
Disebuah kamar nan luas dengan lampu temaram, bunga dan lilin nampak menghiasi ruangan tersebut. Taburan kelopak bunga memenuhi kasur berbalutkan kain putih yang mempercantik benda empuk dan luas itu. Aroma khas mawar begitu menyengat, hingga menusuk indera penciuman kedua insan yang kini tengah duduk ditepi ranjang.
Hening!
Suasana mendadak canggung diantara dua manusia itu. Berstatuskan pengantin baru membuat keduanya harus satu ruangan private untuk pertama kalinya. Masih berbalutkan baju khas pengantin, kedua manusia itu sama-sama menunduk dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan.
Rasa bahagia yang berubah menjadi gugup kala memasuki ruangan tersebut, dirasakan sepasang pengantin itu. Jangan tanya bagaimana jantungnya, amankah? Tentu saja tidak. Jantungnya berdegup berkali-kali lebih cepat, bahkan suasana diruangan itu mampu membuat bulu-bulu halus mereka meremang seketika.
"Ehemm!!" Deril berdehem dan memutuskan memulai obrolan untuk memecahkan keheningan.
"Mau kamu dulu, apa kakak dulu ke kamar mandinya?" tawar Deril.
"Emm terserah kakak aja," balas Chika dengan gugup.
Deril tersenyum, mungkin gadis yang beberapa jam yang lalu sudah diperistrinya. Lebih gugup dari apa yang dirinya rasa. Ia menggenggam tangan sang gadis hingga Chika terlonjak kaget kemudian mendongak menatap padanya.
"Jangan takut! Kita jalani kek biasanya. Kalo kamu merasa gugup? Jawabannya, sama. Kakak juga," kekeh Deril mencairkan suasana.
Akhirnya senyum yang disertai hembusan napas lega keluar dari bibir ranum itu. "Maaf ya kak. Suasana ini benar-benar membuatku gugup, aku gak tau harus kek gimana?" jelas Chika megungkapkan isi hatinya.
Deril tersenyum seraya mengusek pucuk kepala istrinya itu. "Gak harus gimana-gimana, kita ikuti aja naluri kita," terang Deril dan diangguki Chika.
"Ya udah kamu mandi duluan gih, udah terlalu malam. Terus mandinya pake air hangat ya, jangan keramas juga!" titah Deril dengan segala nasehatnya.
Tentu saja hal itu membuat senyum Chika melebar. Perlakuan Deril selalu membuat ia merasa jadi ratu. Ia pun mengangguk mengiyakan, sebelum akhirnya memasuki kamar mandi.
Tak membutuhkan waktu lama, Chika keluar dari ruangan berair itu mengenakan bathroob putih yang melekat ditubuh mungilnya. Rambutnya ia cepol keatas. Sesuai intruksi sang suami, untuk tak mengeramas rambut karena malam semakin larut.
Gadis itu terdiam sejenak, ia baru mengingat apa yang harus ia kenakan? Sedangkan semua baju dirumahnya. Ada pun ia membawa baju ganti, tapi bukan dikamar itu. Melainkan dikamar sang Bunda. Bahkan semua barang, seperti ponsel dan benda kebutuhannya ada dikamar tersebut. Ia pun melihat sang suami yang sudah terbaring dengan posisi telentang. Jas dan dasinya sudah terlepas dari tubuh sispek itu.
Chika mencoba mendekat, meminta bantuan suaminya itu lebih tepat sepertinya. Ia pun mencoba membangunkan Deril seraya menggoyangkan lengannya.
__ADS_1
"Kak ...!!"
"Bangun, kak! Bisa tolongin aku gak?" tanyanya. Namun sepertinya pria itu benar-benar terlelap.
Chika mencoba untuk lebih dekat, kemudian menoel hidung dan pipi suaminya itu pelan. "Kak, bangun dulu dong! Bantu aku-"
Grepp!!
Jari nakal yang mengusik tidur Deril pun digenggam pria tersebut. Dengan membuka mata, Deril menarik tubuh ramping itu hingga terjerembab menindih tubuhnya.
Deg!
Chika terpaku menatap mata sayu itu. Untuk pertama kali ia melihat sang suami dalam keadaan bangun tidur. Aroma mint dari hembusan napas Chika, mampu membuat Deril terbangun. Bahkan bukan hanya dirinya saja, si jack dibawah sana juga ikut terbangun karenanya.
Tanpa aba-aba, Deril menarik tengkuk sang istri untuk menyecap lembutnya bibir sedingin es tersebut. Benda kenyal yang baru ia jamah kembali setelah malam itu, akhirnya ia rasakan kembali. Deril melesakan lidahnya lebih dalam untuk mengabsen dan meneguk isi manis didalam rongga mulut tersebut.
Lambat laun, Chika ikut hanyut dan mulai berlajar membalas perlakuan yang diberikan suaminya itu. Hingga ia tak menyadari jika posisi mereka sudah bertukar. Kini Chika sudah dibawah kungkungan suaminya.
Hal itu tentu membuat Chika sedikit terlonjak. Namun segera ia tersadar, jika memang hal itu harus ia lakukan. Melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri adalah prioritas utamanya sekarang, seperti apa yang diajarkan sang bunda.
Gadis itu mulai memerintah tangannya untuk menjelajahi lekukan tubuh tegap itu sesuai nalurinya. Dan hal itu semakin membuat jiwa liar Deril bangkit seketika. Ia tarik tali dari kain putih yang menutupi tubuh yang pastinya molek tersebut, hingga kain itu terbuka lebar dan menampakan kulit putih yang menyilaukan mata.
Derik diam sejenak menatap tubuh yang semakin menantangya itu, setelah mereka saling melepaskan pagutan. Begitupun Chika ia terpana akan dada bidang sang suami dan roti yang berbentuk kotak dibagian perut itu membuat air liurnya hampir saja menetas.
"Gak apa-apa 'kan kita melakukannya?" tanya Deril dengan tatapan sayu berkabut gairah.
"Emm ... Apa gak akan sakit?" tanya balik Chika.
"Entah. Bukankah kita harus mencobanya?"
"Tapi ... Aku takut," cicit Chika seraya mengigit bibir bawahnya. Terlihat raut wajah gelisah dari gadis tersebut.
__ADS_1
Deril mendekatkan wajah seraya membelai lembut pipi cantik sang istri. "Jangan takut! Kita nikamtin aja. Kamu hanya perlu rileks dan berpikir positif," titah Deril.
"Mungkin untuk pertama emang sedikit sakit, karena apa? Karena itu belum terbiasa. Seperti misalnya kita bekerja, pas pertama pasti kaku dan tubuh pasti terasa sakit. Tapi dihari selanjutnya, rasa kaku itu hilang sendirinya. Rasa sakit pada tubuh juga pasti hilang dengan rasa terbiasa," jelas Deril panjang kali lebar.
"Nah, begitupun apa yang akan kita lakukan. Sakit diawal, mungkin itu wajar. Terbukti 'kan hal itu menjadi candu setiap suami istri, karena memang mereka sudah terbiasa," lanjutnya dan akhirnya diangguki mengerti oleh Chika.
"Jadi, jangan tegang ya! Kakak akan melakukannya pelan-pelan," peringatnya lagi dan kembali hanya diangguki gadis itu.
Mereka kembali melakukan pemansan. Kali ini Deril tak melewatkan sejengkal pun kulit utih diseluruh tubub sang istri. Semua kain sudah tertanggal disana sini tak beraturan. Hingga si jack pun siap menyapa si nona manis yang sudah membasah karena perlakuannya itu.
"Akkhhh!!" pekik Chika yang kemudian mengigit bibir bawahnya. Menahan sakit kala si nona diterobos kuat si jack yang terus memaksa masuk.
Deril yang khawatir, segera menyambar bibir ranum itu. Memberikan kelembutan dan kenyamanan untuk sang istri. Seolah menjelaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dengan sekuat tenaga ia terus mendorong senjata keramatnya hingga akhirnya menyelam sempurna kedasar lautan surgawi.
Deril terdian sejenak, merasakan penyelaman pertama yang luar biasa itu. "Kakak gerak ya?" izinnya terlebih dahulu dan hanya diangguki Chika.
Rasa sakit dan aneh yang membuat ia penasaran, membuat gadis itu hanya pasrah menerima perlakuan sang suami yang ternyata mampu membuat ia melayang bebas mencapai nirwana.
Suara de sa han terlantun indah mengiringi tempo dari setiap gerakan yang mereka ciptakan. Hawa yang tadinya dingin berubah menjadi panas. Bahkan AC pun tak mampu mendinginkan apalagi menyurutkan peluh yang kian bercucuran.
Hingga entah dimenit keberapa, erangan panjang terdengar dari sepasang manusia itu. Mereka ambruk bersama dengan tubuh basah dan napas yang tersenggal-senggal.
"Makasih sayang!" ucap Deril mengecup kening sang istri dan hanya diangguki Chika.
Keduanya masih membiarkan sejoli itu bersatu. Membiarkan bibit super Deril berlayar untuk mencari persinggahannya.
"Mau ngulang?"
\*\*\*\*\*\*
Heug lahh hareudang🤣🤣🤣 Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😘
__ADS_1