Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 142


__ADS_3

Rania baru saja dari kampus mengurus administrasi untuk persiapan ujian sertifikasi yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Perempuan itu sengaja menemui teman-temannya yang saat ini bahkan sudah menjadwalkan kencan bersama.


"Ra, sini!" pekik Asa heboh sendiri. Tangannya melambai seraya menyerukan nama bestie yang tengah berjalan ke arahnya.


"Udah lama nungguinnya?" tanya Rania mengambil sikap duduk.


Terlihat di samping Asa ada Kenzo yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Kerajinan amad Ken, belajar mulu," cibir Rania menggeleng takjub.


"Pada ngikut kelas persiapan ujian nggak? Kaya semacam les buat anak-anak yang mau ujian?"


"Kalian ikut?"


"Belum, tapi kalau kampus nggak ngadain latihan, kita musti inisiatif sendiri deh."


"Ada lah, belum kali. Baru juga selesai rotasi kemarin. Kalau ujiannya nggak bareng, pembagian hari dan seasons yang pertama udah dapat soalnya dong. Wajib kasih tahu," ujar Jeje penuh ide.


"Nggak yakin deh, sebelum masuk ruangan juga yang belum ujian di karantina biar nggak tuker-tukeran, yang tahun lalu sih gitu. Panitia lebih pintar kali Je, biar nggak ada contek-contekan."


"Kali aja bisa, mayan loh 200 soal."


"Hooh lah pasti udah diatur sedemikian rupa, makanya belajar noh kaya Kenzo!"


"Sambil belajar sambil cari bocoran. Perjalanan masih panjang. Kalian pada mau lanjut kuliah? Internship atau dua-duanya?"


"Gue mau jadi ibu rumah tangga, so ngurusin suami dan anak sambil kuliah dan juga kerja. Bayangan gue sih gitu, meni riweh pisan."


"Itu sih resiko karena udah married, Ra. Harus siap dengan segala problematika karir dan juga rumah tangga."

__ADS_1


"Gue lepasin beasiswa gue ke Jerman," curhat Rania yang membuat teman-temannya terheran.


"Gila, serius? Ya ampun ... sayang banget gue aja pengen banget ke sana," keluh Jeje dan Asa menyayangkan.


"Suami lo rewel ya?" tanya Jeje sok tahu.


"Di samping itu gue juga sedang hamil, jadi kayaknya nggak mungkin deh nyasar ke sana."


"Wah ... selamat ya aku mau jadi tante," pekik Jeje girang.


"Tante girang. Emang sih, antara karir dan keluarga itu sama-sama penting. Tentu saja gue harus mengambil sikap yang tepat untuk hal ini."


"Itu dia makanya aku belum siap untuk nikah sebelum lulus nanti. Kalau sampai bentrok kaya lo kan sayang banget."


"Lebih sayang keluarga, masih bisa lanjut di sini."


"Cari makan yuk, gue traktir," ujar Rania semangat.


"Apaan sih Je, semua bukan punya gue, tapi punya suami gue."


"Nggak nyangka ya, lo bisa jadi nyonya Rayyan yang dingin itu. Hahaha ... serem nggak Ra kalau lagi di rumah?"


"Nggak lah, seremnya kalau nggak dapat jatah aja. Ups ... ada Kenzo jangan kenceng-kenceng."


"Anggap aja gue nggak ada. Obrolan cewek-cewek ternyata gitu ya."


"Ye ... mana ada, itu mah Rania yang sudah khatam."


"Jadi apa nggak?"

__ADS_1


"Jadi lah ... GO!"


"Mau ikut nggak, Ken?"


"Tinggal aja, gue masih ngedit," ujar pria itu sok sibuk.


Rania dan dua sahabatnya merealisasikan kulineran bersama. Ngemall bareng dan juga jalan-jalan. Menyempatkan waktunya untuk refreshing sejenak sebelum kembali dengan serangkaian tugas yang seakan melambai di depan mata.


Saat tengah jalan di mall, tiba-tiba Ray menelpon. Perempuan itu pun sengaja meminta jemput di pusat perbelanjaan. Bukan hanya itu, Ray memang ada perlu untuk bertemu kawan yang kebetulan singgah di sana.


"Gaes ... suami gue mau nyusul, nggak pa-pa?"


"Nggak pa-pa sih, tapi jangan kabur, ini bayar dulu pesanan kita," ujar Jeje blak-blakan.


"Iya bawel, tenang aja bestie uang gue seri," ujar Rania menyombongkan diri sambil terkikik.


"Hai Pak Dokter!" sapa Jeje dan Asa berbarengan.


"Hai, Ranianya aku pinjam dulu ya, besok boleh main lagi," pamit Ray sehalus mungkin."


"Siap Dok!" koor Jeje dan juga Asa mengangguk dengan senyuman.


"Sayang, aku mau mampir ke butiknya Kania dulu. Gerald menunggu di sana." Ray merangkul Rania agar istrinya berjalan tepat di sampingnya.


"Kenapa? Jangan bilang nggak suka juga digandeng?" tanya Ray demi melihat Rania terdiam dan sengaja menjaga jarak.


"Huum, kamu duluan aja. Aku baru saja makan, sayang banget kalau nanti muntah gegara kamu nempel-nempel," ujar Rania cukup lebay.


Sungguh Rania rasa ibu-ibu di luar sana yang ngidam ataupun alergi sesuatu di waktu hamil hanya mitos belaka. Ternyata memang benar adanya, ia baru ngeh setelah dirinya benar-benar mengalami hal aneh. Hal yang dirasa tidak mungkin, bagaimana bisa ia menjadi begitu tidak suka dengan aroma tubuh suaminya.

__ADS_1


"Astaghfirullah ... cobaan apalagi ini ya Rabb. Rasanya aku pengen ....!" Ray menghela napas sepenuh dada sembari menekan sabar. Sepertinya ini akan menjadi problematika yang cukup membuatnya tidak tenang.


__ADS_2