
Kedua napas mereka saling memburu, Ray benar-benar kalap bagai musafir yang gersang di padang pasir. Membuat perempuan itu terengah hampir kehabisan napas.
"Mas, jangan di sini," tegur Rania saat Ray mencoba menanggalkan kancing pakaiannya.
"Aku kangen banget, Dek, maaf," ujar pria itu tak sabaran.
"Aku nggak nyaman lah, masa di mobil yang benar saja. Ya ampun ... leherku merah semua," keluh Rania luluh lantah.
Suaminya benar-benar nakal, sekalinya mendapat signal bagai bluetooth yang mencari sensor koneksi pasangan. Ray hanya tersenyum menimpali gerutuan istrinya. Pria itu langsung melajukan mobilnya begitu saja, bukan rumah yang mereka tuju, bukan juga rumah eyang seperti saran Rania. Melainkan sebuah hotel yang bersiap menyambutnya.
"Mas, kita ke sini? Di rumah kan bisa?" kata Rania tak percaya.
"Kejauhan sampai rumah, kita perlu suasana baru, ayo sayang," ujar Ray tak sabaran.
Pria itu memesan layanan kamar lalu menarik istrinya yang masih merasa aneh.
"Mas, kenapa cepet-cepet sih, pelan aja nanti aku kasih kok," ujar Rania gemas.
"Nanti mood kamu berubah, aku beneran udah pusing banget nahan ini, aku takut kalau ditunda nanti kamu akan balik nggak suka lagi dideketin," ujar Ray jujur.
Ray seperti tersiksa menahan dahaga hampir dua bulan ini, setiap kali mau mencoba selalu gagal dan berakhir nelangsa. Mumpung mood Rania sedang benar-benar yes, Rayyan tak mau menundanya lagi.
Ray menutup pintu dengan cepat, pria itu langsung menubruk Rania tanpa aba-aba. Kembali menyatukan napas mereka dengan penuh minat dan hasrat.
"Mas, aku mau bersih-bersih dulu, bentar doang. Please ....!" rengek Rania mendorong dada Ray yang siap menerkam.
"Jangan lama-lama, aku udah mandi sebelum jemput kamu. Please ... jangan berubah moodnya, aku bisa gila kalau udah gini nggak finish."
__ADS_1
Ray menjatuhkan bobot tubuhnya di ranjang, sementara Rania pergi ke kamar mandi.
"Dek! Ngapain sih, lama banget!" teriak Ray tak sabaran.
Pintu dibuka dengan Rania menyembul hanya memakai bathrobe saja. Seketika Ray berbinar dan langsung mengangkat tubuh istrinya ke ranjang.
"Kenapa? Jangan bilang kamu nggak bisa?" tanya Ray gelisah.
"Kamu nyeremin, aku takut kalau gini nanti kamu malah nggak bisa main kalem."
"Astaghfirullah ... aku kangen, tapi aku juga sayang, jadi nggak mungkin nyakitin kamu atau anak kita. Beri tahu aku kalau merasa tidak nyaman."
"Pelan-pelan aja," ujar Rania sedikit waswas.
"Oke sayang, request diterima. Sekarang izin buka ya?" pinta pria itu dengan sorot netra penuh gairah.
Rania mengangguk, ia hanya mampu terpejam menikmati setiap jengkal sentuhan napasnya. Ray benar-benar pandai membuatnya melayang. Suara-suara merdu Rania yang begitu indah terdengar versi Ray semakin membuat pria itu semakin menggila menyelesaikan misinya.
"Aku pengen gila-gilaan, tapi nggak mungkin juga mengingat ada anak kita di sini," ujar Ray sembari mengelap keringat di dahi kekasih hatinya.
"Capek Mas," keluh Rania tepar di atas ranjang besar. Ray terus menciuminya tanpa bosan. Pria itu merasakan lega yang luar biasa setelah dua purnama bagai jomblo kurang belaian.
"Kalau lagi boleh?" pintanya tanpa ragu.
"Kayaknya jangan deh, besok mungkin bisa."
"Oke, semoga ngidam kamu yang aneh itu dan cukup menyiksaku tidak muncul lagi. Aku hampir stress menahan ini," ujar Ray jujur.
__ADS_1
"Maaf Mas, membuatmu menahan apa yang seharusnya menjadi hak kamu."
"Sebagai gantinya, hari ini kita di kamar saja ya, ke rumah eyang besok saja," ujar Ray berniat mengurung istrinya seharian.
"Ish ... ada Papa Wira dan juga Mama di sana, sepertinya mau menentukan acara resepsi pernikahan kita.
"Iya kah? Tapi aku masih kangen pengen buka-bukaan."
"Nanti malam deh, boleh kita ulangi lagi. Kamu kenapa jadi gini."
"Normal sayang, aku bahkan nahan hasrat ini agar tersalurkan di tempat yang halal. Mending kalau masih mau dideketin walau nggak bisa dipakai. Bisa tetep buat aku melayang dengan cara yang lain, lah ini apa baru mau nempel kamu udah muntah-muntah sampai pingsan siapa yang nggak takut coba."
Ray mencurahkan risalah hatinya selama hampir dua purnama. Alhamdulillah sore ini pecah telor juga bisa menyirami ladang pahalanya. Pria itu pun berbinar senang melenggang chek out dari hotel.
"Dek, beneran ya nanti lagi," ujar pria itu sembari berjalan merangkul istrinya yang cukup lambat.
Andai tidak sedang hamil, Ray pasti membuat sesi panas yang lebih gila. Tapi Rania sudah memperingatkan untuk smooth saja. Hasilnya pun tetap sama, Rania berjalan bagai siput mau balapan.
"Jadi kita ke rumah eyang nih, oke deh. Bawa apa ya mantu Mama Al biar makin disayang."
"Nggak usah bawa apa-apa, cukup kamu bawa cinta dan kasih sayang saja untuk aku dan keluarga. Papa dan Mama Inggit udah seneng."
"Itu sih pasti Sayang, tapi kalau tangan kosong berasa lucu. Ke rumah eyang loh ini."
"Ya udah kita beliin apa ya, makanan buat dibawa ke sana."
"Cari dulu sampil jalan," usul Ray sembari menstater mobilnya.
__ADS_1
Rania sejengkal lebih dekat, perempuan itu duduk nyempil di dekat gerigi mobil lalu menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. Membuat Ray senyum-senyum tidak jelas. Hatinya kegirangan begitu mendapati Rania yang malah nempel-nempel ingin bermanja.
Satu tangan kiri Ray terulur mengusap-usap lembut kepala Rania yang menyender padanya. Tak ada sekat dan jarak lagi yang tercipta diantara keduanya.