama Ay mengusap dadanya.
"Maaf. Ma!" sesal Sena cengengesan.
"Eh ini putra putrimu, ya?" tanya Rara.
"Ah iya. Ini putri bungsuku dan ini suminya," jelas mama Ay memperkenalkan putri dan menantunya. Sena dan Abi pun segera menyalimi wanita itu bergantian.
"Astaga! Kamu juga udah punya menatu Ay?" tanya Rara memastikan dan diiyakan mama Ay.
"Wah aku kira mereka saudara. Habis sedikit mirip ya?" kekehnya yang sedikit heran. Ia mengira jika itu putra sulung pasangan tersebut. Mereka hanya ikut terkekeh mendengar itu.
"Si sulung, entahlah dimana dia. Dia seumuran sama Deril," jelas mama Ay dan diangguki Rara.
Acara pun terus berlanjut, dilangsungkan dengan acara resepsi juga. Sampai tak terasa waktu pun sudah menjelang malam. Kini giliran yang muda yang berpesta. Semua orang tua sudah pulang kerumah masing-masing. Menyisakan muda mudi diballroom tersebut dengan penampilan berbeda.
"Haii kak Sen?!" sapa Kia seraya menyeret seorang pria digandengannya.
"Haii Kiy. Kak Rei, kapan datang?" sapa balik Sena.
"Barusan," balas Reihan dan diangguki Sena.
Belum juga Rei menyapa Abi, Kia sudah menyeretnya lebih dulu. "Udah ah, ayo om kita dansa!" ajak Kia pada sang om. Hingga kedua manusia itu memasuki lantai dansa tersebut.
Sena hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sepupunya itu. Hingga tiba-tiba sebuah tangan besar terulur padanya.
"Nona, mau berdansa denganku?" tanya Abi dengan senyum tipisnya.
Sena tersenyum manis dan dengan cepat meraih tangan suaminya itu, hingga mereka pun ikut bergabung dan berdansa disana.
\*\*\*\*\*\*
Tadinya ini part mau malam pertama. Berhubung ada yang ngingetin soal mantan papa Ar, jadi bahas itu dulu. Malam pertama skip besok yaa😂😂 Jejaknya jangan lupa yaa😘
__ADS_1