
Drtt ... Drrtt ...
Dering ponsel terdengar nyaring dari atas nakas, membangunkan pasangan pengantin dari tidur panjangnya. Setelah makan malam, kedua manusia itu memutuskan untuk istirahat. Meski Abi terus memberi kode untuk mengulang candu itu, tapi Sena sudah tak sanggup untuk melayaninya. Hingga akhirnya mereka tertidur diawal tanpa begadang.
"Ya ampun, siapa sih pagi-pagi udah nelepon? Ganggu aja," gerutu Sena.
Kemudian perempuan itu meraih benda bising tersebut dari atas nakas. Ternyata bukan dari ponselnya yang bersuara, namun ponsel Abi lah yang berdering.
Sena menautkan alisnya kala nama 'Pak Rahmat' tertera dilayar pipih itu. "Siapa?" gumamnya seraya meredam suara yang memekikan ruangan.
"Bi, bangun! Ini ada telepon," Sena menggoyangkan lengan Abi yang tak terganggu sama sekali.
"Bi ...." Bukan bangun, Abi justru menrik tangan Sena, hingga Sena terjerambah kedalam pelukannya.
"Abi ihh!!" rengek Sena kala Abi dengan sengaja menyusupkan kepala sang istri kedalam ketiaknya.
Gelak tawa dan pergulatan tak dapat dihindari dari kedua insan yang senantiasa tengah merajut asmara itu. Sena tetap akan kalah jika tangan Abi sudah bersemayam diperutnya.
"Ampun, Bi!" ucap Sena tergelak. Namun tidak dipedulikan Abi yang semakin gemas tak henti menggelitikinya.
"Udah Bi. Ampun, serius!" napas Sena sudah tersenggal-senggal menahan perutnya yang kegelian hingga terasa kram. Bahkan ia melupakan panggilan tadi.
Abi menghentikan aksinya seraya melabuhkan ciuman diseluruh wajah sang istri yang masih memerah akibat ulahnya itu. Hingga dering ponsel yang sudah terkapar dibalik batal itu pun kembali mengalihkan atensi mereka.
"Oh iya itu tadi pak Rahmat yang nelpon," jelas Sena.
"Pak Rahmat?" gumam Abi keheranan, seraya meraih ponsel tersebut. Belum juga ia mengangkatnya, panggilan itu sudah terputus kembali.
"Emang pak Rahmat siapa?" tanya Sena seraya mendudukan diri. Wajah gadis itu tampak khawatir, ketika melihat Abi yang terlihat serius.
"Dia security kafe," sahut Abi seraya menghubungi balik nomor tersebut. Sena ber 'oh ria' disertai anggukan kepala.
"Ada apa?" tanya Abi tanpa basa basi, ketika panggilan itu terhubung.
Terdengar hembusan napas berat dari pria tampan itu, "Saya segera kesana," balasnya.
Lalu memutuskan panggilan tersebut. Sena yang semakin khawatir segera mencecar dengan berbagai pertanyaan. Mengingat kejadian terakhir waktu itu, membuat sena mengerti ada masalah lagi dengan tempat usaha suaminya itu.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kafe bermasalah lagi? Apa kemarin belum selesai?" tanya Sena.
Abi tersenyum melihat betapa pedulinya sang istri padanya. Ia mendaratkan terlebih dahulu tangannya diatas kepala sang istri, melakukan salah satu ritual wajibnya, mengusek pucuk kepalanya gemas. Lalu melabuhkan kecupan di sana.
"Sepertinya mereka ingin main-main. Aku harus melihatnya," jelas Abi. "Apa kamu mau ikut?" tanyanya dan langsung dibalas anggukan mantap oleh Sena.
"Tentu. Kemanapun kamu pergi, pokoknya aku akan ikut," balas Sena antusias. Abi mengembangkan senyum seraya membelai pipi cantik itu.
"Ishhh, kamu jangan senyum gitu dong!" protes Sena mengusap kasar wajah suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Abi seraya menangkap tangan lembut itu, lalu mendaratkan kecupan bolal balik ditangan tersebut.
"Aku meleyot," ucapnya dramatis. Seketika Abi pun semakin melebarkan senyumnya, seraya mengusek pucuk kepala istrinya itu.
Kemudian Abi mendekatkan wajah pada depan telinga Sena, "Segala hal yang ada padaku hanya untukmu," bisiknya.
Meski perlakuan itu bukan pertama kalinya, namun tetap saja selalu membuat wajah perempuan itu merona. Abi yang gemas mengecup kedua pipi itu bergantian.
"Mau mandi berjamaah?" tawar Abi dengan nada menggoda.
"Udahlah, aku mandi duluan. Ntar aku selesai baru kamu," ucap Sena dan diangguki Abi.
Sena pun berlenggang memasuki kamar mandi, sementara Abi menghubungi Rizky untuk menyusul ke kafe.
**
Ckittt!!!
Decitan ban motor beradu dengan aspal memekik diparkiran luas sebuah kafe. Pasangan muda itupun turun dari kuda besi tersebut dan memasuki bangunan luamyan luas itu.
Semua pegawai sudah nampak hadir dan berkumpul dimeja bar didalam sana. Abi dan Sena menghampiri mereka yang tampak khawatir.
"Seperti apa kronologinya?" tanya Abi tanpa basa basi.
"Jadi gini den, semalam anak saya demam. Jadi saya pulang lebih awal, karena harus membawnya ke puskes. Terus pas tadi pagi saya datang, tiba-tiba pintu belakang sudah terbuka. Saya pikir sudah ada pegawai yang datang. Eh pas saya masuk belum ada siapa-siapa. Jadi saya langsung menghubungi aden," jelas pak Rahmat.
"Kami juga semalam tutup lebih awal, boss," tambah Susan.
__ADS_1
"Gilang?!" panggil Abi.
Gilang yang seolah mengerti segera mengambil laptop dan memutar cctv yang berada diruangan sang boss. Saat hendak memutar pemantauan dihari tersebut, tiba-tiba saja Gilang salah mengklik tanggal sebelumnya tepat dijam dimana Sena dan Abi berada dirungaan itu.
Semua orang membelakakkan mata kala dilayar itu memperlihatkan Sena yang tengah duduk diatas pangkuan Abi dan tengah berciuman dengan liar. Bahkan terlihat tangan Abi tengah membuka kancing baju Sena dengan gaya sensual.
Dengan cepat Gilang segera menutup rekaman tersebut. Semua kelabakan, bahkan berdehem untuk menutupi kegugupan dan kecanggungan diruangan disana. Sena sudah menyembunyikan wajah kebelakang punggung Abi, karena rasa malunya.
"Ya ampun, mataku ternodai, mataku ternodai," pekik Sinta seraya menutup matanya dan langsung dapat senggolan dari Susan.
"Coba Lang, putar yang dari halaman dulu!" titah Susan.
Gilang mengangguk dan dengan cepat mencari rekaman yang tepat dimalam tadi, hingga semua atensi terfokus pada layar itu. Terlihat dua orang memakai hoodie menutupi kepala memasuki area kafe dengan gerak gerik mencurigakan. Dilihat dari postur tubuh keduanya, dapat dipastikan jika mereka dua orang pria. Saat wajah mereka tertangkap kamera, wajah mereka tertutup masker. Hingga tak nampak jelas wajah-wajah pria yang bwgitu mudah memasuki kafe dari jendela dapur.
"Itu mereka gimana cara membuka jendela itu? Apa gak dikunci?" tanya Sena. Ia bahkan melupakan kejadian tadi, ketika melihat adegan didalam laptop tersebut.
"Sepertinya kita lupa mengunci jendela dapur deh," celetuk Santi.
"Ah, nggak mungkin. Aku tuh paling tertib soal kunci mengunci," selak Andi tak terima. Pasalnya soal perkuncian pria itu yang memegang kendali.
"Tapi itu buktinya, jendela kebuka," balas Santi dengan sengit.
"Bisa jadi mereka pake alat pengungkit atau apa gitu," selak Andi lagi. Santi hendak kembali membalas, namun suara dingin Abi menyelaknya.
"Lihat bagian dalam!" titahnya.
Gilang kembali melihat itu hingga terlihat kedua orang itu menuju ruangan si boss. Kemudian Gilang memutar bagian ruang sang boss, kedua orang itu terlihat tengah mencari sesuatu didalam sana. Hingga mereka keluar kembali tanpa membawa apapun.
"Sebenarnya apa yang mereka cari? Bukannya kalo menginginkan uang dikasir sudah jelas pasti ada uang, kenapa memilih masuk keruangan si boss?" tanya Susan heran, mewakili orang-orang disana.
Abi menarik satu sudut bibirnya, "Bukan uang." celetukan Abi membuat atensi mereka beralih dengan dahi ikut berkerut.
"Hanya selembar kertas."
******
Jangan lupa jejaknyaa yaa🤭🤭
__ADS_1