Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 125


__ADS_3

"Mas, jangan gitu dong, kamu pingin lihat aku sukses, 'kan? Sebulan itu nggak lama loh, jangan bikin aku galau."


Rania mencoba memberi pengertian. Ray hanya mengangguk dengan wajah sendu.


"Iya, pengen lah, cuma aku ngerasa berat aja kalau harus jauhan kaya gini. Ah, menyebalkan sekali. Kapan berangkat?" tanya pria itu galau sendiri.


"Lusa, cari tempat tinggal dulu, mungkin kost yang dekat aja," ujarnya menimbang-nimbang.


"Besok aku antar, aku akan kosongkan jadwal, bila perlu cuti sehari untuk menemanimu di sana."


"Segitunya, aku sih yes, tapi apa tidak pa-pa? Bukanya kamu sibuk ya?" tanya Rania mencoba memberi penjelasan.


"Tak ada kata sibuk untukmu, Sayang, hanya saja pekerjaan aku terikat dengan kepentingan orang lain, jadi semoga saja tidak bentrok dan ada waktunya. Agar aku juga tenang selama di sini kalau udah nganter sama memastikan tempat tinggalmu nyaman di sana."

__ADS_1


"Baiklah, suamiku yang teramat pengertian," ujar Rania tersenyum sumringah.


Pria itu terus menempel sepanjang malam, ikut membantu mengepak barang bawaan ke koper. Menyiapkan apa saja yang hendak dibawa, walaupun serasa sedih menyapa, tetapi nampaknya Ray tidak bisa berbuat banyak.


"Dek, aku mau kenangan yang paling tak terlupakan. Buat aku malam ini bahagia lahir batin," ucap Ray lirih.


"Kamu boleh memintanya sepuas kamu, Mas, aku tahu perpisahan ini akan membuat kita menahannya lama," ujar Rania tersenyum.


Malam itu begitu syahdu. Duo sejoli yang tengah memadu kasih, melimpahkan rasa sayang mereka lewat penyatuan tubuh mereka yang saling mengisi dan begitu menginginkan. Ray memperlakukan dengan sangat lembut, memberikan banyak tanda sayang di tubuhnya. Mengukir sejarah paling manis sebelum terpisah jarak dan waktu. Berharap ini hanya sebentar mereka lewati, nyatanya lima minggu itu menjadi bayangan yang mampu membuatnya bermuram seharian.


Perempuan itu juga masih sempat menyiapkan sarapan, susu, dan juga keperluan Ray pagi ini. Ia tidak manja seperti biasanya, lebih banyak meladeni suaminya seakan menjadi kenangan manis sebelum berpisah.


"Mas, aku harus ke kampus siang ini nemuin Pak Dana, mungkin akan kembali agak siang. Aku pakai supir atau diantar? Kamu sibuk?"

__ADS_1


"Hari ini masuk, absen, besok aku ambil cuti nemenin kamu sekalian. Jam berapa? Nggak bisa bareng aja gitu berangkatnya?"


"Boleh, kalau Mas nggak keberatan. Anterin ke kampus dulu, baru Mas berangkat," ujarnya penuh solusi. Seakan setiap menit tidak ingin melewatkan moment berdua selagi ada kesempatan sebelum ditinggal LDRan.


Rania sendiri siang ini mendatangi kampus untuk mendapatkan surat tugas dari dekan. Gadis itu bersama dengan teman koas lainnya menyempatkan untuk saling bertemu


Surat tugas dari fakultas, Rania dipindah tugaskan ke Klaten, kota nyempil dekat dengan Jogja ini akan menjadi saksi sejarah lima minggu ke depan untuk perempuan itu. Berhubung di RS Medika tidak ada bagian jiwanya, Rania dan stasemate lainya harus menikmati koas versi jalan-jalan. Jalan-jalan di sini maksudnya keluar dari rumah sakit induk. Tentu saja buat koas lagi, bukan buat ngecengin dokter-dokter muda. Kesempatan buat yang masih jomblo.


Rania bertiga dengan stasemate lainnya, alhamdulillah masih ada Jeje dan juga Asa bertemu dengan kelompok lain dari rumah sakit lain. Jadi setelah digabung, mereka total bertujuh akan bergotong royong bhineka tunggal ika untuk strolling around RSJ. Cewek semua, tentu sebuah penyayangan bagi mereka yang sedang berusaha mencari tambatan hati. Tapi cukup aman bagi Rania yang mempunyai suami, apalagi seperti Mas Ray yang posesif tingkat provinsi dan sudah mewanti-wanti dengan banyak wejangan.


Di Klaten, mereka bertiga tinggal di rumah singgah, seperti kost-kostsan tapi seatap dengan ibu kost dan pemiliknya. Hanya saja terpisah bangunan di sebelahnya. Rumah itu sengaja dipilih karena dekat dengan rumah sakit. Termasuk Jeje, dan Asa yang ngekos di sebelahnya. Jadi mereka nggak ngenes-ngenes amat karena sudah ada duo teman yang setia.


Ray mengantar sampai kota itu, bahkan pria itu yang merekomendasikan tempat tinggalnya karena menurutnya tempatnya nyaman dan paling dekat. Sayangnya pria itu tidak bisa menginap karena besok harus langsung bekerja. Hal yang paling sulit untuk Ray, mulai hari ini dan lima minggu ke depan, mungkin pria itu akan kesepian bak pria lajang tanpa belaian.

__ADS_1


"Udah sana pulang, nanti sampai rumah kemalaman. Jauh juga," usir Rania sembari mengelus pipinya lembut. Pria itu terlihat tidak bersemangat sama sekali.


"Baik-baik di sini, aku akan datang kalau ada waktu. Semangat belajar sayang, ah ... ini sulit untuk aku," ujar Ray sendu. Kembali menarik istrinya dalam pelukan. Mempertemukan napas mereka untuk yang kesekian kalinya.


__ADS_2