Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 139


__ADS_3

Sepeninggal Rayyan dan Papa Al ke masjid, Rania dan Mama Inggit jamaah di rumah.


"Ma, nginep beberapa hari di sini, Rania kangen," ujar Rania memohon. Mereka masih di bilik mushola rumahnya sembari melipat mukena.


"Kasihan nenek kamu di rumah sendirian, besok atau kapan-kapan Mama main lagi."


"Kan ada adek, biar nemenin nenek sehari dua hari," rengek Rania manja.


"Lihat nanti, coba kamu bilang ke Papa."


Keduanya menuju dapur, membuat menu sarapan. Sambil menantikan suami-suami mereka pulang. Tak berselang lama orang yang tengah ditunggu pun muncul dengan salam menggema kompak.


"Wah ... buat apa Sayang, ini kelihatannya enak," ujar Ray langsung mengambil duduk di meja makan.


"Menu sehat dong," jawab Rania yang terlihat lebih bahagia. Selain karena kejutan kedatangan orang tua, juga surprise yang cukup mencengangkan.


"Pa, Mama mau nginep loh, boleh ya Pah!" pinta Rania menodong langsung dengan pawangnya.


"Pekerjaan Papa udah numpuk, Sayang. Kapan hari ya, Papa nginepnya. Sekarang udah ketemu alhamdulillah. Jadi kapan mau main ke Bandung?"


"Pengen ... kapan ya? Ayo Mas kapan?" rengek Rania.


"Nunggu Mas libur, Dek!" jawab Rayyan tenang.


"Eh ya, Mas aku punya kabar bahagia buat Mas dan kalian semua," ujar Rania sumringah.

__ADS_1


"Kabar gembira? Apa?" tanya Ray tak sabar.


"Bentar ya?" Rania menuju ke kamarnya mengambil sesuatu. Ray tipikal orang yang tidak tahan diri untuk tidak mencari tahu, pria itu mengekor istrinya.


"Mas, nyusulin. Ayo!" ajak Rania menarik tangannya.


"Kamu sembunyiin apa? Jadi hari ini kita ke rumah sakit. Aku udah nggak sabar lihat hasilnya."


"Jadi, nanti sekalian bareng sama mama."


Rania menyodorkan sebuah amplop kecil dengan logo sebuah universitas.


"Apa ini?"


"Buka dong," ujar Rania tersenyum kurang jelas.


"Maksudnya apa, Dek?" Rayyan mulai ngegas.


"Buka dong, isi formulirnya dan tandatangani."


Ray menatap dengan bingung sekaligus campur aduk.


Pria itu merasakan hawa kurang mengenakan. Ia tau yang di tangannya adalah sebuah brosur universitas Jerman. Ray menaruhnya begitu saja tanpa membuka isinya. Mukanya seketika begitu keruh. Lalu menuju kamar mandi tanpa kata.


"Mas, kok nggak dibuka?" tanya Rania mengekor suaminya yang hendak mandi.

__ADS_1


Ray tidak menjawab, pria itu melepas pakaiannya begitu saja lalu mandi. Rania menggeleng kecewa, ia menutup pintu kamar mandi. Menata perasaannya untuk menemui kedua orang tuanya yang menunggu di meja makan. Sebelumnya perempuan itu sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


"Ma, sarapan dulu. Mas Ray lagi mandi, tinggal aja," ujar Rania.


"Sayang, sebenarnya Mama dan Papa ini tidak bisa lama-lama. Karena Papa siang ini udah harus sampai ada pertemuan penting dengan klien. Andai saja tidak Mama pasti mau nginep," ujar Mama Inggit memberi pengertian.


"Iya Ma, nggak pa-pa kok, Rania ngerti."


Tak berselang lama, Ray turun dengan pakaian kerjanya sambil menenteng jas kebesarannya. Namun, tidak memakai kemeja yang disediakan Rania. Membuat perempuan itu sedih, jelas sekali.


"Mas Mama mau pamit," ujar Rania. Walaupun kesal, ia menahan diri untuk tidak meledak di tengah-tengah orang tuanya. Jangan sampai mereka melihat huru hara di antara rumah tangganya.


"Kami pulang dulu Ray," pamit Mama Inggit dan Papa Al.


"Iya Ma, Pa, hati-hati di jalan, terima kasih sudah berkunjung," sahut Ray lembut. Menyalim mertuanya penuh hormat.


"Hati Ma, Pah!" ucap Rania terlalu bawa perasaan aslinya sama suaminya ditambah perpisahan dengan ayah dan ibunya jadilah mewek. Sekalian momennya pas.


"Kok nangis, ya Allah ... Sayang Mama juga masih kangen, baik-baik selalu di sini. Jaga kesehatan!" kata Mama Inggit sembari memeluk putrinya.


Papa Al ikut memeluk keduanya, jadi ikutan sedih lantaran putrinya menangis.


"Sayang, Papa janji deh, nanti kalau kamu punya anak Papa nginep yang banyak," selorohnya tersenyum.


Rania mengangguk, berusaha tersenyum sambil melambaikan tangan. Sebenarnya ada sedihnya juga berpisah dengan orang tuanya. Tapi yang membuat Rania nangis justru sikap Rayyan padanya. Walau tidak ditunjukkan di depan kedua orang tuanya, Rania jelas tersinggung dan marah.

__ADS_1


Selepas mobil kedua orang tuanya pergi tersisa Ray dan Rania yang saling menatap dalam diam. Ray dengan pikirannya sendiri menganggap keinginan Rania yang ingin mengambil beasiswa S2 ke Jerman dan Rania yang sebenarnya ingin memberikan surprise dengan menyelipkan testpack positifnya di dalam laman formulir gagal total.


Mungkin cara Rania memang salah, dan bikin salah paham. Tapi sekaligus menegaskan merelakan tetap tinggal karena dirinya bahkan saat ini tengah berbadan dua. Ray salah paham, dan Rania marah.


__ADS_2