Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 155


__ADS_3

"Mas, nggak usah cepet-cepet, ini masih sebentar hilang sebentar muncul," ujar Rania nyengir saat merasakan kembali nyeri.


Sepertinya memang sudah kontrasksi hendak lahiran mengingat sudah di bulannya. Tetapi bisa juga kontraksi palsu yang tidak berkelanjutan. jarak dengan prediksi tanggal lahir juga masih tiga mingguan.


"Nggak cepet juga, tapi kalau bayi kita nggak sabaran brojol di jalan gimana?" tanya Ray cemas.


Menurut pengalaman yang pernah Rania tangani saat menjadi koas. Jarak antar kontraksi pertama dengan lahiran itu berjam-jam dan sungguh lama. Bahkan bisa seharian penuh, jadi ia cukup tenang sambil beristighfar banyak-banyak saat nyeri kembali menghampiri.


"Xel, puter balik, istri aku mau lahiran!" pekik Ray begitu keluar memapah Rania dengan hati-hati.


"Serius Dok?" tanya Axel memastikan. Mendadak ikut panik dan segera membukakan pintu mobil untuk keduanya.


Axel pun memutar arah mobilnya. Untung belum terlalu jauh, masih setengah perjalanan, jadi masih keburu untuk satu jam ke depan. Sementara Ray langsung telepon pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruangan yang paling nyaman dan bagus di Medika.


"Duh ... ssshhh ... Mas, nyeri banget," desis Rania mengadu. Ternyata seperti ini, baru kontraksi awal yang mungkin baru pembukaan satu dua saja jelas kerasa sekali sakitnya. Pantas saja di rumah sakit pernah menangani pasien ibu hamil jejeritan.


"Usap Mas, ini sakiit!" desis Rania


Ray menurut, mengusap-usap yang ditandai Rania. Sejenak kemudian menghilang, namun sudah jelas Rania terlihat tidak nyaman.


"Mas, aku haus," ujar Rania merasa tenggorokannya kering.


"Oke, kita cari minum. Xel menepi beliin air mineral!" titah Ray cepat.


Axel mengurangi laju kecepatan saat menemukan mini market. Pria itu segera memarkirkan mobilnya di sana. Dengan Axel turun setengah berlari. Beberapa menit saja Axel kembali dengan menenteng aqua dalam kemasan.


"Ini Dok, minumnya?" ujar Axel menyodorkan. Ray menangkap dengan sigap lalu membukanya cepat.

__ADS_1


"Ini sayang minum dulu," ujar Ray sambil memperhatikan muka istrinya yang merah padam.


"Mas, aku belum kesampaian makan seblak, kalau anak kita ileran gimana?" tanya Rania mendadak mengingat tujuan mereka terdampar di jalan tengah malam.


"Nggak pa-pa besok biar Axel yang beliin. Kalau udah keburu lahir ya bagus, anak kita sekalian suruh cicipin."


Yang ini jelas Ray bergurau. Pria itu nyengir mendapat timpukan gemas istrinya. Di saat tengah merasakan sakit masih bisa ngebanyol yang membuatnya seakan ngakak bila tidak mengingat kondisi saat ini tengah genting.


"Adoh ... sakit sayang, oke nanti bila perlu kita undang tukang seblaknya suruh jengukin kamu lahiran," ujar Ray mengambil kalimat paling mutakhir mengembalikan mood istrinya yang saat ini tengah melawan rasa sakit.


"Mas ... kenceng lagi, usap!" ujar perempuan itu tak karuan. Kontraksi awal emang lebih ringan sebentar ilang dan sebentar muncul.


Ray kembali mengusap, walaupun mukanya terlihat datar dan sedikit bingung namun dalam hatinya terus menggumamkan doa kebaikan serta kelancaran kelahiran anak serta keselamatan keduanya.


"Sakit lagi?" tanya Ray mulai tak bisa becanda. Sepertinya nyeri yang dirasakan bertambah.


"Mas, aku pengen kamar mandi," ujar perempuan itu rempong sekali.


"Oke, bentar sayang, kita cari toilet."


"Nggak mau tempat umum, di jalan suka kotor, bisa cepet nggak sampai di rumah sakit. Aku pengen keluar di sini."


"Hah! Tahan sayang, bisa-bisa! Xel cepet, ngebut yang penting selamat!" titah pria itu mendadak tak sabar.


"Udah sakit banget ya? Nggak boleh keluar di sini harus keluar di tempat yang nyaman," ucap Ray mencoba tenang.


"Mau pipis Mas, belum mau ngeden," jawab Rania sedikit kesal sambil meringis menahan pinggang yang semakin panas.

__ADS_1


Axel dengan cepat melajukan mobilnya langsung ke Medika.


"Duh ... kok melambat sih!" omel Ray tak sabaran.


"Wah ... gawat, macet Dok!"


"Astaghfirullah ... ada apaan sih! Macet lagi!" Ray kesal sekaligus khawatir. Apalagi lihat muka Rania yang mendadak memucat.


Suara klakson saling bersahutan tak sabaran. Ray sampai turun dari mobil untuk melihat langsung yang menyebabkan kemacetan. Ada polisi di depan yang tengah mengatur rambu lalu lintas. Sengaja diatur karena ada korban kecelakaan.


"Pak polisi! Ah Yusman ternyata. Bro tolong Bro nebeng ambulan istri gue mau lahiran," ujar Ray menyerobot jalanan. Ternyata yang tengah bertugas Yusman teman sesama SMA-nya dulu.


"Ray, mobil lo mana? Papah ke sini biar nanti langsung ke rumah sakit terdekat!" ujar polisi tersebut yang ternyata kenal dekat.


"Sayang, ayo turun! Macet total bisa sampai berjam-jam. Depan ada kecelakaan, kamu saya titip di mobil ambulance," ujar Ray membimbing Rania keluar mobil.


Perempuan itu hanya mengangguk pasrah sembari merasakan sakit yang bertambah.


Ray langsung menggendong istrinya melewati kemacetan membawa ke mobil ambulan. Pria itu ikut ke mobil yang kebetulan orang-orang yang bawa mobil tersebut mengenal betul.


"Dokter Ray? Istrinya?"


"Iya, cepet ya, depan nggak pa-pa bila perlu aku yang nyetir."


"Siap Dok, aman! Bisa dikondisikan juga korban laka lantas yang ada di mobil."


Begitu tahu pasien yang harus ditangani, perawat sigap membantu dan langsung membawa istri dari atasan mereka ke tempat yang telah dipersiapkan pihak rumah sakit untuk menyambut generasi penerus mereka.

__ADS_1


__ADS_2