Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 134


__ADS_3

Minggu terakhir di stase jiwa, yang pastinya disambut suka cinta bagi anak-anak. Namun, nampaknya masih ektra deg degan karena mereka akan dihadapkan dengan ujian. Hampir selama lima minggu, Rania mendapat dokter pembimbing Dokter Daniel.


Awalnya Rania sempat sedikit ragu-ragu dan tegang, karena versi orang-orang Dokter Daniel itu super perfect, harus serba bagus. Tapi emang benar, selain disiplin Dokter Daniel terkenal tegas dan juga nyaris sempurna.


Perempuan itu sudah harap-harap cemas saat undian buat nentuin penguji. Fortunately, Rania dapat lagi dengan Dokter Daniel dan rasanya ... cukup tenang karena memang saat bimbingan pun beliau care habis, dan berharap ujian akhir ini pun lancar jaya tanpa hambatan.


Jeje yang kebetulan mendapat penguji yang sama pun langsung bahagia tralala membayangkan ujian nanti sepertinya akan indah, lancar, dan berakhir bahagia.


"Dek, mau ujian hari selasa atau sabtu, kebetulan jadwal senggang saya hari itu," tawar Dokter Daniel.


Rania dan Jeje langsung menimbang-nimbang. Duo koas itu pun memilih hari sabtu, berkaca dari pengalaman koas sebelumnya ujian cepet malah sedikit agak kurang siap, jadi sengaja memilih sabtu dan tentu saja masih ada beberapa sisa hari untuk belajar hingga hari itu tiba.


Rania follow up pasien yang cukup oke, dengan gejala yang masih nyata tapi tenang dan kooperatif luar biasa. Jeje juga sudah mendapatkan pasien. Keduanya siap sedia tinggal menghitung hari saja menuju ujian. Baik Rania ataupun Jeje semacam cukup percaya diri untuk ujian nanti.


Tiba lah hari yang dinanti. Hari ujian, hari Sabtu. Hari terakhir di stase Jiwa. Setelah apel pagi, Rania menghadap dokter pembimbing dan langsung diberi arahan kalau ujian nanti jam sembilan di bangsal masing-masing di mana pasien berada. Waktu kurang dari dua jam, Rania dan Jeje pun sudah mempersiapkan dengan matang.


Kebetulan pasien Rania dan juga Jeje beda bangsal, jadi keduanya menanti di bangsal lain dulu. Tibalah mendekati jam sembilan sudah mulai agak deg degan.


"Dek, mau ujian ya? Tadi dokter pengujinya telepon nanyain kalian udah stay belum?" kata ketua bangsal yang super baik itu menginterupsi.


"Eh iya Kak, makasih. Kami stay dan siap!" jawabnya dengan hati berdebar.


Detik, menit, berlalu dan sedikit molor, ternyata usut punya usut di ruangan Dokter Daniel sedang ada tamu dan kedua anak koas itu harus menunggu dengan sabar.


"Ra, kita samperin aja ke ruangannya yuk!" ajak Jeje yang dijawab ragu-ragu.

__ADS_1


Perempuan itu mulai feeling kurang enak, dan sialnya mengiyakan pendapat Jeje.


Setelah tamu Dokter Daniel bubar, Jeje masuk ruangan lebih dulu disusul dengan Rania di belakangnya, dan diluar ekspektasi ternyata dokter Daniel tidak suka disusulin. Atau karena mungkin moodnya sedang ambyar. Entahlah hanya Tuhan dan dia yang tahu.


"Kenapa nyamperin ke sini? Saya kan sudah bilang tunggu di ruangan, malah nyamperin ke sini, jangan buat mood saya rusak ya!"


Rania dan Jeje dibuat wao seketika mendengarnya. Otomatis keduanya langsung pamit teratur menuju bangsal dengan tergesa-gesa menyiapkan ruangan masing-masing yang mau buat ujian.


Perawat-perawat di bangsal ikutan kalang kabung melihat duo koas yang rusuh udah kayak kena bencana. Sedatengnya penguji, mereka langsung masang sejuta tampang melas, nggak ngaruh. Dokternya nggak mau pakai ruangan yang Jeje siapkan dan hasilnya ujian Jeje pun diundur.


Rania yang selanjutnya harus menghadapi si dokter langsung lari ke bangsal tempat ujian dan nanya pasien ke perawat.


Sialnya ternyata si pasien yang sudah Rania bilang jangan dibawa ke Rehab karena mau dipakai ujian malah dibawa ke Rehab.


"Dibawa ke rehab, Dek," jawabnya santai.


"What!"


Sedikit gemas Rania langsung lari ke Rehab untuk jemput pasien dan belum sampai depan pintu masuk bangsal, perawat seperti ngasih kode buat Rania masuk duluan dan biar mereka yang handle pasien.


Alhasil bukan hanya Rania yang tegang, semua perawat di bangsal juga ikut tegang. Dengan bismillah Rania masuk dan berharap nasibnya lebih baik dari Jeje. Seketika dalam keadaan hectic seperti ini, Rania mengingat Ray. Suami tercintanya yang pastinya selalu memberikan dukungan sepenuhnya tanpa diragukan lagi.


Entah karena doa orang-orang tersayang atau memang karena Rania sebelumnya adalah anak bimbingannya, dokternya marah dan sedikit ngomel luar biasa tapi Rania tetep diperbolehkan ujian. Dua jam Rania berada di kursi panas, dicerca, ditanya-tanya dengan pertanyaan yang nggak Rania sangka.


Waktu Rania belum tau jawabannya, perempuan itu diberi kesempatan disuruh keluar dan nyari jawaban ke dokter bangsal atau perawat yang ada.

__ADS_1


"Dek, kamu itu ragu-ragu, perfeksionis, idealis, saya yakin dulu IPK kamu besar, 'kan?" Dokter Daniel membaca karakter Rania.


"Mau minta nilai berapa?" tanya Dokter Daniel yang seketika membuat Rania menatap bingung.


"Teman kamu yang tadi mana? Suruh dia menghadap saya dan nyiapin prosedur sesuai keinginan saya. Kenapa mau-maunya ujian diundur," kata Dokter Daniel membawa angin segar.


Setelah memberikan nilai, Rania menatap dengan lega dan tak percaya seraya menjabat tangannya. Ada perasaan lega sudah melewati hari ini. Namun, ia teringat pesannya dan dengan kekuatan lari maraton Rania segera mencari Jeje.


"Astaghfirullah ... kenapa nggak ditelepon aja sih," gumam Rania mendadak lola. Sedikit panik kadang membuatnya salah langkah.


Rania pun segera menghubungi Jeje kalau siang ini masih diberikan kesempatan untuk segera menghadap dokter Daniel.


"What! Beneran? I'm coming Boo!" pekik Jeje girang.


Muka yang tadinya sudah kusut bercampur muram mendadak penuh asa dengan binar harapan. Sambil menjelaskan prosedurnya Rania membantu Jeje menyiapkan.


"Semangat! Bismillah kamu pasti bisa!"


Setelah melewati dengan hasil yang cukup lumayan, lagaknya Rania harus mengucapkan banyak terima kasih dengan Dokter Daniel yang selama ini sudah membimbingnya dengan sabar dan membagi ilmunya.


"Kita foto-foto dulu yuk! Sebagai salam perpisahan hari ini!"


Para koas dan dokter penguji hari itu mengakhiri perpisahan dengan manis. Sebelum akhirnya harus say goodbye dengan kota Klaten dan pengalaman luar biasa yang sudah didapat.


Perempuan itu baru saja keluar dari gedung rumah sakit tetiba menemukan mobil yang sangat familiar terparkir tak jauh dari sana. Seseorang yang begitu sangat ia rindukan sudah menunggu tepat di samping mobilnya dengan kedua tangan kiri dan kanannya membentang kerinduan. Dengan senyum terkembang, Rania sedikit berlari berhambur ke dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2