
Ray baru saja selesai dari ruang OK ketika Axel mengabari nyonya muda sudah stay menunggu di ruangannya. Pria itu mengangguk lalu segera membersihkan diri. Menuju ruangannya yang mendadak mengeluarkan aura horor setelah melihat raut muka istrinya yang mendung.
"Mas, lama!" keluh perempuan itu seperti tidak tahu jadwal suaminya saja yang lumayan padat. Urusan nyawa seseorang tidak bisa ditunda, harus segera disegerakan.
"Maaf Sayang, aku tadi udah atur jadwalnya tetiba ada emergency dan harus tindakan di ruang OK. Kecelakaan parah!" ujar Ray bercerita.
"Benarkah?" Rania tidak jadi marah. Bahkan merasa iba, dirinya juga seorang dokter walaupun belum bisa membuka jam praktik sendiri selama belum mengikuti internship kurang lebih setahun ini. Yang sengaja ditunda mengingat sebentar lagi detik-detik melahirkan.
Sungguh ini yang dimaksud Rania dengan program menunda kehamilan. Karena ia akan bertemu dengan kerepotannya sendiri. Jadilah harus ada yang dikorbankan, bahkan ditundanya untuk kuota tahun depan. Sudah dipikirkan ketika menemukan wahana yang paling tepat, bahkan di rumah sakit milik suaminya sendiri. Namun, mengingat waktu yang harus diberikan pada calon anaknya nanti harus stay selama baru melahirkan juga semua sudah dipikirkan walau sedikit berat hati.
"Nggak usah cemberut, tenang saja Medika akan selalu memberi kuota untuk Nyonya Rania Wirawan. Anggap saja kepunyaan sendiri, rumah sakit sendiri, walaupun belum boleh praktik sendiri," seloroh pria itu memberikan semangat.
Kalau-kalau mood istrinya sudah amburadul, Ray adalah tersangka utama yang pintar-pintar sendiri mengolah keadaan.
"Ayo sayang aku sudah siap," ujar Ray yakin. Setelah memastikan mejanya beres, dan menyerahkan urusan lainnya pada Axel untuk sisa hari ini.
"Xel, semua harus beres tanpa terkecuali!" peringatnya perfeksionis.
"Siap Dok, selamat memanjakan istri tercinta," ucap Axel tepat sekali.
__ADS_1
Pria itu menggandeng calon ibu dari anak-anaknya setelah keluar dari lift utama. Banyak pasang mata yang dibuat iri dengan pasangan paling mentereng seantero bumi Medika ini. Tak jarang para staf dan pegawai lainnya mengatakan keirian mereka melihat pasangan yang terlihat begitu harmonis.
Rania sendiri terlihat santai menyikapi banyaknya godaan yang mulai menghampiri. Semakin tinggi kepopuleran seseorang, semakin kencang pula terpaan desas desus yang mulai hinggap. Namun, karena bahkan suaminya sendiri yang membuktikan tingkat kebucinannya yang hakiki. Jadi Rania agak sedikit lebih tenang ketika suaminya itu mendadak banyak sekali fansnya.
Mulai dari perawat, dokter muda, dokter senior, bahkan pegawai setruktural rumah sakit lainnya. Yang diam-diam bahkan kadang terang-terangan mengagumi pemimpin rumah sakit yang tampannya nggak ketulungan itu. Owh ... sungguh ini ujian!
"Suamiku anti pelakor," ucap Rania dengan percaya diri.
"Syukurlah, kalau kamu sudah tahu hal ini. Aku bahkan tidak pernah melihat perempuan lainnya dengan benar. Hati ini terlampaui penuh namamu, Rania Isyana," ucap Ray jujur sekali.
Keduanya baru beranjak dari rumah sakit dengan tujuan selanjutnya menemani istrinya kelas hamil. Setelah lepas dari baju dinasnya, keduanya akan me time dengan semua waktu yang tersisa. Pokoknya setiap ada kesempatan itu mencoba menyenangkan pasangan selagi bisa.
Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sengaja membawa sendiri agar si cecurut Axel tidak mengganggu di tengah acara keromantisan mereka di setiap kesempatan.
"Sayang, jangan terlalu kencang," tegur Ray kembali membenahi sabuk pengaman yang dipakai istrinya. Pria itu sampai menepi untuk perhatian ini.
"Enggak Mas, ini tuh nggak kekencangan. Kalau duduk ya gini, perutku kan emang udah besar," jawab Rania menenangkan suaminya yang cukup rempong sekali dengan perhatiannya.
Terkadang Rania yang pusing sendiri, sampai jadwal gizi makan ditakar untuk seorang dokter Rayyan. Sebenarnya bagus, Rania juga tahu itu. Namun, semuanya akan menjadi tidak enjoy bila ini dibatasi, itu kadang tidak boleh.
__ADS_1
"Iya Mas iya, demi kebaikan anak kita. Oke fine!"
"Menurut lebih baik, anak kita di dalam nanti tidak nyaman. Iya kan sayang?" Ray mengelus-elus perut istrinya baru kemudian kembali melajukan mobilnya.
Mereka tiba di tempat prenatal yoga tepat pas kelas akan dimulai. Ray dan Rania masuk setelah melakukan prosedur masuk kesehatan yang cukup ketat. Keduanya masuk ke ruangan, dengan Ray menemani selalu. Benar kata Rania, dirinya bahkan akan menjadi tidak keurus setelah melihat banyaknya peserta yang hadir dengan pendamping suami atau pasangan mereka. Apalagi saat gerakan yang harusnya berpasangan, peran suami sangat penting di sini.
"Dek, waktu sendirian, kalau posisinya suruh kaya gini kamu ngapain?" tanya Ray kepo saat kelas tengah berlangsung dengan gerakan calon bapak membantu tumpuan istrinya.
"Diem aja, memperhatikan dengan rasa jengkel dan rasa iri, mungkin besok kepikiran ganti suami," jawab Rania jujur sambil berseloroh.
"Waduh, serem juga, sisi hatimu tidak baik sama sekali. Pantas saja kalau pulang tidak semakin bahagia, tetapi cemberut sepanjang masa."
"Oke baiklah, kesalahan terletak pada calon ayah, semoga anak kita memaafkan dan tidak marah karena jarang perhatian."
"Eh, tapi bukannya aku sering berkunjung dan memberi salam?" ucap Ray lagi merasa sudah benar.
"Itu mah namanya kunjungan kewajiban, beda sama yang perhatian khusus kaya gini. Kamu nggak ngerti, giliran kalau malam dimesumin mulu," gerutu calon ibu itu.
"Jangan terlalu jujur Sayang, kamu juga menikmatinya. Kita harus sering membuat Junior kita sejahtera, mumpung belum puasa. Hehe."
__ADS_1