Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 117


__ADS_3

"Udah nggak usah cemberut, ayo sayang berangkat!" ujar Ray santai.


"Jadinya kita nyusul teman-teman kamu nih, keburu nggak ya udah jam tiga sore gini."


Rania melirik suaminya dengan sengit, membuat pria itu seketika langsung mengiyakan tanpa berpikir lagi. Rasanya tidak enak sekali didiemin belahan jiwanya seharian. Lebih naik dicerewetin atau ditegur dari pada harus merajuk tanpa suara.


"Dek, mereka pada liburan ke mana? Nggak jauh 'kan?" tanya Ray memastikan. Ini sudah masuk waktu sore takutnya kemalaman di jalan.


"Pantai Carita, dua jam lebih lah normalnya. Kamu sih nggak ngerti banget orang ngerencanain udah jauh-jauh hari pengen healing bareng anak-anak. Malah dibuat capek semalaman."


"Tapi kamu nikmati kan sayang, bahkan mau lagi," goda Ray yang membuat perempuan itu melayangkan satu cubitan dengan gemas.


"Adoh ... Dek, jangan becanda lagi nyetir ini bahaya!"


"Kami ngeselin, mana ada aku minta nambah, kamu tuh yang godain aku terus. Kaya orang nggak punya capek aja, badanku aja pegel semua."


"Capek aku hilang ketika melihat senyum kamu, perlakuan kecil dan perhatian kamu tuh selalu membuat aku merasa berharga. Itu kenapa aku sangat menyayangi kamu karena aku pernah gagal dan ditinggal dan jujur aku sedikit trauma makanya aku nggak mau banget ada cerita kita berantem, apalagi gegara mantan atau orang ketiga yang tidak jelas. Berkomitmen lah dengan semua yang sudah ada, karena janji kita disaksikan Tuhan."


"Aku nggak tahu mungkin caraku ini kadang terlalu kekanakan. Semoga kamu sabar Mas, karena jujur aku masih merindukan kebebasan di mana ingin berbagi dan menghabiskan cerita bersama teman-teman. Mungkin aku egois, kamu tegur saja bila aku merasa tidak nyaman dan sikapku keterlaluan."


"Sejauh ini masih aman ya? Kamu boleh kok main dengan teman-teman kamu, ya termasuk ngadain liburan kaya gini, maaf walau kali ini gagal tapi mari kita coba membuat cerita yang baru."


Sepanjang perjalanan mereka mengobrol yang kadang dibumbui nada debat. Ada kesal, sedikit jengkel, namun lagi-lagi pesona Mas Suami selalu membuatnya mati kutu. Satu kata tidak berkutik, apalagi saat pria itu memainkan kelihaiannya dengan tingkat kemesuman yang hakiki. Sungguh Rania selalu kalah dan berakhir pasrah.


"Dek, turun sayang udah sampai!" titah pria itu menepuk pipinya. Istrinya tertidur dari mulai setengah perjalanan. Mungkin memang hari ini hari yang cukup melelahkan.


"Eh, udah sampai? Wah pas banget cuacanya menjelang senja, ayo Mas turun!" ujar Rania bersemangat. Perempuan itu pun menghubungi sahabatnya lewat telepon pintarnya. Tak berselang lama obrolan diakhiri dengan muka binar Rania yang nampak bahagia.


"Ayo Mas, mereka ada di sebelah utara. Mereka ternyata buat tenda. Wah ... pasti seru banget!" ujar Rania antisias.


"Sayang, katanya cepet kok jalanya kaya siput. Gimana sampainya?"


"Masih rada ngilu nggak nyaman gitu, gendong boleh?" pinta Rania manja. Ray tersenyum tanpa kata, dengan sekali hentakan tubuh itu sudah dalam gendongannya.


"Orang masih sakit pakai sok sokan mau jalan-jalan. Gimana ceritanya kalau aku tidak ikut, ternyata tubuhku sangat dibutuhkan kamu."


"Diem Mas, turunkan aku jika sudah hampir sampai di tenda teman-teman."


Ray menurut membawa tubuh istrinya melayang dalam dekapan. Rasanya kasihan juga, tapi benar-benar puas bisa membuatnya susah jalan seperti ini akibat ulahnya yang terlalu perkasa.


"Udah Mas, turun! Itu mereka!"

__ADS_1


Ray dan Rania berjalan perlahan mendekati anak-anak di mana mereka tengah bermain bola.


"Hallo gaes ... akhirnya ketemu juga!" sapa Rania dengan sumringah.


"Ye ... akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga," pekik Jeje girang. Asa ikut menyambut sahabatnya yang masih pengantin baru itu.


"Sore Dok!" sapa Jeje dan Asa hampir bebarengan.


"Sore, boleh gabung kan?"


"Ya ... tentu boleh dong."


Kenzo dan Tama nampak melongo di tempat melihat Rania datang dengan senior mereka di rumah sakit. Bukan hanya senior tetapi orang nomor satu yang pegang Medika.


"Kok kalian bisa bareng?" tanya Tama penuh selidik. "Kalian pacaran?" sambung pria itu menatap curiga.


"Ya bisa lah ... namanya juga pasangan baru yang lagi anget-angetnya, mana mau ditinggal," jawab Jeje mewakili.


"Gue nggak tanya elo, Je, nerocos mulu!"


"Bantu jawab kekepoan lo yang hakiki. Ayo Ra, gabung sini kita mau siap-siap barberquan pokonya dijamin endul."


"Asyik ... ngga sia-sia gue nyusul."


"Eh, gaes ... sayang banget kita besok masuk ya, jadi entar malam tetep pulang!" keluh Asa yang merasa tak rela keasyikan ini cepat berakhir.


"Bisa buat agenda lain lagi. Mungkin muncak, atau kalau nggak trip ke tempat wisata kuno. Seru tuh kayaknya."


"Nikmati aja dulu yang ada, terlalu sayang untuk mengakhiri hari ini," ujar Jeje mendrama.


"Healing mulu pikiran kalian. Maklum banget ya yang udah sumpek sama tugas koas. Berasa keluar dari jeruji suci."


"Gue nikmatin kok," timpal Asa sok asyik.


"Apalagi sohib kita yang satu ini, pasti happy lahir batin. Iya kan bestie?" sambung gadis itu menunjuk Rania yang sedari tadi nampak menyimak obrolan mereka. Sedang Ray sendiri sudah mulai akrab dengan duo cowok yang selalu terlihat debat tapi akur itu.


"Katakan saja begitu, hidup memang harus dinikmati 'kan? Terlepas dengan rasa seperti apa, pasti akan bertemu dengan yang namanya manis pahit kehidupan."


"Cie ... yang udah berumah tangga, jawabannya bijak banget Neng."


"Eh, aku jalan-jalan bentar ya, menikmati indahnya senja pantai ini. Belum buat moment di sini."

__ADS_1


Ray dan Rania izin memisahkan diri sebentar. Mereka menyusuri indahnya pantai Carita sore ini dengan berjalan santai di pinggiran air. Mengambil beberapa gambar yang sengaja mereka abadikan.


"Sayang, cheers ....!" Ray mencuri satu kecupan di pipinya.


"Foto sendiri Mas, ini viewnya indah banget." Suasana senja dengan deburan ombak dan semilir angin adalah perpaduan indah yang eksotik untuk background mereka kali ini.


"Minta tolong orang lebih baik deh, aku pengen ambil gambar yang banyak kita berdua."


Ray pun tak sungkan menunjukkan pose mesra di mana membuat orang yang melihat bisa baper berjamaah.


"Makasih ya Mas, ini tipsnya karena udah bantuin dan hasilnya bagus." Ray memberi lembaran merah untuk orang yang berjasa mengabadikan moment indah mereka berdua.


"Dek, besok kalau ke Bandung ikut ya?"


"Loh, ya nggak bisa aku kan nggak libur. Masak absen-absen terus. ini aja udah izin banyak kemarin."


"Aku ambil sabtu pagi, terus kamu sorenya nyusul. Nanti biar Axel yang jemput. Kita bisa menghabiskan malam minggu di sana."


"Harus banget ya?"


"Iya lah, di mana ada aku, di situ ada kamu."


"Kalau misalnya nih, aku dipindahin tugas luar kota, apa kamu juga mau ikut?"


"Nyusul pastinya, LDR kayaknya berat. Emang stase selanjutnya apa?"


"Jiwa, mungkin keluar dari Induk rumah sakit."


"Duh ... bisa jadi, aku jawil Pak Wardana nanti biar nggak jauh-jauh nempatinya. Nggak sanggup kayaknya LDR."


"Emang bisa gitu ya?"


"Harus dicoba dulu. Kalaupun nggak satu rumah sakit setidaknya masih di Jakarta dan dekat. Sayang banget nanti pengantin baru ditinggal-tinggal mulu."


"Kamu bucin banget Mas. Sampai hobinya ngintilin mulu."


"Biarin, biar kamu seneng. Bucinin yang halal kan pahala, apa salahnya," kata pria itu sembari membelai rambutnya.


Mereka tengah duduk di atas pohon kering yang tumbang saling berhadapan.


"Berarti kemarin dosa ya Dek, bucinin pacar orang," seloroh Ray tersenyum. Menyorot penuh cinta.

__ADS_1


"Iya lah, kamu emang semeresahkan itu," jawab Rania dengan tautan manja.


"Habisnya kamu tuh bikin gemesh, duh ... jadi pengen ngamar kan."


__ADS_2