
Cahaya jingga nampak dari upuk timur. Sang surya masih enggan menampakan diri. Namun, dijalanan yang masih sepi, seorang perempuan sudah berdiri menyambut sinar yang akan menghangatkan tubuh dari balutan embun pagi yang menusuk hingga sanubari.
Perempuan itu tengah melakukan gerakan-gerakan kecil. Sebuah gerakan perenggangan otot tangan dan kaki yang ia lakukan seorang diri. Berbalutkan outfit ketat khas olahraga, membuat lekuk tubuh goals perempuan itu terlihat jelas. Lengkap dengan sepatu dan headset yang menggantung ditelinganya. Rambut panjang yang diikat tinggi, memperlihatkan mahakaraya yang tercetak jelas dikulit putih itu. Perempuan itu tampak sempurna dimata siapapun, namun sayang ia hanya lah istri orang.
Sena memilih untuk melakukan olahraga kecil dijalanan tepat didepan kafe. Berulang kali ia membangunkan Abi untuk ikut bersamanya, namun tak berhasil ia lakukan. Suaminya itu masih enggan membuka mata dan masih terlihat hanyut dalam mimpinya.
Setelah kejadian semalam, Sena sama sekali belum memejamkan mata. Tragedi penyusupan yang disambung dengan olahraga malam yang membutuhkan waktu sampai tahrim, membuat perempuan itu tak menutup matanya sama sekali. Ia memilih untuk membersihkan diri dan melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, lalu berakhir ditempat kini ia berdiri.
"Ya ampun, apa dia belum bangun?" gumam Sena melirik jam dipergelangan tangannya yang hampir memasuki pukul lima.
"Haii cantik?" sapa seseorang dari balik punggungnya.
Seketika Sena berbalik menatap siapa yang menyapanya. Mata Sena membulat melihat pria yang kini berdiri dibelakangnya.
"Kamu?" pekik Sena.
"Boleh kenalan?" tanyanya dengan senyum menggoda.
"Kamu maling!" pekik Sena geram. Namun pria itu justru tersenyum melihat ekspresi Sena.
Sena hendak berteriak, namun dengan cepat pria itu mendekat dan menutup mulut Sena dengan telapak tangannya.
"Suuttt!!!"
"Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Apa gak boleh?" jelasnya lalu bertanya.
Sena dengan cepat menyingkirkan tangan itu seraya mundur menjauh. "Jangan kurang ajar kamu!" peringat Sena menggebu. "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu memasuki kafe kami?" tanyanya memberanikan diri, meski hatinya sedikit takut melihat seringai dari pria tersebut.
Pria itu masih terlihat santai seraya semakin mendekat, hingga reflek Sena juga ikut mundur. Berancang-ancang untuk melakukan serangan, jika tiba-tiba saja pria itu berbuat yang tidak diinginkan.
"Tenanglah, aku bukan orang jahat. Bukankah kau ingin tau siapa aku?" tanyanya.
Pria itu berhenti mendekat, lalu mengulurkan tangannya. "Kenalin aku Reza," ucapnya. Namun tak disambut Sena. Perempuan itu justru melipat tangannya didada.
"Cih! Bukan orang jahat? Kalo bukan orang jahat, gak mungkin masuk kafe orang diam-diam seperti itu. Itu namanya kamu maling. Gak nyadar diri apa?" cerocos Sena tanpa filter.
__ADS_1
Hal itu justru membuat pria itu semakin melebarkan senyumnya. Mungkin ia baru menyadari kecerewetan perempuan itu yang tak sesuai dengan wajah cantiknya.
"Gak usah senyum-senyum. Aku tau kamu terpesona denganku, udah biasa itu," lanjut Sena dengan percaya dirinya. Tentu saja ia tau pria itu terpesona dari pertama melihat wajah cantiknya, dan hal itu sudah biasa untuknya.
"Sekarang kamu ngaku, atau aku teriakin maling?" ancam Sena.
Pria itu melipat tangan didada. "Apa yang harus aku akui?" tanyanya santai.
"Ck!" Sena berdecak kesal dengan sikap pria yang tak waras menurutnya itu. Bagaimana tidak? Jika orang lain maling pastinya akan kabur, karena sudah ketahuan si empunya. Maling yang satu ini justru dengan santainya menghadapi si empunya, dengan wajah tanpa dosa.
"Ya kamu ngaku, apa yang kamu inginkan. Hingga Masuk ke kafe kita? Hah?" tanya Sena yang mulai geram. "Apa kamu punya masalah dengan kami? Atau ada seseorang yang menyuruhmu?" cecarnya.
"Jika aku jawab, apa yang bisa aku dapat?" tanyanya mencondongkan wajah pada Sena yang reflek memundurkan diri.
"Setidaknya jika kau menjawab. Pihak berwajib tidak akan turun tangan," balas Sena tegas.
"Emm baiklah!" balas pria itu seraya menegakan kembali tubuhnya.
"Aku akan katakan apa yang ingin kamu tau. Bahkan dengan sennag hati aku akan menceritakan kehidupanku padamu," ucapnya.
"Kamu menjadi kekasihku,"
Bughhh!!!
"Awww shhtt!!!" pria itu meringis menahan area berharganya yang dapat tendangan keras dari Sena.
"Sudah cukup main-mainnya, gue udah gedek dengerin omongan lu yang makin ngelantur itu. Lu pikir gue cewek apaan? Gue istri orang. Lu berani godaan istri orang. Jangan pikir karena gue cantik, gue mau digoda sama cowok mana aja. Gue bukan cewek gemulai seperti yang ada diotak kotor lu itu," cerocos Sena. Jiwa barbarnya keluar mendapat perlakuan yang tak senonoh dari seorang pria.
Ia memukul kepala dan tubuh pria yang tertunduk meringis itu bahkan menjambaknya kasar. Dengan ocehan yang tak henti dari bibirnya.
"Dasar lu cowok mesum! Maling! Lu pantas masuk penjara. Gak tau diri! Lu pikir gue takut sama cowok kek lu? Lu gak lebih dari cowok pengec*t yang gak tau malu! Dasar banc*! Gue sumpahin lu jomblo seumur hidup!" umpatnya dengan segala sumpah serapahnya.
Pria itu hanya pasrah Mendapati serangan itu, karena barang berharganya yang masih berdenyut, membuat ia tak berdaya untuk menghentikan aksi Sena.
"Udah Sen!" tiba-tiba suara berat membuat Sena menghentikan aksinya.
__ADS_1
Ternyata Abi melihat aksi itu sejak tadi. Ia sengaja membiarkan sang istri menghajar pria itu. Sudah lama ia tak melihat ke bar-baran istrinya itu sejak mereka sempat putus dulu.
Dirasa tak ada lagi serangan dari Sena, pria itu hendak kabur. Namun suara Abi menghentikan langkah kakinya.
"Pengec*t!"
"Kenapa?" tanya Abi, ketika melihat pria itu terdiam. "Larilah! Itu sangat pantas untukmu," lanjut Abi dengan suara dinginnya.
"Cih! Bicaramu terlalu pintar, tapi kenyataan kau orang bodoh. Aku akan lari saat kau mengejarku. Dan saat itu, seseorang lah yang akan diuntungkan," ucap pria itu lalu berlari tanpa menoleh, meninggalkan sepasang manusia dengan teka teki yang diberikan pria tersebut.
"Kenapa dibiarin lari sih, Bi? Kita udah dapatin dia," omel Sena, ketika Abi tak mengejar pria tersebut.
Perempuan itu berdecak kesal kala hampir saja mereka menangkap si pelaku penyusupan itu, Abi justru melepaskannya begitu saja. Abi tersenyum seraya merangkul bahu sang istri yang tengah cemberut
"Biarkan saja. Bukankah dia pengec*t?"
"Isshh tapi 'kan tetap aja dia pelakunya," kesal Sena. "Lagian kamu gak tau. Aku udah cape-cape naklukin dia. Aku udah ngeluarin jurus lamaku itu. Eh kamu lepasin gitu aja," lanjut Sena dengan omelannya.
Abi semakin melebarkan senyumnya, "kamu tau, aku suka gaya kamu tadi. Terlihat lebih, eurrggh," bisik Abi dengan nada menggoda.
Namun karena terlalu kesal, Sena hanya mencebikan bibirnya. Tentu saja hal itu membuat tangan Abi gemas mengusek pucuk kepala istrinya itu.
"Dia bukan pemeran utamanya," celetuk Abi hingga Sena mendongak menatap wajah suaminya itu.
"Bukankah kita hanya harus menangkap aktor utamanya?"
\*\*\*\*\*\*
Masih next up yaa! Jeajknya jangan lupa, kembang dsb nya juga boleh lah😘
Si cantik yang bar-bar😂
__ADS_1
Si tampan yang dingin😘