Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 164


__ADS_3

Ray menyorot marah dan dingin. Bisa-bisanya istrinya bermain api di belakangnya. Pria itu hampir tidak percaya, kalau dirinya akan terluka kembali untuk yang ke sekian kalinya. Mungkin sekarang bahkan lebih sakit rasanya dari apa pun yang pernah ia alami.


"Pulang! Kamu bisa jelasin ini semua di rumah!" titahnya dingin. Netranya menyorot dengan kilatan yang menyala.


"Nggak mau, aku lagi mau makan, kenapa harus pulang. Kamu nggak mau makan? Datang-datang langsung marah-marah, serem amad," jawab Rania sok cuek.


"Apa? Apa kamu bilang, sudah salah masih bisa sesantai ini? Kamu maunya apa sih? Maunya apa, Dek?" bentaknya menahan sabar. Rasanya gemas sekali dengan perempuan yang sudah melahirkan anaknya itu.


"Maunya? Ya ... ngucapin selamat ulang tahun ....!" pekik Rania dengan nada sumringah.


Seketika tempat itu menjadi ramai, nampak satu persatu keluarga besar muncul memberikan selamat untuk Rayyan. Ada kedua orang tua Rayyan, keluarga besar Mama Inggit. Semuanya berhambur memberikan doa kebaikan pada pria yang saat ini genap tiga puluh tiga tahun.


"Surprise ....!" seru Rania tersenyum.


Ray menatap tak percaya, hari ini dirinya ulang tahun dan ia lupa. Mungkin karena saking sibuknya, pria itu sampai tak ingat kalau hari ini adalah hari kelahirannya. Seketika rasa dongkol, marah dan kecewa yang tadi begitu menggebu menguap semuanya. Berganti dengan haru dan rasa bahagia tak terduga. Dirinya mendapat kejutan yang luar biasa.


"Nggak lucu, ini beneran nggak lucu." Ray menggeleng dengan mata berkaca-kaca.


"Selamat ulang tahun suamiku, semoga sehat selalu keberkahan dan kesuksesan selalu menyertaimu."


Pria itu menyusut air matanya, lalu menarik istrinya dalam dekapan. Mencium keningnya beberapa kali dengan haru.


"Makasih Sayang, makasih, tapi aku nggak suka scene ini, kamu hampir membuat aku gila, dan kehilangan kepercayaan lagi."


"Maaf, Mas, habisnya aku bingung mau bikin surprise kaya apa, ya udah aku prank aja. Eh, berhasil nangis beneran." Rania tertawa ngakak melihat suaminya uang masih terlihat syok.


"Nakal banget ya Allah, sampai bawa-nawa koper segala. Kamu totalitas banget Dek, niat banget."


"Kalau nggak gitu mana kamu percaya. Sekarang udah nggak marah kan?"

__ADS_1


"Masih, pengen nimpuk pakai cinta biar makin sayang."


"Hmm, mulai deh ... gombalan recehmu keluar."


"Yang receh lebih menarik, kok bisa banget ngumpulin semua orang di sini, dan anehnya aku nggak inget kalau hari ini aku ulang tahun."


"Hmm, hari penting aja nggak inget, kamu tuh ingetnya apa sih Mas?"


"Nama kamu, Rania Isyana Rasdan, hari ultah kamu, aku malah hafal, secare gini ternyata hubungan kita, sampai detail banget sama pasangan walau kadang lupa dengan dirinya sendiri."


"Kamu aja deh kayaknya, aku tetep inget kok walaupun banyak pekerjaan."


"Apa doamu hari ini, di hari spesial kamu, Mas?"


"Selalu bersamamu hingga akhir nanti, diberikan kesehatan untuk kita dan keluarga besar, dan pengen nambah momongan lagi."


"Aamiin ... semoga terwujud, Mas, aamiin."


"Makan Mas, kenapa malah bengong gitu."


"Suapin, rasanya masih kesel tapi nggak bisa marah. Gemes banget pengen uyel-unyel, bisanya bikin ide konyol kaya gitu."


"Dimaafin nggak? Sini deh aku suapin, jangan cemberut gitu."


"Dimaafin tapi ada hukumannya."


"Juan mana? Aku kangen."


"Ada kok sama suster, lagi bobok tadi. Mungkin diajak jalan-jalan di sekitar."

__ADS_1


"Berarti surprisenya sukses ya Mas?"


"Banget, kamu mah tegaan, untung aku belum khilaf nyeret kamu pulang."


"Eh, cowok yang tadi mana, dia siapa?"


"Pemilik resto ini Mas, kebetulan teman aku juga."


"Jadi ceritanya booking di tempat temannya nih?" tanya pria itu dengan nada lain.


"Kenapa? Jangan bilang kamu cemburu, tadi tuh cuma akting."


"Ya jelas lah aku cemburu, mana bisa aku lihat kamu dekat dengan orang lain," omel Ray jujur.


"Astaghfirullah ... makan yang banyak, biar tanduknya ilang."


Rania menyuapi suaminya yang terdeteksi manja. Pria itu terlihat lucu, tadinya begitu galak namun dalam hitungan menit susah terlihat jinak."


Usai santapan bersama keluarga besar, semuanya memutuskan pulang. Rupanya perempuan itu dan Axel telah bekerja sama. Rania menyuruh seseorang untuk mendekorasi kamarnya agar nampak spektakuler.


"Wah ... kok bisa gini, pantesan diajak chek in nggak mau, di rumah kamarnya berasa hotel bintang lima."


"Lebih bagus ini deh kayaknya, nyaman banget."


"Sayang, Juan dinina bobok dulu, habis ini giliran aku yang dimanja," ucap Ray mendekati istrinya.


"Kayaknya masih anteng sama suster deh, kamu lucu banget sih Mas, udah gede masih pengen dimanja."


"Aku kangen banget, masa nggak ngerti," ucap pria itu menatap penuh arti.

__ADS_1


"Iya sayang, ngerti, silahkan Mas, kunjungi aku sepuasmu!"


__ADS_2