Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 128


__ADS_3

Duh ... gimana nolaknya? Ya kali gue cuekin? Apakabar sama preskas gue besok??


"Dek, kok malah bengong, naik Dek!" titah pria itu cukup ngeyel.


"Tapi Dok, saya lagi nungguin ojol?"


"Cancel kan bisa? Santai aja Dek Rania, saya nggak gigit, kenapa jadi ragu-ragu?" selorohnya tersenyum.


Rania yang sudah berusaha menolaknya secara halus menjadi tak enak hati. Apalagi pria itu selalu terlihat baik dan ramah di setiap kesempatan.


Dokter Daniel sampai turun lalu membukakan pintu mobilnya. Membuat Rania makin kikuk saja.


"Aduh Dok, jadi ngrepotin, ini beneran nggak pa-pa kalau saya ikut nebeng mobil Dokter?"


"Ya nggak pa-pa emangnya kenapa? Searah 'kan? Jadi apanya yang salah."


"Iya sih, hehe." Rania benar-benar canggung dan berasa bersalah pada seseorang yang jauh di sana. Entah mengapa hatinya tak tenang selama perjalanan pulang.


"Kok diem aja, Dek? Lagi sariawan?" tanya pria itu basa-basi.


Rania tersenyum, "Enggak Dok." Gadis itu menggeleng resah.

__ADS_1


Lebih tepatnya tidak ada bahan yang harus diobrolin, jadi merasa mati gaya. Dokter Daniel yang lebih aktif bertanya-tanya. Dari masalah pekerjaan, cerita seputar pengalamannya selama bekerja, hingga merembet ke hal-hal yang agak pribadi.


Selama perjalanan keduanya terlibat obrolan, Dokter Daniel lebih mendominasi sementara Rania sifatnya menimpali. Sebenarnya ia pribadi yang mudah akrab dan sedikit cerewet tapi entah mengapa dengan pria itu hawanya kurang etis saja. Lebih-lebih dia dokter pembimbing Rania, jadi sudah pasti harus beramah tamah walau rasanya kurang begitu nyaman saat di luar jam kerja seperti ini.


"Kost kamu di sebelah mana?"


"Kost putri amanah, Dok, terima kasih sebelumnya jadi bareng."


"Sama-sama, kebetulan saja juga." Dokter Daniel tersenyum ramah saat Rania melambai dengan senyuman.


Gadis itu baru saja bernapas lega dan rencananya ingin langsung curhat dengan sahabatnya nanti setelah sampai di kamar. Tetiba suara yang cukup familiar itu menghentikan langkahnya.


"Baru pulang?" tanya seseorang dengan nada dingin. Suara bassnya nan berat mampu menggetarkan jiwa perempuan itu yang sedari tadi pikirannya melanglang tak karuan.


Tangan yang sudah terulur meminta diraih, terpaksa Rania tarik kembali karena tak mendapat respon apa pun. Pria itu menatap begitu tajam, kedua tangannya dilipat di dada, seakan menelan Rania hidup-hidup.


Eh, tinggu-tunggu! Tapi itu kenapa muka Mas Ray serem amat, jangan bilang doi lihat Dokter Daniel tadi. Ya ampun ... mati aku!


"Iya, rencananya mau bikin surprise, eh nggak tahunya malah aku yang terkejut. Emang gitu ya selama di sini? Luar biasa, baru dua minggu loh, sudah ada gitu yang nganterin. Dia siapa?!" tanya Ray meninggikan suaranya.


"Mas ... kamu jangan salah paham, ya ampun ... jangan gitu lihatin akunya Mas, berasa aku terciduk. Sumpah aku tuh tadi nggak sengaja ikut mobilnya karena lagi nungguin ojol tiba-tiba Dokter Daniel lewat. Mas, kamu marah?"

__ADS_1


"Menurut kamu, dua minggu aku nahan rindu, nggak ngerti banget betapa nggak enaknya di sana. Kepikiran, khawatir, eh, nggak tahunya yang aku pikirin sibuk dengan yang lain."


"Mas, kamu salah paham. Masuk dulu, biar nanti aku jelasin," ujar Rania melangkah cepat menuju rumah singgahnya. Suasana sudah petang waktu itu. Keadaan luar untungnya sepi, tapi tetap saja mungkin tetangga kost mendengar hal itu.


"Dia siapa? Rania Isyana!" bentak Ray geram. Pria itu langsung menodong istrinya begitu sampai kamar. Kalau sudah sampai sebut nama saja, fiks tandanya doi marah banget, ngambek akut dan ini gawat!


"Dokter Daniel, Mas, pembimbing aku, tapi tadi kita nggak sengaja gitu barengnya. Ini juga pertama kalinya aku bareng," jelas Rania berusaha tidak tersulut emosi.


"Owh ... gitu? Dokter pembimbing yang baik ya, kok bisa sampai kalian berduaan gitu. Nggak ngerasa berdosa, atau emang sudah terbiasa selama dua minggu ini di sini!" tekan Ray galak. Rahangnya mengeras, berusaha menahan amarah yang bergemuruh di dada.


"Mas, kamu tuh salah paham. Kenapa bentak-bentak sih!" Air mata ketakutan dan rasa bersalah yang sudah Rania tahan sejak tadi itu akhirnya luruh juga membasahi pipinya.


"Kamu buat aku kecewa!" bentak Ray sekali lagi. Entah mengapa Ray begitu emosi. Ia mengacak rambutnya frustrasi sambil mengeram gemas. Berusaha mengontrol diri agar tidak menyakiti istrinya yang begitu ia cintai. Hatinya dongkol sekaligus sakit.


"Hah! Nggak ada gunanya juga aku datang, kamu maunya apa, Dek?" tekan Ray gemas. Sementara Rania hanya menangis sesenggukan. Capek body tak begitu ia rasa, tapi capek hati dibentak-bentak jelas kena mental.


"Perlu aku datengin ke rumahnya, terus aku gebukin sekalian biar tahu rasanya jadi aku?" Ray pura-pura bergegas.


"Mas, jangan aneh-aneh. Ya Allah ... aku nggak ada hubungan apa pun sama dia, Mas. Aku minta maaf, aku minta maaf," ucap Rania tersedu. Memeluk suaminya dari belakang.


Ray tengah berusaha menguasai hatinya, ia yang begitu rindu bercampur cemburu sekuat tenaga tidak merespon apa pun.

__ADS_1


Rania yang tidak mendapat balasan apa pun, mengurai perlahan tangannya. Memberi jarak dengan hati sakit. Suaminya benar-benar marah. Gadis itu menyusut air matanya, bergerak menjauh dan pasrah maunya gimana.


Saat gadis itu hendak beranjak, Ray dengan cepat meraih tangan istrinya, lalu menggulingkan tubuh perempuan itu ke ranjang. Menatapnya dengan kilatan gairah yang menggebu bercampur cemburu yang menyala.


__ADS_2