
Gadis berkulit putih nan cantik itu keluar dari ruang Dokter Rayyan dengan wajah berbinar. Ia refleks saja berhambur ke tubuh Asa dan juga Jeje yang sudah menunggu.
"Gimana? Aman?"
Rania mengangguk dengan senyuman. Napas lega terdengar dari rekan sejawatnya. Di hari yang sama, mereka juga ujian dengan konsulen yang berbeda. Ada juga dengan Dokter Rayyan, kebetulan Kenzo adalah kandidat selanjutnya.
"Mangat!"
Setiap akhir stase itu, walaupun di awali dengan ketegangan pasti berakhir hari dan rasa deg degan. Hasil akhirnya masih nanti setelah semua stase dilalui, namun ujian ini adalah penentu lolos selanjutnya nanti ke jenjang kelulusan yang sesungguhnya. Setelah melewati ujian yang cukup mendebarkan, untuk pertama kalinya Rania, Asa, Jeje, Kenzo, dan Tama, satu mobil yang sama. Mereka menyempatkan diri untuk hunting makanan seraya mengeluarkan kelegaan sementara mereka sembari menunggu hasilnya.
"Jadinya di mana nih gaes, gue berharap di stase berikutnya kita masih satu kelompok!" ujar Asa tak mau pisah.
"Aamiin! Semoga saja, udah sehati banget!"
"Sehati apa nggak mau pisah sama Kenzo, Sa. Ehem ehem!"
Asa dan Kenzo saling melirik, mereka antara di jok belakang dan depan. Dengan Tama bertindak sebagai sopir, Tama di sebelahnya, dan ciwi-ciwi Rania, Asa, dan juga Jeje di jok belakang. Ramai terisi full, namun cukup bahagia.
"Kafe yang paling cozy deh, gue yang traktir!" celetuk Rania tiba-tiba. Rasanya perlu banget merayakan hari yang luar biasa ini.
"Beneran? Asyik ... makan gratis!!"
"Yes ... makan, makan, lo tumben banget mujur Ra, ngomong-ngomong dapat reward apa?"
"Ye ... gue mah baik sepanjang hidup kali, lo aja yang ke mana."
"Sepertinya kita harus ke tempat yang ada lounge-nya deh, biar bisa nyantai sambil makan."
"Wokeh ... gass!"
__ADS_1
Tama memasuki area rumah makan modern bernuansa kafe dengan live musik yang siap meramaikan hari mereka. Suasana masih sore dan ini lumayan banget buat nyantai sambil ngopi dan ngemil-ngemil cantik.
"Kita boleh pesen sesuka hati kita nggak Ra, mumpung gretongan, boleh kali kita pesen suka-suka!"
"Boleh kok, pesen aja mumpung gue lagi seneng hari ini."
"Alhamdulillah ... pesen Ken, sok kamu maju sana."
"Mau pesen apa? Samain aja kali ya, berasa kaya lagi syukuran."
"Ya bener, syukuran habis ujian, terus makan-makan mantep nggak tuh!" timpal Asa semangat.
"Luber semangat ini mah, alhamdulillah dobel moga berkah hari ini, yang lagi bahagia juga nular buat sekitarnya."
Kenzo memanggil waiters dan memesan beberapa menu andalan di sana. Chicken beef steack, crispy chicken wings paket nasi menjadi andalan pesanan mereka. Ditemani dengan coffe milk boba favorit Rania dan nutella chocolate pesanan Asa dan Jeje. Kopi susu gula aren kompak pesanan Kenzo dan Tama.
Mereka berbincang sambil makan, tak lupa si bijak Kenzo sibuk ngevlog memenuhi vidio mereka. Sambil makan mengabadikan kisah mereka yang cukup asyik.
"Haiking gimana? Seru tuh kayaknya."
"Seru tapi jangan, capek ...! Yang dekat liburan ke mana gitu, pantai mungkin!"
"Agendakan saja, kita japrian, ya Allah ... nikmatnya akhirnya bisa makan dengan tenang dan cukup santai," Asa berucap syukur penuh kelegaan.
Mengingat di stase-stase sebelumnya sering pulang terlambat, bahkan nggak tidur, karena sibuk jaga malam. Perjuangan yang cukup diingat, dan tidak usah diulang. Berharap semua lulus di lima belas stase dengan beberapa stase yang tersisa.
Rania tengah menyuap nasi ke mulutnya tetiba vibrasi handphonenya memekik. Perempuan itu sampai lupa mengabari tunangan barunya kalau ia kini tengah hang out bersama teman-temannya menikmati waktu.
"Bentar gaes, gue angkat telepon dulu!" ujar gadis itu menepi.
__ADS_1
Terlihat teman-teman hanya mengangguk mengiyakan, lagi sibuk makan tentunya.
"Iya Mas, kenapa?" jawab Rania di ujung telepon.
"Aku sampai apartemen kenapa nggak ada di rumah, kamu ke mana?" tanya Rayyan terdengar kesal.
"Kamu udah pulang dari rumah sakit? Sorry aku lagi sama teman-teman, udah mau selesai kok, bentaran ya aku pulang," jawab Rania sudah seperti istri yang dicari-cari suaminya lantaran pulang ke rumah tak ada sambutan.
Panggilan diakhiri dan Rania segera kembali ke meja. Dengan cepat merampungkan makannya lalu membawa cup coffe milk boba untuk diminum di jalan saja.
"Gaes gue duluan ya, tagihannya udah dirinci Jeje, nanti gue transfer," pamit Rania yang sangat disayangkan oleh teman-temannya.
"Nikmati saja waktunya dulu, mumpung besok libur, jangan lupa bahagia!" pamit Rania meninggalkan cafe.
Perempuan itu langsung bertolak ke rumahnya tanpa mampir-mampir dulu. Hari sudah petang waktu Rania sampai di apartemennya. Menemukan kekasihnya menunggu sampai ketiduran di sofa. Terlihat di meja terdapat beberapa paper bag makanan yang sepertinya Rayyan yang membelinya.
"Ya ampun ... sampai ketiduran kaya gini," gumam Rania lalu.
Membiarkan saja pria itu terlelap, kembali lagi dengan membawa selimut dan berniat menyelimutinya. Tiba-tiba pria itu terbangun dan langsung menarik tangan kekasihnya hingga gadis itu terjerembab dalam pelukan.
"Kabur ke mana? Hmm? Nggak tahu orang nungguin sampai kering dan lapar gini."
"Ya sorry, aku nggak tahu kalau Mas mau ke sini?" sesalnya datar.
"Kamu belum makan?"
"Nungguin lah!" jawab Rayyan sembari membenarkan posisinya menjadi duduk.
Rania sebenarnya sudah makan, tetapi karena tak sampai hati menolak untuk menemani pria itu makan, terpaksa ia makan lagi walau sebenarnya sudah kenyang.
__ADS_1
"Sini aku suapin!"