
Tak kalah panas dengan kamar sebelah. Dikamar ini pun sepasang suami istri yang masih bisa disebut pengantin baru, tengah menggali kenikmatan disetiap tempo memabukan yang kedua insan itu ciptakan. Suara sexy menggelegar, menggema memenuhi setiap sudut ruangan tersebut.
Pantas saja sang kakak meledeknya seperti itu, suara Sena memang paling dominan dari suara suaminya. Jika saja dirumah suara itu dapat tembus kekamar sebelah, yang lebih tepatnya ke kamar Shaka. Berbeda halnya dikamar hotel ini. Sekencang apapun ia berteriak tak akan tembus kemanapun. Dan hanya akan menggema diruangan itu saja. Itu dikarenakan fasilitas hotel mewah yang memang menyediakan kamar kedap suara. Terutama khusus para pengantin seperti mereka ini.
Butuh waktu lama untuk mencapai nirwana bersama. Hingga dimenit yang sudah tak terhitung lagi, kedua insan itu mengerang bersama. Menumpahkan lahar yang sedari tadi mereka gali.
Haaahhh ~
Hembusan napas tak beraturan keluar dari bibir kedua manusia itu, diiringi peluh yang membanjiri sekujur tubuh keduanya. Abi tak henti mencium seluruh wajah cantik nan basah sang istri. Ia masih enggan bangkit, untuk membiarkan lahar itu menembus rahim terdalam istrinya.
"Sudah hampir sebulan, apa disini gak akan tumbuh?" tanya Abi mengusap perut rata Sena.
"Emm entahlah ... Aku hanya berdoa, mereka segera tumbuh. Dulu aku sempat berpikir untuk siap hamil setelah aku selesai skripsi. Tapi sekarang, aku siap kapanpun itu," jelas Sena. Abi tersenyum seraya mengecup kening istrinya itu.
"Kamu sendiri, emang udah siap buat jadi ayah?" tanya Sena. "Emm secara 'kan usia kita baru dua puluh tahun," lanjutnya.
"Siap gak siap, aku harus siap," balas Abi.
"Cih! Berarti belum siap itu," ledek Sena hingga Abi tertawa.
"Aku hanya bayangin dua puluh tahun kemudian. Saat orang-orang gak bisa bedain antara ayah dan putranya. Sepertinya itu menarik," celetuk Abi, hingga Sena tergelak.
"Iya, aku juga. Gak kebayamg aku, kita jalan sama anak kek jalan sama adik ya," celetuk Sena juga disela tawanya.
"Tapi, gimana pun itu kita harus tetap mensyukuri. Kita jalani apa adanya, mau dikasih cepat kita syukuri, belum juga kita berusaha lagi," balas Sena dan diangguki Abi.
"Apa mau berusaha lagi?" goda Abi menaikan sebelah alisnya yang disertia seringai dibibirnya.
Akhirnya kegiatan berusaha lagi dilakukan sepasang manusia itu. Hingga entah sampai jam berapa mereka menyelesaikan aktifitas yang menguras energi dan peluh itu. Bahkan mungkin mengalah sang pengantin baru dikamar sebelah.
__ADS_1
**
Pagi menjelang, sang surya sudah lebih tinggi dari sarangnya. Sepasang pengantin baru itu sudah tampak rapih. Wajah keduanya tampak segar dan berbinar. Malam pertama yang sukses membuat aura terpancar dari kedua manusia itu.
"Bisa jalan gak?" goda Deril pada sang istri yang kini sudah duduk ditepi ranjang.
"Isshh kakak ...." rengek Chika. Tentu saja digoda seperti itu, membuat gadis yang sudah tak perawan lagi itu malu. Bahkan wajahnya memerah karena itu.
Deril tertawa kecil, lalu menarik gadisnya itu kedalam dekapan. Seraya mendaratkan kecupan dipucuk kepalanya.
"Makasih ya, kamu sudah mau menjadi pendamping hidup kakak. Makasih sudah memberi warna dihidup yang kelabu ini. Kamu bagai pelangi yang datang setelah badai. Kau menyembuhkan luka yang lama tak kunjung terobati. Bahkan bekasnya pun kini tak nampak sama sekali. Semua tertutup sempurna karena kehadiranmu," ungkap Deril, satu tetes cairan bening luruh dari ujung matanya.
"Makasih!" lirihnya.
Chika yang mengerti pun mendongakan wajahnya. Ia melerai pelukannya dan menghapus jejak basah dipipi tampan itu, disertai senyuman manis dari bibirnya.
"Aku yang harusnya berterima kasih. Dari sekian juta pemujamu, kakak pilih aku untuk jadi ratumu. Kakak tau ini bahkan masih terasa mimpi. Aku yang selalu mengagumi kakak dari kejauhan, bahkan terlihat mustahil untuk hanya bisa sekedar menyapamu. Justru sekarang aku memilikimu. Kakak milikku, kakak milikku," Kini giliran Chika yang menumpahkan tangisnya. Tangis haru dari kehalauan yang berubah jadi kenyataan.
"Sekarang kakak hanya milikmu. Jiwa raga ini hanya milikmu. Hati dan cinta kakak hanya untukmu," jelas Deril dan dibalas pelukan erat dari sang istri.
Ditengah haru biru sepasang pengantin baru itu, ketukan dipintu mengalihkan atensi mereka.
Deril melerai pelukan mereka dan memilih untuk membuka pintu tersebut. Hingga baru saja kunci itu terbuka, pintu tersebut sudah didorong keras dari luar. Hingga Deril hampir saja terjengkang.
"Ya ampun de! Pelan-pelan napa?" gerutu Deril kesal.
Sena cengengesan dan memilih menyerobot masuk kala melihat Chika yang sudah tampak rapih. Berarti dirinya sudah aman untuk masuk kedalam bekas tempur pengantin baru itu. Ia melirik sekilas sprei tang sudah hilang dari kasur tersebut. Hingga dapat dipastikan, pengantin itu sudah sukses melakukan malam pertama mereka.
"Ciee .... Sukses ni ye!" goda Sena seraya mendaratkna bokong disamping Chika.
__ADS_1
"Isshh kak Sena, apaan sih?" elak Chika merasa malu.
"Udah gak apa-apa jangan malu gitu. Aku juga ngalamin waktu itu. Aku malah digodain tiga wanita sekaligus. Bahkan ibu mertua ikut menggoda. Tapi ya aku cuek-cuek aja. Malah aku bangga karena sukses malam pertama. Itu tandanya kita sudah jadi istri yang sempurna," cerocos Sena panjang kali lebar.
"Iya, bu Haji," ledek Deril terkekeh.
"Ishh kak Deril nih, aku serius!" balas Sena tak terima dan dibalas tawa kecil dari pria itu yang dibalas cebikan bibir dari Sena. Chika hanya terkekeh seraya menggelengkan kepala, merasa lucu akan sikap kedua manusia itu.
"Oh iya," Sena memperlihatkan kertas dari tangannya kehadapan Chika. "Tadaaa!!!"
"Apa itu kak? Tiket?" tanya Chika heran.
"Iya. Papa ngasih tiket double date buat kita honeymoon. Katanya sih hadiah, buat mantan calon mantunya," jelas Sena tergelak. Chika pun ikut tertawa mendengar itu.
"Wah serius nih?" tanya Chika.
"He'em. Aku sama Abi emang udah rencana honeymoon setelah masalah kafe beres. Jadi ya, kita sekalian aja barengan. 'Kan lebih seru tuh," jelas Sena dan diangguki semangat oleh Chika.
"Jadi, kapan berangkatnya?" tanya Deril yang baru menanggapi.
"Hari ini. Kita berangkat lepas dzuhur," balas Sena memberikan tiket pasangan itu pada Chika.
"Ya udah aku keluar dulu. Maaf udah mengganggu kalian!" kekehnya dan hanya ditanggapi senyum oleh Chika. "Abi pasti udah nunggu, aku pergi dulu. Bye!" pamitnya berlenggang keluar kamar itu.
"Ya ampun kak Sena lucu ya. Aku gak nyangka dibalik wajah cantiknya. Ternyata dia nyeleneh juga," kekeh Chika. Deril hanya tersenyum menanggapi.
"Iya. Selain manja dia juga barbar. Entahlah gimana cara Abi ngadepin anak itu," ucap Deril, hingga kedua manusia itu tergelak.
Setelah bergosip tentang Sena, kini sepasang pengantin itu memutuskan untuk sarapan, setelah pelayan resto mengirim menu untuk mereka mengisi perut. Dan setelahnya mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah terlebih dahulu untuk packing sebelum mereka pergi honeymoon.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya yaa gaisss😘😘😘