Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 123


__ADS_3

Hari itu sekitar jam setengah sepuluh, mendadak ruangan VVIP yang dihuni Rania mendadak ramai. Beberapa temannya menjenguk Rania yang siang itu sudah lebih baik.


"Ya ampun ... Beb, kok bisa gini sih?" Jeje dan Asa yang siang itu datang membesuk nampak tidak percaya dengan hal yang menimpa sahabatnya.


Di belakangnya menyusul Kenzo dan juga Tama, mereka datang berbarengan.


"Namanya juga musibah, ya mau gimana lagi," jawab Rania santai.


"Wah cantik-cantik dagunya bolong, sakit ya Ra?" tanya Asa sambil meneliti luka-luka yang masih diperban.


"Beh ... ditanya lagi, nikmat Buk, luar biasa. Alhamdulillah masih diberikan napas sampai sekarang."


"Kok bisa-bisanya tuh ojol meleng gitu, bikin nggak aman aja. Tahu pulang sendiri kemarin mending bareng kita, Ra?" ucap Tama menyayangkan.


"Nggak bisa nyalahin satu sama lain, namanya musibah sudah dihindari juga ketemu aja. Mang ojolnya juga kasihan pasti nggak bisa narik berhari-hari kalau sakit. Untung juga mbah-mbah yang bersepeda nggak pa-pa," papar Rania sendu.


"Kalian pada minggat atau emang nggak ada kegiatan?"


"Rehat sejenak, ini kan jam besuk makanya ramai. Owh ya suami lo nggak di sini?" tanya Jeje kepo demi melihat Rania sendiri di kamar rawat.


"Kerja lah, gue usir. Sebenarnya gue minta pulang tapi doi nggak ngijinin, mana pas barengan banget dengan deadline dan ujian."


"Tugas lo bisa via email. Kalau ujian akhirnya lusa, semoga lo udah bisa ikut."


"Nggak ngerti terbengkelai semua kalau sakit gini, mana pas lagi sibuk begini," keluh Rania menyayangkan.


"Tapi lukanya itu langsung kering kok, syukur besok udah buka perban."


"Aamiin!"


"Permisi ...! Eh, ada banyak dedek koas," sapa Dokter Raka bebarengan dengan Ray memasuki kamar rawat Rania.


"Siang Dok?" balas mereka kompak.


"Cepet sembuh, Ra, kita tinggal dulu ya," pamit Kenzo dan juga Tama.

__ADS_1


Pria itu tersenyum ramah dengan calon dokter di sebelahnya. Rania yang tengah misi menjadi agen makcomblang buat Dokter Raka dan Jeje, tentu sangat menyita situasi ini.


"Kita juga pamit ya Ra, cepet sembuh," ujar Jeje dan Asa pamit.


"Je!" panggil Rania sengaja menahan sahabatnya itu.


"Sini bentar," ujar perempuan itu melambai.


"Gue duluan deh nyusul ya?" pamit Asa lalu.


Jeje mendekati ranjang kembali, sementara Raka dan juga Ray menempati sofa ruang tunggu yang jaraknya tidak lumayan jauh.


"Dokter Raka, Je, kamu pura-pura stay di sini aja sambil TP TP," ujarnya mengerling.


"Astaga! Kurang kerjaan banget, nggak ah malu," tolak Jeje seperti bukan dirinya saja.


Biasanya perempuan itu suka tebar pesona lihat cowok ganteng. Jeje juga suka gitu, tetapi kenapa sekarang malah terkesan jaim dan malu-malu.


"Nggak sreg ya, jangan bilang kamu nggak setuju."


"Tahu lah, emangnya doi mau sama gue yang notabene bukan dari levelnya."


"Eh, eh jangan dipanggil!"


"Yee, gue manggil laki gue kali," jawab Rania penuh strategi.


Ray menoleh diikuti Raka. Keduanya menghampiri ranjang.


"Kenapa sayang, butuh sesuatu?" tanya Ray duduk di tepian ranjang.


"Kamu kenapa malah ke sini, nggak ada kerjaan?"


"Ada lah nunguin pasien, ini dia pasien bedahnya. Haha."


"Ish becanda terus kamu, Mas, pelanggaran!"

__ADS_1


"Eh ya, Pak Dokter Raka, kenalin ini teman aku, Jeje," ujar Rania mulai menjalankan misinya. Ada kesempatan gas saja tanpa perhitungan.


Akhirnya mereka berdua pun berkenalan versi nyata dan dekat. Saling bertukar akun sosmed. Semua serba dimudahkan, komunikasi apa pun bisa semakin dekat lewat udara.


Setelah dirawat kurang lebih selama dua kali dua puluh empat jam, Rania akhirnya pulang ke rumah mereka. Masih harus beristirahat mengingat lukanya belum sembuh benar. Walaupun tidak dikategorikan parah, jelas yang namanya dijahit-jahit itu memerlukan pemulihan.


Rania juga masih izin beberap hari ke depan sampai benar-benar pulih.Perempuan itu menyempatkan untuk belajar di waktu senggangnya demi mengejar ketertinggalan dengan teman-temannya.


Perempuan itu tidak sendiri, walaupun ditinggal kerja Ray ia di rumah ditemani asisten bari mereka yang dikirim langsung dari rumah mertuanya. Ray juga berusaha pulang cepat, setelah pekerjaan selesai pria itu pasti langsung menyambangi rumahnya.


"Sayang ... aku pulang!" seru Ray sore itu.


Rania nampak tengah sibuk belajar di louncer tepi kolam. Sengaja memilih tempat itu untuk mendapatkan suasana tenang.


Pria itu mencari-cari di kamar, namun tak kunjung menemukan.


"Astaghfirullah ... ke mana sih," gumamnya resah.


"Den, cari Non Rania ya? Lagi di tepi kolam Den," ujar Mbok Sumi art baru.


"Owh oke mbok infonya," jawab Ray begegas. Masih dengan pakaian dinasnya.


"Sayang, di sini rupanya," tanya Ray merasa lega.


"Eh, sudah pulang Mas," balas Rania langsung menyambut suaminya.


Pria itu mencium mesra seperti biasa, namun ada satu hal yang pria itu bawa.


"Ini buat kamu," ucapnya tersenyum.


"Dih ... sweet banget sih, dalam rangka apa?" tanya Rania berbinar.


"Emangnya kasih bunga harus dalam suasana tertentu ya?"


"Nggak sih, tapi tumben aja kamu seromantis ini."

__ADS_1


"Ya, karena semua hari itu spesial kalau ada kamu, dan aku bakalan ngelakuin apa pun yang bisa membuatmu senang."


Rania tersenyum sembari memeluk kekasih halalnya. Benar-benar bahagia itu datang dari hal-hal kecil dengan perhatiannya.


__ADS_2