Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 109


__ADS_3

"Makasih Mas," ucap Rania tersenyum. Walaupun tuhuh itu terasa lelah namun perhatiannya membuat hatinya terharu.


Pria itu tersenyum menimpali, menyiapkan keperluan Rania di meja makan.


"Mas, kamu tumben beli makanannya banyak banget, sayang ini kalau nggak dimakan."


"Ini tadi aku udah kadung pesan, eh malam mama datang ke sini ngirim masakan ya sudah, terima saja," jawab pria itu enteng.


"Lho, mama dari sini, tahu berarti aku masih tidur, yam ampun ... kenapa nggak bangunin?"


"Mama cuma bentar kok sayang, mama tahu kamu lagi istirahat sedikit kurang enak badan. Udah nggak pa-pa santai aja, mama orangnya santai kok ngerti banget malah."


"Ih ... aku kan malu, masa dikunjungi mertua masih bobok cantik!" cebik Rania manyun.


"Udah habisin sarapannya, kamu pasti udah lapar banget kan?"


"Iya, semalam kan jadinya cuma beberapa suap langsung tidur."


Usai sarapan Rania membereskan meja dibantu suaminya. Perempuan itu mencuci wadah sisa keduanya.


"Udah enakan buat gerak? Kalau nggak nyaman banget biar aku aja," ujar Rayyan mengikuti.


Merapatkan tubuhnya hingga perut liatnya menempel sempurna pada punggung istrinya. Ikut bergerak bermain busa sabun, keduanya saling melirik ke samping lalu tersenyum. Indahnya pengantin baru, selalu membuatnya haru walau hal sekecil itu.


"Udah cuci tangan, kamu kenapa sih ngikutin mulu, duduk sana nungguin atau ke mana," tunjuk Rania dengan dagunya. Rayyan tak menanggapi itu, entahlah serasa selalu ingin dekat saja dengan istrinya.


"Dek, minggu besok kita liburan ke mana yok," ajak pria itu penuh agenda.


"Boleh Mas, teman-teman juga sama bikin agenda. Udah pada sumpek banget kayaknya, mau buat radiologi trip to ... ke mana ya lupa kemarin bahas liburan."


"Kamu mau ikut?"

__ADS_1


"Boleh, kalau diizinin ya pengen, kan seru pasti rame-rame!"


"Boleh tapi aku juga ikut," jawab Rayyan tanpa ragu.


"Yakin? Pasti banyak yang pada kepo dong tentang hubungan kita, sebenarnya nggak pa-pa juga sih, cuma sedikit khawatirnya nanti pasti pada heboh, bikin aku nggak nyaman."


"Ada kalanya nggak harus mikirin orang lain, sesuatu yang baik nggak usah ditutupin juga kan? Lagian udah banyak yang tahu, karena kemarin di meja meeting bocor. Cuma ya gitu, papa bilang belum ada waktu yang pas buat syukuran, anaknya masih dalam masa koas, jadi mereka yang ngerasa dekat sama papa terus nggak diundang jadi malu."


Rania berjalan perlahan ke ruang keluarga yang langsung terhubung dengan kolam renang. Ia membuka pintu kaca yang besar, lalu membiarkan udara masuk sepenuhnya. Suasana sudah lumayan terik, namun cukup nyaman untuk duduk lesehan. Ia duduk di ambang pintu yang teduh dengan tatapan memindai tumbuhan hias di sekitar kolam renang.


Rayyan mengikuti istrinya duduk di teras. Berbaring dan langsung menjadikan paha istrinya sebagai bantalan.


"Numpang rebahan sayang, ngadem di sini enak juga," ucap pria itu seraya menggenggam tangan kanannya. Tangan kiri Rania sibuk mengusak lembut rambutnya. Mengelus-elus memainkan hingga pria itu merasa begitu nyaman.


"Mas, hmm ... sebenarnya dari kemarin kepikiran ini, tapi harus izin dulu kan?" Rania menghentikan gerakan tangannya, membuat pria itu membuka matanya.


"Kenapa sayang?" tanya pria itu menatap dengan rasa ingin tahu. Merubah posisinya dengan memiringkan tubuhnya menghadap ke perut, lalu membenamkan wajahnya di sana. Bahkan Rayyan menyingkap bajunya hingga bibir itu bertemu dengan kulit pusar istrinya.


"Sebenarnya aku pinginnya punya anak, tapi kasihan juga karena kamu masih masa koas, tunda sampai kamu selesai nggak pa-pa mengingat kesibukan kamu, tapi setelahnya kita harus program anak yang banyak," jawab pria itu bijak.


"Jadi kamu nggak marah kalau aku menundanya, enaknya KB apa ya Mas, yang nyaman buat kita berdua."


"Nanti konsultasi sama dokter obgyn saja, Dek, yang lebih paham."


"Atau gimana kalau kamu saja yang pakai pengaman, aku nggak harus repot pasang KB kan?"


"Bisa dicoba sih, tapi nggak tanggungjawab kalau lupa. Kata orang-orang nggak enak pakai gituan."


"Kamu jujur banget sih, ya udah deh nanti baiknya gimana setelah konsul."


"Dek, masih sakit? Kamar yuk!" ajak pria itu sembari mencium-cium perutnya.

__ADS_1


"Duh ... geli Mas, jangan elat-elat, kamu nakal banget!" Rania menjauhkan tubuhnya seraya terkekeh. Tangannya bergerak menahan kepala suaminya agar berhenti dengan tindakan konyolnya.


"Ayo sayang ... kamar!" ajak pria itu dengan suara berat.


Rania menatapnya horor, tanpa bicara sudah tahu maksud dengan suami mesumnya.


"Katanya nanti malam, punyaku masih nggak nyaman banget Mas, aku pingin nangis rasanya. Please jangan nakal dulu tangannya," mohon Rania menggigit bibir bawahnya. Rasanya masih begitu kerasa ngilunya.


"Masih sakit banget? Aku pijit-pijit manja biar enakan gimana?" tawar pria itu tersenyum manis.


"Nanti Mas Ray sayang, bentar lagi juga mau adzan dhuhur ini, sholat dulu, istirahat dulu, baru ibadah yang itu nanti malam lagi ya?"


Benar saja baru selesai bicara, surat kumandang adzan terdengar menggema, membuat perempuan itu tersenyum lega.


"Iya deh, nggak sabar pengen cepet nanti malam. Ya udah ayo siap-siap!"


Rayyan bangkit berdiri, tangannya meraih kedua tangan istrinya lalu sedikit menariknya sejalan dengan Rania berdiri. Berjalan pelan menuju bilik mushola kecil yang ada di rumah. Keduanya menunaikan jamaah bersama. Terasa begitu damai dan indah, tentram jiwa ini.


Usai empat rakaat wajib, keduanya kembali bersantai-santai saja tiada pekerjaan yang berarti. Sama-sama memanjakan diri, makan, tidur, ibadah, mandi, dan semua itu mereka lakukan hingga menjelang malam.


Sekitar pukul delapan lewat sehabis sholat isya, rupanya pria itu tidaklah lupa dengan ibadah yang tertunda sejak tadi siang. Laki-laki yang sudah kelihatan bebersih itu itu mendekati ranjang.


"Sayang ... ayo, aku udah bebersih ini. Siap tempur malam kedua, cukup dua putaran." Rayyan mengelus-elus mahkota indah hitam legam itu perlahan.


"Dek, kok diem, aku udah siap Nih ....!" kata pria itu mengusak, menciumi rambutnya.


Tak mendapatkan respon sama sekali, membuat Rayyan gemas sendiri. Pria itu mengintip, menatap wajah ayunya yang memunggungi. Terlihat jelas dengan tanpa merasa berdosa istrinya tertidur pulas. Dengkuran halus yang terdengar semakin memperkuat dugaannya.


"Astaghfirullah ... Dek, tidur?" Pria itu berkata dengan gemas.


Sepertinya memang Rania terlalu lelah untuk hari ini, dengan segenap kerelaan dan keikhlasan pria itu akhirnya membiarkan istrinya beristirahat dengan nyaman. Ray akan memintanya besok pagi saja, semoga beruntung menjemput rezeki besok pagi.

__ADS_1


__ADS_2