Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 45


__ADS_3

"Ya ampun ... mati aku," gumam Rania pucat sendiri. Belum apa-apa ia sudah merasa grogi dan tidak bersemangat menjalani hari.


Kalau boleh jujur, Rania ingin protes tetapi apalah daya. Siapa sih diri ini? Selain karena memang sedang tahap belajar, ya harus siap dengan semua konsekuensi yang ada di lapangan. Apapun yang terjadi, jalani aja dulu dan semoga keberuntungan membersamainya.


Sumpah demi apa harus mendapat dokter pembimbing dan penguji Dokter Rayyan, membayangkan saja sudah membuat ia ketar ketir, bikin kepala Rania pening. Ditambah sikap cueknya yang misterius seakan menyimpan sejuta dendam yang terselubung, entah mengapa Rania sudah down duluan menyikapi ini. Mendadak Rania merasa jengah dan mual, beneran mual. Bahkan sampai nggak nafsu makan dan langsung parnoan mikirin ini itu. Gastritis Rania kumat dan kayaknya asam lambung melimpah ruah karena faktor stres. Stres kenapa coba? Mikirin yang bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. You know what?


Sejujurnya, Rania takut. Oke lah, Rania mungkin pernah membuat kesalahan yang membuat pria itu begitu tidak menyukainya sehingga sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Tetapi, dengan segenap hati, gadis itu memohon semoga saja pria itu tidak menyangkut pautkan dengan hal pribadi di ranah pekerjaan.


Fakta lainnya adalah, Rania akhirnya ragu bahwa dirinya bisa bertahan sampai akhir. Salut untuk semua orang yang sudah dengan suksesnya menjadi dokter, karena bagi Rania semua proses itu tidak mudah. Apalagi saat ini dirinya sedang di fase— entahlah. Macam hidup segan, mati pun tak mau. Maju kena mundur salah alamat.


Yang pasti selamat datang di dunia yang sesungguhnya Rania. Harus tergopoh-gopoh berangkat pagi untuk visite pasien, tersenyum di saat tidak ingin tersenyum, bertele-tele saat rasanya ingin blak-blakan dan ngamuk aja, begadang buat ngerjain presentasi dan laporan, tunduk-tunduk dimarahin ama konsulen dan menahan emosi diri sendiri, tenggang rasa ama temen sekelompok, mementingkan kebersamaan dibanding kepentingan sendiri, pokoknya hal-hal yang rasanya nggak Rania banget. Selamat menjadi kasta terendah seantero rumah sakit, katanya, dan rasanya memang benar, hahaha. Di sini mental Rania bener-bener diuji.


"Well, mari kita coba dulu, siapa tahu witing tresno jalaran soko kulino?" batin Rania menyemangati diri sendiri. Maksudnya dengan stase bedah, bukan dengan dokternya.


Hari pertama, Rania bersama teman sekelomloknya mendatangi Gedung Instalansi Bedah Sentral. Seperti stase mayor yang lainnya, di stase bedah juga Rania akan menghabiskan kurang lebih 10 minggu, dan pastinya itu sesuatu yang amat membuat gadis itu susah napas, gerak, bahkan mikir, sebab ia akan sering bertemu, bahkan mungkin setiap hari dengan Dokter Rayyan, dan jujur itu sudah menjadi beban tersendiri yang rasanya lumayan berat.


"Gaes ... gue kok belum apa-apa udah deg degan ya, apalagi dokternya ganteng-ganteng banget," celetuk Jeje mendrama.

__ADS_1


"Gue juga ganteng kale nggak usah lebay," cibir Kenzo kesal.


"Tapi yang ini tuh lebih keren, iya nggak Sa, Dokter Rayyan, parah banget gantengnya itu loh ya, bikin adem pasti yang lihatnya. Bakalan betah nih di koas bedah. Semoga nggak galak-galak amat ya?" cerocos Jeje begitu excited.


"Disaster, disaster!" ucap Tama jengah.


"Kenapa Ra, tegang gitu, belum juga nemuin pasien yang berdarah-darah, siap ikut operasi dan jahit menjahit, kamu udah pucet," seloroh Tama sembari mengusap kepalanya dengan gemas. Rania hanya tersenyum tipis tanpa minat, menghindari tangan Tama yang lagi-lagi bergerak memberantak pucuk kepalanya.


"Tama! Rese' banget sih, berantakan bambang!" pekik Rania kesal.


"Ghem!"


"Pagi Dok!" sapa mereka kompak, terkecuali Rania yang nampak tertegun mendapati Rayyan yang tersenyum kalem melewatinya.


"Ya ampun ... gue beneran deg degan! Tuh orang lempeng amat, mentang- mentang udah mau married apa ya, jadi sok nggak kenal," batin Rania mencibir. Rania pun bersikap acuh layaknya koas yang lainnya.


Ketika masuk ruang koas, beberapa senior nampak sudah ada di dalam. Satu persatu mengucapkan salam dan saling beramah tamah. Nampak Dokter Rayyan juga sudah duduk ada di sana, namun lebih kepada mengamati saja, menatapnya dingin. Mereka diskusi pembagian tugas di stase bedah, serta pembekalan singkat alur siklus stase yang dipimpin senior yang lainnya.

__ADS_1


Sepanjang pengamatan Rayyan dan Rania lebih sedikit berinteraksi dan mereka berpisah sementara, Rayyan ke ruangannya yang ada di stase bedah, sementara Rania langsung ke IGD.


"Rania!" panggil kakak senior yang menjelaskan pembekalan tadi. Di stase ini Rania yang ditunjuk menjadi ketua tim junior.


"Iya Dok!" Gadis itu pun menghampiri dengan seksama.


"Kamu dipanggil ke ruangan Dokter Rayyan," ujarnya memberi perintah.


"Sekarang Dok?" tanya Rania bingung.


"Yups, saran saya sih cepet kalau nggak pingin kena semprot," ujarnya mengingatkan.


"Emang Dokter Rayyan galak?" tanyanya sok akrab.


"Nanti kamu juga tahu sendiri," ujarnya lalu.


"Mati aku, kali ini gue disuruh ngapain coba?" batin Rania menerka.

__ADS_1


Rania mengetuk pintu ruangan Dokter Rayyan terlebih dahulu dengan perasaan waswas.


"Permisi Dok, panggil saya?" sapa Rania membuka pintu ruangan.


__ADS_2