
Seperti hari lalu yang sudah-sudah, Ray selalu gagal berkunjung karena ternyata calon anak mereka rewel sekali. Bahkan pria itu nampaknya sedikit lebih stress menyikapi semua ini. Sementara Rania sendiri sebenarnya kasihan, namun tubuhnya mendadak seperti tidak ingin berdekatan dengan suami.
"Mas marah?" tanya Rania bingung sendiri.
"Nggak kok, kamu terusin saja belajarnya, jangan terlalu diforsir, kalau capek istirahat. Mas tidur duluan ya?" pamit Ray di awal waktu. Setelah menemani sang istri belajar dan berdiskusi, Ray memutuskan untuk menemui kasur lebih dulu. Sementara Rania masih terlihat baca-baca.
Hampir setiap malam pria itu mendampingi istrinya yang butuh perhatian khusus. Asupan kasih sayang, namun berupa sikap dan omongan. Bukan serta merta bermesraan, sebatas menemani tanpa bersentuhan layaknya orang yang menjaga jarak waktu pacaran. Setelahnya mereka akan tidur bersama walau tanpa berpelukan.
Keesokan paginya, hal yang pertama kali Ray lakukan. Bangun lebih awal, mencuri beberapa kecupan sebelum istrinya terbangun lalu beraktivitas pagi seperti biasanya
"Mas, sarapan dulu, kenapa cuma minum susu doang," tegur Rania tidak setuju.
"Aku berangkat dulu, Dek," ucap pria itu datar. Berasa aneh setelah beberapa hari tanpa peluk dan cium jika pamit, rasanya ada yang kurang.
"Mas, ada yang ketinggalan, kamu marah atau lupa?" protes Rania mrengut.
"Enggak kok, takut aja nanti malah buat mood kamu berantakan."
Ray tersenyum yang paling manis, lalu mengusap perutnya dan mencium perutnya dengan cepat. Baru pria itu boleh berangkat
"Ujiannya kapan? Maaf kalau Mas kurang perhatian."
"Besok, doakan ya semoga lancar," pintanya sungguh-sungguh.
"Pasti dong, Dek, semangat!" ucap Ray menyemangati istrinya. Tapi sesungguhnya pria itu sedang dalam posisi di mana tidak semangat sama sekali.
Hampir sebulan lebih pria itu tidak mendapat suntikan energi membuatnya bagai pria layu yang haus kasih sayang. Sabar, tapi tetap saja mengeluh, bahkan tidak jarang pria itu marah tidak jelas pada Axel yang menjadi sasarannya.
__ADS_1
"Dok, masih kusut aja, roman-romannya mentari belum terbit nih," seloroh Axel paling senang menggoda atasannya.
"Beliin kopi Xel, biar mataku melek," ujar Ray serius.
"Dokter tuh perlu sukenyal, bukan kopi, bukan hanya melek nanti keluar tuh mata, berbinar-binar senang."
"Kamu nggak prihatin amad sama aku, saya sumpahin besok kalau udah nikah ngidam istri kamu lebih parah dari ini, biar kamu merasakan nelangsanya jadi aku."
"Wah ... jangan Dok, sayang sekali pusakanya bisa karatan, sepertinya punya dokter sudah tumpul. Hahaha."
"Axel, kamu mau saya pecat!" pekik Ray menggelegar. Satu buku melayang tak berdosa.
"Ada apa ini, Ray, astaghfirullah ... kelakuan kamu!" Pak Wira geleng-geleng kepala mendapati anaknya menimpuk tubuhnya pakai buku.
"Papa! Maaf Pa, aku dan Axel lagi becanda aja," sesal Ray nyengir sendiri.
Axel seperti terbebas dari amukan singa lapar, melenggang keluar memberi kesempatan untuk bapak dan anak itu saling berbicara.
Sementara Ray dengan segala kesibukannya di rumah sakit dan Rania disibukkan dengan persiapan ujian. Perempuan itu benar-benar menyempatkan waktunya untuk fokus belajar mumpung moodnya sedang baik.
Setelah lulus semua rotasi, Rania, masih belum bisa bernapas lega. Pasalnya harus siap wajib mengikuti Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).
UKMPPD ini nantinya akan menguji keterampilan dan pengetahuan dokter muda untuk menangani 400an kasus yang ada di SKDI. 400an kasus ini lah yang harus dapat mereka tangani baik secara sebagian atau penuh ketika mereka bekerja menjadi dokter umum nantinya.
Rania sendiri ada di sesi pertama ujian hari pertama. Ujian dilaksanakan secara serentak di tiga puluh Tempat Uji Kompetensi (TUK) di seluruh Indonesia.
Acara yang berlangsung jumat sampai minggu ini harus ditempuh mahasiswa kedokteran dan kelulusannya sebagai syarat wajib bagi mahasiswa kedokteran sebelum yudicium. Peserta uji kompetensi mengerjakan 200 soal ujian berbasis komputer (CBT) selama 200 menit.
__ADS_1
Sebanyak empat ribu lebih mahasiswa kedokteran mengikuti uji kompetensi di 30 TUK periode ini. Peserta ujian dibagi dalam 2 sampai 4 sesi, rata-rata setiap sesi diikuti sekitar 50 peserta.
Sebelum dan sesudah ujian, para peserta ujian dikarantina terlebih dahulu, hal ini dilakukan agar peserta ujian tidak dapat berinteraksi antar peserta yang berbeda sesi walau dalam satu TUK.
Panitia telah mengatur sedemikian rupa sehingga tidak ada komunikasi dan kebocoran soal antar sesi dan antar TUK. Pun demikian pada sesi-sesi pada hari berikutnya, panitia membuat soal yang berbeda dengan sesi sehari sebelumnya.
UKMPPD dilaksanakan dengan ujian latihan terlebih dahulu selama 3 menit agar peserta bisa berlatih terlebih dahulu dan terbiasa menggunakan tools dan icon-icon yang ada dalam aplikasi CBT.
"Bismillah ya Allah ... mudahkanlah urusanku hari ini. Aamiin."
Rania menggumamkan doa sebelum menyapa soal-soal yang siap diujikan. Tepat pukul 08:00 WIB ujian dilaksanakan secara serentak. Penyelia Pusat (PP) melakukan penekanan tombol start di aplikasi CBT-nya dan countdown 200 menit pun mulai berjalan.
Pelaksanaan uji kompetensi sesi pertama berjalan dengan lancar, sesekali pengawas ujian keluar mendampingi peserta ujian yang hendak ke toilet, peserta perempuan didampingi pengawas perempuan dan sebaliknya. Sesinya ketat luar biasa untuk menghindari kebocoran soal. Tidak ada kendala berarti di lapangan selama pelaksanaan ujian, beberapa peserta ada yang mengalami kendala di aplikasi CBT-nya namun dengan sigap bisa diatasi oleh tim IT.
Selanjutnya peserta UKMPPD akan mengikuti uji praktek dengan metode OSCE seminggu setelahnya dengan terlebih dahulu harus mengikuti briefing dari Penyelia Pusat di TUK masing-masing.
Rasanya beban hari ini berkurang setelah menutup kata dengan hamdallah. Semua sudah dikerjakan tinggal menunggu hasilnya.
Ada yang menarik dari hal ini, karena mungkin saking sibuknya, atau ngidam Rania telah berakhir. Perempuan itu langsung menyambut sumringah bahkan memeluknya tanpa ragu ketika Ray menjemputnya.
"Gimana? Lancar?"
"Ada yang susah ada yang mudah, terima kasih udah bantuin belajar," ujar perempuan itu manja.
"Mas, ayo masuk ke mobil, aku pengen cepet pulang. Terus ke rumah eyang, mama sama papa ada di sana." Rania menarik tangan Ray masuk ke mobilnya.
"Dek, kamu kok nempel-nempel? Emang udah nggak pa-pa ya?" tanya Ray antara resah sekaligus lega.
__ADS_1
"Eh, iya, tadi aku peluk kamu, terus sekarang aku merasa nyaman," ujar Rania tersenyum biasa.
Senyum di wajah Ray pun langsung terbit, tanpa ragu pria itu langsung bertamu pada bibir istrinya yang sudah begitu lama ia rindukan.