Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Di Kafe


__ADS_3

**


"Pokoknya, saya gak mau tau. Saya meminta pembagian hasil dari kafe ini!"


"Tapi pak, boss kami sudah membeli tempat ini dari pemilik sebelumnya. Jadi kami tak ada urusan apapun sama Bapak. Jika ingin menyelesaikan urusan, mungkin dengan pemilik sebelumnya," jelas Gilang.


"Siapa pemilik kafe ini? Saya ingin bicara sama dia," sungut bapak-bapak yang senantiasa ngoceh tak jelas itu.


"Boss kami sebentar lagi sampai. Mohon tunggu dulu sebentar!" titah Gilang memberi pengertian.


"Tapi saya ingin sekarang," selak pria itu.


"Ada apa?"


Suara bass nan dingin, berhasil mengalihkan atensi mereka. Semua mata tertuju pada sepasang suami istri yang belum mereka tau statusnya dan tampak serasi itu. Raut wajah keduanya tampak bersinar, dengan tangan yang saling bertautan. Sungguh pasangan yang terlihat sempurna dimata siapapun.


"Kenapa mereka begitu terlihat serasi?" gumam Adel dalam hati. Wajahnya terlihat sendu kala melihat Sena tersenyum begitu manis dan itu terlihat sangat cantik.


Berbeda dengan Sena yang terlihat cantik, Abi justru terlihat menyeramkan. Wajah tampan dengan ekspresi datar itu mengeluarkan aura yang membuat bulu kuduk meremang seketika.


Ketiga pria yang baru pertama kali melihat Abi tentu merasa segan pada pria beraura dingin itu.


"Kalian mencari saya?" tanya Abi dengan ekspersi dan nada yang sama.


Glek!!


Meski Abi lebih muda darinya, tapi auranya mampu membuat ketiga pria paruh baya itu menelan ludahnya sudah payah. Tiba-tiba saja nyali mereka menciut menatap mata elang Abi yang menghunus tajam.


"Gilang!"


"Iya, boss!"


"Bukankah tidak sopan membiarkan tamu diluar?" tanya Abi dengan ekspresi wajah yang sama.


Kemudian pria tampan itu berlenggang memasuki tempat teesebut, seraya tak lepas menggandeng tangan sang istri yang mengikuti langkahnya.


"Silahkan pak, kita bicarakan didalam!" ajak Gilang mempersikahkan ketiga pria itu.


Ketiganya hanya pasrah memasuki ruangan luas yang masih terlihat sepi itu. Gilang dan Adel sengaja belum membuka kafe setelah aksi keributan bapak-bapak yang sedari pagi tak mau berhenti disana.

__ADS_1


Kini mereka sudah duduk disebuah sofa panjang diruangan Abi. Sena memilih menunggu didepan meja bar mengikuti Adel. Ia yang tak mengerti masalah itu, tentu tak ingin ikut campur. Hingga hanya menyisakan kelima pria saja didalam sana.


Abi mengambil sebuah map dari laci meja kerjanya. Lalu membawa benda itu dan menyimpannya diatas meja tepat kehadapan ketiga orang tersebut.


Pria itu mengambil map tersebut lalu membuka dan membaca isi didalamnya. Meski ia tak paham betul isi didalamnya, namun ia mengerti jika pemilik kafe tersebut hanya membeli dari pemilik sebelumnya.


"Saya tidak tau, apa yang anda dan pemilik sebelumnya janjikan. Saya hanya membeli tempat ini, tanpa tau hal-hal seperti itu," jelas Abi.


"Tapi pak, mereka sudah berjanji akan memberikan 2 persen kepada saya sebagai pemilik ladang yang terdampak akan pembangunan ini. Mereka memaksa membeli tanah saya, dan menjanjikan itu." balas pria itu.


"Apa saya yang menjanjikan itu?" tanya Abi.


Pria itu terdiam dengan kekesalan yang membuncak. Belum lagi sikap Abi yang sungguh membuat pria itu kesal.


"Maaf saya tidak tau menau soal permasalahan bapak. Sebaiknya, bapak bicarakan itu pada pak Muhidin," ucap Abi. Belum sempat pria itu menjawab, Abi sudah menyelaknya.


"Gilang!"


"Iya pak?"


"Segera buka kafe dan pastikan tak ada lagi keributan!" titah Abi seraya bangkit dan menuju meja kerjanya dan diiyakan Gilang.


**


Sementara itu didepan bar Sena terus memperhatikan Adel yang tengah membuat secangkir kopi didepan mesin pembuat kopi. Sena masih kesal pada perempuan itu, yang begitu berani pagi-pagi menghubungi suaminya. Meski itu mungkin karena keadaan urgent, namun tetap saja hatinya masih terasa kesal mengingat hal itu.


"Apa kau mau kopi?" tanya Adel yang tau jika Sena terus memperhatikannya.


"Nggak," balasnya singkat.


"Mau buat?" tanya adel lagi.


Sena terdiam sejenak, tiba-tiba ia ingin mencoba membuat itu untuk sang suami. Tanpa menjawab ia berjalan memasuki bartender dengan jalan yang masih sedikit kaku. Tentu saja hal itu membuat Adel mengerenyit heran.


"Apa kakimu sakit?" tanya Adel ketika Sena mengambil apron yang tergantung di dinding itu.


"Nggak," balas Sena masih juga singkat.


Adel menghenbuskan napas seraya menggelengkan kepala. Ia hendak kembali pada aktifitasnya, namun tiba-tiba saja atensinya teralihkan pada leher Sena yang terdapat beberapa tanda disana. Kulit Sena yang putih, begitu membuat tanda itu semakin tercetak jelas. Matanya membelakak dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang.

__ADS_1


Sena yang diperhatikan tak menyadari itu. Ia hanya fokus mengikat rambut panjangnya ke atas, agar tak mengganggu aktifitasnya. Kemudain gadis itu mendekat pada alat itu dengan membawa cangkir yang akan digunakan.


Hal itu tentu membuat Adel, sedikit menjauh dengan mata tetap melekat pada tanda itu. Hingga suara Sena mengalihkan atensinya.


"Ini apa dulu?" tanya Sana. Terlalu bingung dengan alat itu, dengan terpaksa Sena pun meminta bantuan pada perempuan itu.


Adel yang sedikit terkesiap segera memberitahu cara-cara pembuatan itu.Hingga akhirnya secangkir kopi capucinno buatan Sena selesai. Gadis itu bertepuk tangan girang dengan kopi buatannya sendiri. Meski gambar yang dibuat tidak terlalu cantik, namun ia begitu puas dengan hasil yang dibuatnya sendiri.


"Makasih!" ucapnya pada Adel dan hanya ditanggapi senyum perempuan itu.


Sena masih merapihkan tatakan yang terkena noda kopi itu, sedangkan Adel hendak kembali ke aktifitasnya. Namun ia melihat Abi yang keluar dari ruangannya dan menghampiri tempat itu. Ia yang sudah membuat kopi untuk Abi, segera mengambil kopi yang tadi disimpannya. Namun ketika hendak memberikan kopi itu, Adel dibuat mematung dengan pemandangan dihadapannya.


Deg!


Abi menghampiri Sena, tanpa diduga pria itu memeluk gadis itu dari belakang. Yang membuat Adel semakin tercengang, Abi mengecup bekas merah dileher Sena seolah itu buatannya.


Abi juga meminum kopi yang disodorkan Sena dengan sedikit menarik satu sudut bibirnya. Sungguh hal itu membuat Adel kehilangan oksigen dari sekitarnya. Jarak yang hanya beberapa langkah membuat perempuan itu dengan jelas melihat keuwuan pasangan itu.


Abi yang selalu meminta dibuatkan kopi, tentu dengan sigap Adel membuatnya sebelum diminta. Namun sepertinya sekarang ia harus menerima jika ia tidak akan mendapat permintaan lagi dari bossnya itu.


Satu tetes air matanya jatuh begitu saja. Dengan cepat ia berlalu menuju dapur, tanpa diketahui dua orang tersebut.


"Enak gak?" tanya Sena. Sepasang manusia itu benar-benar melupakan sekitarnya.


"Mmm sedikit," balas Abi jujur hingga Sena berdecak kesal.


"Ck! Padahal aku udah cape-cape ini mau belajar," tuturnya sendu.


Abi menarik satu sudut bibirnya, lalu membalikan tubuh istrinya itu.


Cup!


Sena membelakak kala tiba-tiba Abi mengecup bibirnya sekilas.


"Tambah ini lebih baik," goda Abi.


"Isshh Abi!" rengek Sena memukul lengan suaminya itu, hingga keduanya terus bercanda tanpa memikirkan sekitar. Untung saja suasana masih sepi. Sebagian karyawan tak ada yang masuk, dan kafe juga baru diberi label 'BUKA' jadi keadaan masih belum ada orang.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😘


__ADS_2