
Pagi harinya Rania terjaga, seperti biasa ia langsung bersih-bersih, ibadah, dan bersiap-siap untuk berangkat lebih awal dari jadwalnya. Sudah tidak kaget lagi, jadi hari demi hari terasa biasa dan kecemasan itu semakin berkurang menghadapi dunia perkoasan yang cukup menguras tenaga, pikiran, dan juga uang.
Rania terkesiap saat membuka pintu kost menemukan sosok pria yang sudah standby di depan kamar kostnya. Hari masih terlalu pagi untuk sebagian orang, dan orang itu sudah di sana dengan tangan menenteng makanan.
"Pagi, Ra!" sapa Jo yang membuat perempuan itu tak percaya. Setelah berminggu-minggu menghilang tanpa kabar, Jo muncul dengan senyuman manisnya.
"Jo, kamu ngapain ke sini?" tanya Rania bingung sendiri. Ia jelas merasa tidak nyaman.
"Kok ngapain? Ya jemput kamu lah, aku bawain makanan ini buat kamu sarapan, makan dulu ya, sini duduk sini deh!" Jo menarik Rania agar mengikutinya. Duduk di bangku memanjang di depan teras.
"Iya, maksud aku seharusnya nggak usah repot-repot ke sini juga Jo, aku mau kerja!" jawab Rania ketus.
"Iya aku tahu kamu masih marah sama aku, aku minta maaf, sayang, aku udah bikin kamu kecewa dan bingung, kamu tahu, aku benar-benar merenung beberapa minggu ini, dan aku tahu aku salah, jadi aku ingin memperbaikinya. Kamu mau 'kan menyambung kembali cinta kita, kita masih break 'kan? Jadi itu akhirnya perenungan kita telah berakhir," ucapnya enteng.
__ADS_1
Pria itu meraih tangan Rania, memohon dengan sangat dan penuh penyesalan. Namun, entah mengapa Rania sulit untuk mengiyakan, bahkan perempuan itu merasa tak ada lagi getar berbeda kalau bertemu dengannya.
Sepasang mata elang menyorotnya dari dalam mobilnya, menatap kesal, lalu menghilang begitu saja dengan rasa kecewa. Seperti dipermainkan untuk beberapa kali, dalam perasaan yang remuk, pria itu berlalu melajukan mobilnya.
"Maaf, Jo, sepertinya kita harus memperjelas hubungan ini, aku juga minta maaf selama menjalin hubungan denganmu banyak salah, dan mungkin menyakiti dirimu. Aku sudah memutuskan, dan kita berteman saja, aku ingin fokus dengan kuliah aku dulu, aku ingin fokus dengan pekerjaan aku dulu, aku harap kamu mau mengerti."
"Kenapa Ra? Apa ada orang lain? Aku sudah memutuskan meninggalkan Yumna, karena dari awal memang aku tidak pernah cinta, aku hanya kasihan dan menenangkan saja karena ibunya terus meminta. Aku masih sayang sama kamu, Ra, aku akan menunggu sampai hari baik itu tiba, tapi aku tidak mau putus!" ucap Jo tetap dengan pendiriannya.
"Jo, kamu harus ngerti perasaan perempuan itu sensitif, mungkin kamu menghampiri aku saat ini dan mengorbankan Yumna, asal kamu tahu, dia begitu mencintaimu, aku udah ikhlas kok kalau kamu dengannya. Aku malah berharap kalian bisa bahagia, Yumna mengerti kamu dan selalu ada, sementara kita, kita bahkan tidak ada banyak waktu hanya untuk sekedar bersama. Jadi, biarkan hubungan kita seperti ini, hanya sebatas teman," jelas Rania pada keputusannya.
"Oke, walaupun aku masih belum deal dengan keputusanmu, tak mengapa, tapi tolong jangan menolakku pagi ini aku antar kamu ke rumah sakit, dan jangan menolak sarapan dari aku. Ini menu sarapan sehat khusus buat kamu, aku tahu kamu pandai menghargai sesuatu dari orang lain, jadi tidak akan menolaknya bukan?"
Rania pun akhirnya mengiyakan, walaupun hatinya enggan dan sudah tidak ingin lagi membuka cerita ataupun kenangan. Rania berharap ini yang terakhir, karena sesungguhnya hati itu sekarang telah terisi orang lain. Rania menyadari itu, cinta telah hadir untuknya.
__ADS_1
"Makasih Jo," ucap Rania sembari melambai meninggalkan mobil Jo yang terparkir hingga mendekati lobi utama.
"Sama-sama, nanti pulang jam berapa? Aku jemput ya?"
"Enggak Jo, nggak usah, makasih! Kebetulan aku shift malam," tolak Rania lalu.
Perempuan itu lekas masuk dan bersiap follow up pasien pagi ini. Ia sudah memilih pasien yang ia kontrol setiap hari untuk ujian dirinya selanjutnya. Jadi, gadis itu sudah mulai memantau setiap hari. Seperti biasa setelah membuat SOAP ia akan menyerahkan pada konsulen pagi ini.
Rania mengetuk pintu ruangan pria itu sebagai sopan santun, terdengar Dokter Ray mempersilahkan masuk. Pria itu begitu dingin menyambutnya, padahal semalam begitu manis, malam mengajaknya menikah. Rania pun berpikir mungkin karena ini jam kerja jadi Rayyan bersikap serius.
"Maaf, Dok, ini preskas saya pagi ini," ujar Rania menyodorkan laporan miliknya.
Rayyan menerimanya tanpa mengomentari sedikitpun, biasanya ia akan mengoreksi dengan detail baru setelahnya membuat jadwal ujian selanjutnya. Tapi kali ini ia bahkan seperti tidak senang bertemu dengan Rania, selain ketus, pria itu juga sangat dingin dan menyebalkan.
__ADS_1
Sungguh Rania tidak tahan, karena itu cuma berdua saja di ruangan.
"Dok, kamu kenapa sih? Saya salah apa? Kenapa diemin aku kaya gini?" semprot Rania tak terima, merasa dipermainkan hatinya.