
"Sayang, jangan gini geli," tegur Rania di tengah rasa lelah.
Tubuhnya seperti habis maraton, pegal di sana sini pada kenyataannya memang mereka baru saja olahraga malam.
Gadis itu bangkit dari pembaringan, ia menutupi tubuhnya dengan selimutnya, meraih pakaiannya lalu memakai dengan cepat.
"Dek, kenapa di pakai dulu, aku masih mau lagi," ujar Ray merasa kecanduan.
"Hmm, aku pakai dulu Mas, aku lapar perlu energi untuk nanti, lagian ini terlalu sakit, besok aja ya?" nego perempuan itu merasa tidak nyaman.
"Sakit banget?" tanya pria itu saat Rania turun dari ranjang dengan mimik mengkhawatirkan.
"Iya Mas, sshhh ... duh ... perih, ngilu jadi satu," jawab Rania jujur.
"Udah, tunggu aja di kamar, biar aku ambilin makanannya," cegah Rayyan merasa kasihan.
Rania menurut, namun saat pria itu kembali dengan nampan berisi makanan yang sempat tadi eksekusi, justru Rania tidak ada di kamar. Suara gemercik di kamar mandi langsung membawa langkah kaki itu mendekat.
"Sayang, ngapain aja kenapa dikunci segala!" teriak pria itu menggema.
Rania membuka pintu, wajahnya nampak kuyu dengan cengiran layu.
"Sayang, sakit banget ya? Kok wajahnya sedih gitu."
Rania mengangguk, ia berjalan tertatih menunju ranjangnya. Ternyata pecah perawan itu sungguh sakit rasanya.
"Ini makan dulu, aku masakin telur yang ada, atau mau delivery makanan, sepertinya enak."
"Nggak usah Mas, ini aja, aku nanti makan, aku mau minum dulu," ujar Rania mendadak kenyang. Rasa ngilu dan perih membuat selera makannya berkurang.
Ia hanya makan sedikit saja, lalu minum air putih lumayan banyak. Rasanya begitu haus setelah melewati adegan panas itu.
"Aku mau tidur saja," ujar gadis itu memohon.
Rayyan sebenarnya masih ingin menerkam, namun tak sampai hati melihat istrinya yang tidak berdaya. Pengalaman pertama memang sakit, jadi mungkin ia akan mengulangi yang sama setelah jeda aja.
"Udah, tidur aja nggak pa-pa, sini deketan." Pria itu menepuk sisi kasur. Rania merebah dengan perlahan, gadis itu memeluk pria yang masih bertelanjang dada itu.
Pria itu mendekapnya dengan sayang, sementara Rania menempel manja di dadanya.
"Mas, kamu udah tidur?" tanya gadis itu tanpa merubah posisinya.
__ADS_1
"Belum, kenapa sayang?" Pria itu sedikit mengendurkan dekapannya.
"Kamu pengen lagi?" bisiknya penuh harap.
"Masih sakit, Mas," jawab Rania benar adanya.
"Aku janji bakalan lebih smooth, yang kedua pasti lebih nikmat, sudah hafal jalannya."
"Aku nggak yakin kamu pelan," ucapnya menyangsikan.
"Lebih dari pelan lah, mana mungkin aku terjang kalau kamu nggak nyaman," kata pria itu mulai mengaktifkan tangannya kembali. Membuat gadis itu mulai merespon dengan erangan kecil.
"Mas, jangan dimainin!" tegur perempuan itu menggeleng, lalu terpejam.
"Aku masih pengen, sekali lagi ya, pelan-pelan saja," pintanya dengan gelisah.
Detik berikutnya kembali memainkan sisi sensitif wanitanya, membuat Rania pasrah dan menerima dengan sangat terbuka. Bahkan untuk yang kedua kalinya, perempuan itu mudah sekali basah.
Keduanya kembali mengulang adegan yang sama, merenggut indahnya sungai madu yang penuh kenikmatan dunia. Saling memberi kepuasan, batin dan raganya. Walaupun lelah di sana sini, perempuan itu tersenyum dalam buaian suaminya. Ia senang dapat menuntaskan kewajibannya malam ini.
"Tidur Mas, ini sangat melelahkan," gumamnya pelan.
"Iya sayang, tidurlah yang nyenyak, terima kasih season kedua yang memabukan. Ya Allah ... kamu senikmat ini istriku," ucap pria itu membuainya dengan sayang. Kembali mengecup puncak kepalanya.
Keesokan paginya, Rania merasa sesuatu yang berat itu menindih tubuhnya, siapa lagi kalau bukan suaminya, Rayyan yang mendekapnya. Mantan gadis itu terbangun dan langsung merasakan embusan napas suaminya menerpa wajahnya, jarak mereka begitu dekat. Perempuan itu menatap wajah suaminya yang masih terlelap, terlihat sangat tampan berkali-kali lipat dalam keadaan tidur begini.
Tanpa sadar perempuan itu tersenyum, puas menatapnya dalam diam, perlahan mengurai tangannya yang masih memeluknya manja. Perempuan itu hendak beranjak, tetiba Rayyan semakin mendekapnya begitu erat.
"Bangun Mas, kita harus mandi," ucap perempuan itu menarik diri. Mengambil sikap duduk, Rayyan mengikuti.
"Masih terlalu pagi, belum subuh 'kan?"
"Iya, gerah pingin mandi, sebentar lagi juga subuh," ucap perempuan itu beranjak.
"Udah nggak sakit," tanya Ray yang pertama kali.
"Masih lah, mana ada nggak sakit," jawab perempuan itu sedikit menggerutu.
"Hari ini izin saja ya, nanti biar aku yang urus."
Rania ingin menolak, namun ada benarnya sungguh tubuhnya tidak nyaman untuk dibawa beraktivitas. Terlalu nyeri untuk sekedar melangkah sana sini.
__ADS_1
"Iya Mas," Rania mengangguk setuju.
"Ayo mandi, bareng ya?" Pria itu mengerling. Rania menyorotnya waspada.
"Sendiri aja gantian," ujar perempuan itu menelan saliva gugup.
"Nggak boleh nolak, nanti aku gosokin punggungnya, ayo sayang!" bujuk pria itu masih setia menempel.
"Kamu meresahkan, aku mau gantian aja."
"Aku mau bareng," ucap pria itu ngeyel sekali. Rania merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang, pria itu tak peduli langsung menggendongnya ke kamar mandi.
Cukup lama keduanya menghabiskan waktu di kamar mandi. Rayyan kembali menyerangnya, membuat perempuan itu pasrah ketika sentuhan demi sentuhan itu kembali datang menyambangi tubuhnya.
Cup
Pria itu mendaratkan beberapa kecupan manja, "Jangan cemberut, ini lebih mengasyikkan, kamu terlalu nikmat sayang," ucap pria itu jujur.
Pagi itu setelah menunaikan kewajibannya di pagi hari, fiks Rania hanya menjadi penghuni kamar.
"Masya Allah cantiknya istriku," puji Rayyan mendekati istrinya yang kembali merebah di atas ranjang.
Kata-kata yang teramat sangat biasa dan sederhana tapi bisa langsung membuat mood mantan perawan itu membaik.
"Gombal terus kamu, Mas?" Rania kembali memejamkan matanya. Netranya terasa mengantuk entah semalam tidur jam berapa karena Rayyan meminta lagi.
"Kenyataannya gitu kok." Pria itu membelai rambut istrinya.
"Kenapa malah tidur lagi sayang, masih ngantuk?"
"Banget," jawabnya pelan dan kembali menutup matanya. Rania merasakan badannya susah bergerak, cukup lelah, remuk dan pegal semua. Apalagi di bagian intinya masih terasa sangat nyeri, Rania benar-benar butuh istirahat.
"Ya udah bobok lagi aja," kata pria itu sambil mengusap usap kepalanya.
Rayyan kembali mencium kening istrinya, lalu berbaring di sampingnya. Keduanya sama-sama mengambil cuti untuk dua hari ini. Itung-itung buat ganti setelah ijab sah kemarin, keduanya bahkan tidak mengambil libur sama sekali.
"Makasih untuk yang semalam dan tadi pagi sayang. Kamu membuat aku candu," bisik Rayyan begitu bahagia pagi ini.
Perempuan itu kembali terjaga, mengangguk-angguk dengan mata terpejam. Hati Rania berdesir, bayangan sekelebatan tentang semalam dan tadi pagi terngiang di otaknya membuat pipinya seketika memanas.
"Maaf, aku terlalu semangat dan mungkin terlalu ganas. Masih sakit ya?" tanya pria itu menatap wajah istrinya yang sedikit layu.
__ADS_1
Rania mengangguk, pria itu merapikan selimutnya benar-benar membiarkan istrinya mengistirahatkan tubuhnya.