
Usai dari rumah sakit, Rayyan langsung bertolak ke tempat di mana istrinya tengah menikmati waktu luangnya bersama sahabatnya. Ray pikir tak masalah sekedar jalan, sudah menjadi suaminya tak harus selalu kolot, atau Rania akan merasa terkekang. Sekalian saja mungkin Rania sudah tidak segan lagi mengenalkan hubungan itu dengan teman-temannya. Walaupun bisa dimulai dengan pacar dulu mungkin, atau teman dekat yang memberi perhatian lebih.
Pria itu berjalan gontai menuju kafetaria yang alamat istrinya kirim. Ia sudah berantusias, penuh percaya diri dengan harapan-harapan baik. Perlahan tapi pasti, hubungan mereka dipublikasikan.
Entah suatu kebetulan atau tidak, seseorang bersilang arah menabraknya. Keduanya bertatap muka sekilas dengan muka marah, lebih tepatnya Ray marah dan kesal dengan seseorang yang tidak begitu amanah. Malah hampir saja membuat hatinya luluh lantah. Sudah berlalu, Ray pikir semua baik-baik saja dan keduanya pun melupakan apa yang terjadi.
Sungguh diluar ekspektasi, saat mendekati meja di mana istrinya berada. Seseorang yang selalu membuat ketar ketir hatinya muncul di sana juga. Duduk merapat dengan Rania yang jelas-jelas tengah bersantai dengan kedua sahabatnya. Hatinya sedikit panas, tetapi ia mencoba tetap tenang dan Rania tidak mungkin aneh-aneh mengingat keduanya tengah anget-angetnya.
Ray mulai tak nyaman saat istrinya menatapnya horor. Sepertinya telah terjadi sesuatu atau Jo telah mencuci otaknya. Pria itu tidak tahu, karena tidak mendengar dan pastinya baru saja datang.
Terdengar istrinya itu berkata dengan nada sewot.
"Apa maksud kamu, Jo? Kamu sengaja berkata seperti itu karena tidak suka dengan hubungan kami!" geram Rania sedikit ngegas.
Jeje dan Asa hanya plonga-plongo melihat adegan live di depannya. 'Apa yang dimaksud Rania dengan hubungan kami?' jelas kedua sahabat itu menangkap kecurigaan yang hakiki.
Pria itu tersenyum sinis, "Ra, buka mata kamu lebar-lebar dan tanyakan pada dia!" tunjuk Jo pada Ray yang berdiri mematung dengan firasat tak enak hati.
"Kamu ingat baik-baik saat aku pernah mengantarkan kamu pulang malam itu, seseorang tiba-tiba masuk menyelinap kamar kamu dalam keadaan listrik padam. Dia dalang di balik semua itu!" tunjuk Jo lagi pada Rayyan yang sudah terlihat maju dan setingkat lebih emosi.
"Maksud kamu apa, Jo! Kamu sengaja bikin masalah dengan mencari pembelaan diri!" bentak Ray marah.
"Sayang, ayo kita pulang, jangan dengerin dia, tolong kamu percaya sama aku, aku bisa jelasin semuanya," mohon Ray mencoba menekan sabar. Seandainya tidak di tempat umum dan dalam keadaan ramai, sudah bisa dipastikan sepatunya mampir ke mulut Jo yang jahatnya kebangetan.
Ray meraih tangan istrinya, namun Rania hanya diam menatap dengan tanda tanya yang besar.
"Aku bakal jelasin, tapi di rumah, ingat sayang ini tempat umum. Kamu paham, 'kan?" tekan Ray dengan batas kesabaran pada dirinya.
__ADS_1
"Ra, jangan mau dibodoh-bodohi pria licik dan brengsek kaya dia. Kamu harusnya bisa lebih pintar mencerna maksudku! Dia terlalu terobsesi padamu jadi cara licik pun pasti akan ia lakukan, menjijikkan sekali, picik!" Jo terus berkoar hingga membuat suasana semakin memanas.
"Brengsek kamu, Jo, aku nggak sebrengsek itu! Tidak usah terlalu menjadi sok yang paling bener, kamu tidak lebih dari aku jadian dengan perempuan lain hanya karena rasa iba, kamu lebih brengsek!" geram Ray mencengkram kerah Jo dengan begitu marah.
"Wao ... sans dong Bro, dari pada lo mukulin gue yang nantinya bakalan panjang, lebih baik lo jelasin yang bener dengan Rania kalau lo itu dalangnya. Munafik!"
Saking kesalnya Ray tidak jadi menghadiahi pukulan telak, namun ia menghempaskan dengan mendorong kuat tubuh Jo hingga ia tersungkur ke belakang menyebabkan kursi dan meja kafe berantakan. Sontak saja kejadian itu semakin menambah banyaknya orang yang memperhatikan.
Jangan tanyakan seberapa ekspresi wajah Jeje dan Asa. Kedua orang itu bagai patung yang shock dengan lontaran kata-kata kedua pria yang tengah berseteru sengit itu.
"Pulang!" tekan Ray dengan mata memohon. Ada banyak emosi yang tertahan di sana. Pria itu menuntun tangan istrinya erat. Mengangguk agar ia menurut.
"Lepas!" kata Rania dingin.
"Nggak! Tolong ikut, nanti aku jelaskan di rumah. Tolong pahami privasiku, aku mohon, Ra!" tekan pria itu setengah putus asa.
"Brengsek!" terdengar Jo mengumpat kesal. Pria itu hendak bangkit melawan, namun dengan cepat dihadang Asa dan Jeje. Tentunya dua orang tersebut berusaha menenangkan. Mengapa temannya itu bisa punya urusan khusus dengan orang yang paling berpengaruh di tempatnya mereka tugas.
"Ra, tunggu Ra!" teriak Ray mencoba meraih tangan istrinya kembali.
"Lepasin!" salak perempuan itu galak.
"Nggak, ayo ikut pulang!" tekan Ray menarik tangan istrinya agar menurut memasuki mobil.
"Lepas, Mas! Sakit!" pekik Rania meronta. Ray langsung menghentikan aksinya dan menatapnya lebih dalam.
"Jelasin!" pinta wanita itu marah-marah.
__ADS_1
"Oke, kita masuk mobil dulu, banyak yang lihat!"
"Peduli amat, aku nggak mau pulang kalau kamu nggak ngejelasin sekarang."
"Astaghfirullah ...." Karena gemas tapi emosi akhirnya dengan gerakan cepat Ray menggendong tubuh mungil istrinya dan dengan mudahnya memasukkan ke mobil. Memasang sabuk pengaman dengan cepat.
Pria itu menyusul masuk ke mobilnya dan segera menstaternya.
Wanita itu kembali melepas seatbelt-nya, dan mencoba hendak turun membuka pintu. Namun, Ray dengan cekatan menguncinya.
"Tenang, Dek, nanti aku jelasin di rumah!" kata pria itu hampir tak bisa mengontrol emosi dengan baik.
"Kalau nggak mau jelasin, aku tidak mau pulang!" tekan Rania sungguh marah.
"Oke, aku jelasin, tolong dengerin baik-baik."
Ray merangkum pundaknya agar istrinya terkunci menatap dirinya. Berharap menemukan kelembutan yang tidak sampai hati membakar emosi jiwa.
"Aku memang menyuruh orang lain waktu itu," kata Ray lirih. Rania mulai meronta lebih marah, namun Ray tetap menahan bahu itu.
"Tapi bukan untuk melecehkan kamu, sayang, aku tidak mungkin sebejat itu walaupun aku akui, aku terlampau menginginkan kamu. Aku hanya menyuruh pria itu untuk memadamkan listrik dan menakut-nakuti kamu di balik tirai, bukan menyuruh merusak apalagi melecehkan kamu. Enak saja, aku saja belum malah keparat itu tidak amanah sama sekali. Paham!" Ray berkata serius menatap kedua netranya.
"Aku kecewa sama kamu!" lirih Rania sendu. Hatinya terasa dihantam bongkahan batu es yang melesakkan di dada. Hingga terasa sesak yang ia rasakan.
"Ya, kamu boleh kecewa tetapi sebentar saja. Karena aku tidak akan membiarkan kamu terlalu lama memendam perasaan sakit sendiri."
"Aku minta maaf, sayang," ratap Ray sembari mengusap buliran bening yang membasahi pipi ayu istrinya.
__ADS_1